Hafez Achda : Sukses Memelopori Buku Pop-Up di Indonesia

Hafez Achda, Founder & CEO Studio Impian (Foto: Stevy Widia/Youngster.id)

YOUNGSTER.id - Wajah singa itu begitu dekat. Mulutnya menganga, memamerkan keempat taring tajamnya. Si Raja Rimba itu tampak nyata, meski dia muncul di halaman dalam bentuk pop-up di buku berjudul Big Animal karya Hafez Achda.

Apa itu pop-up? Pop-up, merupakan salah satu bidang kreatif dari paper engineering yang di Indonesia kini semakin digemari dan sedang berkembang. Pengertian sederhananya, pop up adalah kartu dan buku yang bisa menampilkan gambar dalam bentuk tiga dimensi atau timbul.

Banyak buku pop-up yang beredar di pasaran di Indonesia. Hanya saja, masih didominasi oleh karya impor. Karya pop-up anak negeri sejauh ini lebih mendominasi pada kegiatan di kalangan komunitas (workshop) atau adanya kepentingan tertentu. Misalnya karya pop-up untuk buku tahunan sekolah, atau untuk pesanan tertentu.

Melihat peluang pasar yang masih terbuka lebar, Hafez Achda mendirikan Studio Impian. Usaha ini bisa dibilang adalah publisher sekaligus produsen buku pop up pertama di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

“Aku awalnya memang melukis dan membuat patung. Namun kemudian muncul ide untuk mempertemukan seni dua dimensi dan tiga dimensi kayaknya asyik. Aku cari literatur, akhirnya menemukan medium yang asyik yaitu pop up ini. Dan sejak 2011 aku fokus di sini,” ungkap Hafez kepada Youngster.id.

Lalu, Hafez bersama beberapa temannya mendirikan Impian Studio di Yogyakarta. Ini adalah sebuah studio kreatif yang bergerak mendayagunakan kertas sebagi media ekspresinya. Salah satunya dengan menerbitkan buku pop up. Selain Big Animal, karya buku lainnya ada:  Laut Rumahku, Wiu Wiu Wiu, dan Indonesian Archie Culture.

“Buku pop up ini manipulasi objek. Bisa kelihatan bergerak, sesuai karakter tokohnya. Misalnya bisa membuka mulut. Ikan bisa bergerak seperti berenang. Terutama Anak-anak yang efek wow-nya dapat. Jadi buku pop up itu kalau stay, diam, dia tak jadi apa-apa. Harus ada efeknya. Oleh karena itu, buku aku ini adalah buku bermain, bukan buku pelajaran. Ini buku bermain bersama,” ungkapnya.

Konsep buku ini ternyata menarik minat masyarakat luas. Kini setiap bulan Studio Impian memproduksi sekitar 1.500 – 2.000 buku dengan range harga Rp 135 ribu – Rp 1,1 juta. Ini merupakan prospek bisnis yang menarik. Apalagi, menurut Hafez, publishing buku pop up di Indonesia sangatlah terbatas. Pasalnya, para pelaku yang disebut paper engineer ini juga masih sedikit.

“Di dunia ini kurang dari 3000 orang yang jadi paper engineer. Bahkan, publishing buku pop up ini di Asia Tenggara belum banyak.  Jadi kami bisa dibilang salah satu pionir,” klaim Hafez bangga.

Bahkan, produk Impian Studio bisa bersaing dengan karya para seniman pop-up asing, seperti Amerika, Perancis, dan Inggris. Produk Studio Impian juga berhasil masuk Finalis The Big Star Indonesia, kompetisi creativepreneur dari Blibli.com.

 

Belajar Otodidak

Hafez mengaku, dia mengenal pop up book ini secara otodidak. Sejak kecil pria kelahiran Temanggung ini menyukai permainan yang prosesnya merakit dan gemar berkreasi dengan kertas. Dengan latar belakang belajar seni rupa di Jogjakarta membuatnya semakin mencintai kertas sebagai bahan dasar karyanya, mulai dari melukis dengan media kertas, desainer pop up dan juga menjadi desainer paper craft.

“Saya tertarik dengan pop up, dan kemudian mencari dan belajar sendiri secara otodidak,” ujarnya. Dia percaya kertas adalah media yang paling fleksibel, karena kertas bisa menjadi apa saja: bisa dilipat, digunting, digambar, dibuat padat dan berbagai bentuk lainnya. “Ini bahan bakunya murah, mudah dibentuk, dan mengasyikkan,” katanya lagi.

Keterampilan ini awalnya dia buat dalam bentuk kartu ucapan pop up. “Dulu sempat berjualan kartu ucapan pop-up, sebelum mulai membuat buku. Tapi ternyata pasarnya kurang ramai,” ujarnya.

Toh, Hafez tak patah arang. Menurut Hafez, ada satu kebiasaan unik ketika orang-orang membuka kartu pop-up. Gambar yang timbul dari halaman memunculkan penasaran. Saking penasarannya, mereka akan memutar kartu atau buku, ke kiri dan kanan sambil bertanya “kenapa gambarnya bisa berdiri?”

Pertanyaan itulah yang membuat pria kelahiran 11 Juni 1985 ini merasa senang. Dia menilai pertanyaan itu adalah salah satu bentuk ketertarikan seseorang terhadap karyanya. Itulah yang menjadi salah satu alasan Hafez untuk semakin serius dan memutuskan membangun publishing buku pop up pada tahun 2015.

“Awalnya aku tidak berorientasi membuat buku sebagai publishing. Namun ada teman memberi saran untuk dibuat dalam bentuk buku kayaknya keren. Akhirnya aku coba buat buku yang bertema. Dan memang keren,” ujarnya sambil tersenyum.

Buku pop art pertama yang dibuat Hafez adalah “Indonesian Archie Culture”. Buku ini adalah seri dari rumah adat yang ada di seluruh Indonesia. Buku ini butuh teknik yang rumit. Tak heran jika buku ini dihargai Rp 1,1 juta. “Begitu di-publish, langsung ada yang memesan dan sekarang sudah habis terjual,” klaimnya bangga.

Lewat workshop dia memperkenalkan pop-up. “Kunci pop-up itu satu, yang penting bisa dibuka dan ditutup,” ujarnya. Hafez dan istrinya Sulistyawati melihat bahwa pasar buku pop up untuk anak-anak terbuka lebar. “Pasarnya bagus. Ternyata peminatnya banyak,” ujarnya. Lahirlah karya pertama untuk anak-anak, “Big Animal Pop Up Book”.

“Awalnya buku itu jual Rp 60 ribu dan ndak laku. Mereka bilang kemahalan. Akhirnya aku roadshow ke beberapa kota dan memutuskan untuk bikin karya lagi. Ternyata kini buku itu di remake, lalu dijual dengan harga Rp 140 ribu dan laris,” katanya sambil tertawa.

Oleh karena itu, sejak 2015, Studio Impian lebih banyak  memproduksi buku anak. Apalagi permintaannya terus meningkat, sehingga mereka harus memproduksi sekitar 1.500 – 2.000 buku setiap bulan.

 

Hafez Achda dan istrinya Yuliawati, sukses mengembangkan bisnis penerbitan buku pop-up (Foto: Stevy Widia/Youngster.id)

 

Mengajak Janda

Hafez mengakui usaha ini tidak memiliki banyak hambatan. “Bahan bakunya murah. Kertas dibuat prototype, aku buat sendiri. Aku workshop dengan alat sederhana dan mudah didapat. Sangat terjangkau. Namun orang yang mau belajarnya yang susah,” ungkapnya.

Akhirnya Hafez memutuskan untuk mengajak tetangga-tetangga dari kampung halamannya di Temanggung, Jawa Tengah. Menariknya mereka yang dipilih adalah ibu-ibu yang sudah bertatus janda. “Membentuk tim perakitan itu susah, karena harus orang yang telaten. Harus nyenuk, duduk diam mengerjakan itu terus. Oleh karena itu, aku prioritas menerima para ibu janda yang sudah berumur. Karena mereka umumnya tidak punya pekerjaan tetap. Jadi sambil bekerja mereka bisa tetap mengurus rumah,” kata Hafez menerangkan.

Tugas mereka adalah merakit gambar hingga menjadi kartu. Ada sembilan orang yang membantunya. Hasil rakitan itu, selanjutnya dikirim ke studio untuk disusun menjadi buku cerita. Dengan proses pengerjaan manual itu, butuh waktu satu minggu untuk menghasilkan satu set buku. “Ini memang masih menjadi kendala, namun bisa diatasi karena proses koreksi tetap ada di kami,” ujarnya.

Kerumitan pada komponen rakitan kertas, peran pisau pond yang lebih banyakhingga peran kehati-hatian dan ketelatenan craftmanship yang dibutuhkan pada saat finishing, menjadi faktor utama tingginya harga produksi dan harga jual dari pop-up book.

Meski demikian, pangsa pasar buku pop up ini terbilang tinggi. Dalam sebulan Studio Impian dapat memproduksi 1.200 hingga 2.000 buku. Dan, hampir semua laku terjual. Bahkan, kini mereka tengah mempersiapkan produksi dengan teks berbahasa Melayu untuk pangsa pasar Malaysia. “Kebetulan ada teman sesama paper engineer di sana yang memperkenalkan karya kami. Rupanya di sana “kering” ndak ada buku pop up. Kami coba masuk ke sana, ternyata responnya bagus,” ungkapnya.

Hafez mengaku lewat usaha ini mereka bisa mengantongi omzet Rp 150 juta per bulan. Sebenarnya, alumni Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta ini tidak menyangka, usaha yang dia bangun bersama sang istri Yuliawati ini akan berkembang pesat.

“Kami tidak punya apa-apa, cuma punya impian thok. Modal nol. Hanya dari keahlian dan mimpi. Yang modalin tidak ada. Makanya nama Impian Studio ini dipilih biar impianku bisa terwujud nyata. Itu saja, sederhana,” ungkap Hafez.

Dia mengaku apa yang diraih sekarang perlahan menjadi gambaran impian yang dia harapkan. “Masih banyak yang belum terwujud, namun kami akan terus berusaha,” pungkasnya.

 

======================================

Hafez Achda

  • Tempat Tanggal Lahir : Temanggung, 11 Juni 1985
  • Pendidikan Terakhir : Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta
  • Mulai Usaha : 2011
  • Nama Usaha : Studio Impian
  • Produk : Pop Up Book
  • Omzet produksi : Rp 150 juta/bulan.

Prestasi            : Finalis The Big Start Indonesia, Blibli.com 2017

======================================

 

STEVY WIDIA