Salsabilla Alisyahputri : Sendiri Mengembangkan Usaha Kreatif

Salsabilla Alisyahputri, Founder & CEO PopIro (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

youngster.id - Belakangan ini banyak anak muda sukses mengembangkan kreatifitas mereka menjadi produk yang unik serta bernilai jual tinggi. Tak heran jika pemerintah percaya ekonomi kreatif kelak menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.

Faktanya, 1 dari 100 orang di Indonesia bekerja di industri kreatif, dan industri ini menyerap 17,4% tenaga kerja, yang bertambah setiap tahunnya (pendataan BEKRAF per-2015). Dari angka ini, ekonomi kreatif diprediksi tumbuh setidaknya 10% tiap tahun. Dimana kontribusi ekonomi kreatif pada 2015 untuk produk domestik bruto adalah Rp 922,58 triliun dari Rp 852,56 triliun pada tahun sebelumnya. Hingga tahun 2018, ditargetkan kontribusi mencapai lebih dari Rp 1000 triliun.

Lapangan kerja yang diciptakan pun mampu menyediakan pekerjaan untuk 17,2 juta orang di tahun 2017, yang mengalami kenaikan dari 16,9 juta di tahun 2016. Tak heran jika, industri kreatif menjadi poros ekonomi baru.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mencatat pelaku ekonomi kreatif di Tanah Air terus tumbuh. Pada tahun 2013, jumlah pelaku ekraf sebanyak 5,82 juta usaha, kemudian meningkat menjadi 6,74 juta di tahun 2014. Keadaan ini terus berlanjut, pada tahun 2017 pelaku ekraf diperkirakan sebanyak 9,43 juta usaha. Dan terlihat sebagian besar pelakunya adalah anak-anak muda.

Industri kreatif memang menarik minat banyak anak muda. Banyak dari mereka dengan mengandalkan ide, serta keberanian berusaha berhasil melahirkan berbagai produk dan bisnis yang menarik. Hal ini juga didukung dengan perkembangan teknologi yang menghadirkan media pemasaran digital, sehingga melahirkan banyak wirausahawan muda.

Salah satunya adalah Salsabilla Alisyahputri, pendiri sekaligus pemilik dari PopIro. Ini adalah aneka produk seperti t-shirt, tas, aksesori hingga stationery yang unik sekaligus berdaya jual tinggi.

“Semua produk yang ada di PopIro adalah hasil desain saya sendiri mulai, dari t-shirt, tempat pensil dan tas dan macam-macam lagi. Desain ini berdasarkan dari imajinasi saya, lalu saya desain dan produksi,” ucap Salsabila kepada youngster.id saat ditemui pada pameran produk kreatif yang digelar Bank Permata, di Hotel Ritz Carlton, SCBD Jakarta.

Mahasiwi semester V, jurusan Design Politeknik Negeri Jakarta ini rupanya melihat peluang dari keahlian yang dimilikinya.

 

Salsa selalu menerapkan strategi produksi barang secara terbatas, sehingga barang PopIro selalu sold out (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Tidak Ingin Kerja

Baca juga :   UGM Juara Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional

Semangat wirausaha gadis yang akrab disapa Salsa ini ternyata memang sudah terpupuk dari awal. Dia sudah memikirkan untuk membuka usaha ini sejak mulai kuliah.

“Saya sendiri memang tidak ingin bekerja (kantor.red). Saya ingin jadi wirausaha. Makanya sejak kuliah saya sudah memikirkan untuk buka usaha apa. Setelah kuliah jurusan design saya mencoba merancang berbagai imajinasi menjadi produk fashion seperti t-shirt dan tas, dan ternyata banyak teman-teman yang suka,” katanya.

Melihat hal itu, Salsa memutuskan untuk serius memproduksi produk. Dengan modal sekitar Rp 10 juta, dia mencari bahan  untuk diolah. “Untuk kaos atau t-shirt saya gunakan standar pakai bahan katun combat yang 30s. Kalau untuk pernak-pernik seperti tas, tempat pensil saya dominan menggunakan kanvas. Mungkin kanvas menjadi pembeda antara produk saya dengan yang lainnya,” ungkap Salsa.

Dia pun membuat web dan media sosial untuk memasarkan produk yang diberi label PopIro pada Mareet 2018. “PopIro berasal dari kata Pop dari populer dan Iro yang bahasa Jepang artinya warna-warna. Saya gabungkan jadi PopIro untuk menunjukkan bahwa produk saya ini adalah produk yang ngepop dan konsisten pada warna-warna,” jelas Salsa.

Menariknya lagi, dalam pembuatan produk, limited edition selalu diterapkan Salsa di setiap produknya. Dengan begitu, ia tak harus banyak membuat satu desain yang sama dalam jumlah besar.

“Biasanya saya memang nggak banyak dalam membuat desain. Saya selalu membuat limited edition untuk satu produknya. Paling hanya satu lusin, dan memang tujuannya untuk ngetes pasar. Tapi kalau memang sudah sold out ternyata pasar masih mau, saya bikin polling dulu. Kalau pasar masih mau, baru saya produksi lagi. Biasanya kalau sold out waktunya kurang dari sebulan. Terus saya mesti produksi lagi, dan waktu untuk produksinya bisa makan waktu 2 sampai 3 minggu,” paparnya.

Produk PopIro ditawarkan Ira dengan harga mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 275 ribu. Dan semua dibuat dengan edisi terbatas. Hal itu membuat produk PopIro semakin diminati. Salsa mengaku setiap bulan menargetkan ada desain untuk produk baru yang dia produksi.

Meski demikian, gadis kelahiran Jakarta ini mengaku masih terkendala waktu. Pasalnya semua itu dia kerjakan sendira di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa. “Jujur aja, saya belum ada tim atau karyawan. Makanya di sini saya melakukannya sendiri mulai dari pencarian bahan, foto produk, mendesign, promosi ke medsos sampai packing,” ungkapnya.

Baca juga :   Deklarasi Kehendak RI-Australia Untuk Ekonomi Kreatif

Oleh karena itu, dia selalu menjelaskan kepada para pelanggannya bahwa produk yang dia buat ini dikerjakan dalam kurun waktu tertentu. “Untuk penerimaan order, yang masuk saya tampung dulu karena hari biasa saya harus kuliah. Jadi begitu libur saya mengerjakan dan juga mengirimkan pesanan. Kadang kalau di hari biasa selesai pulang kuliah ada orderan saya langsung packing. Tetapi itu tidak bisa setiap hari,” aku Salsa.

Menurut Salsa, produk PopIro diproduksi dalam kurun waktu 2-3 minggu dari waktu pemesanan. “Dalam sebulan pasti ada yang sold out, 2 sampai 3 item pasti ada yang sold out. Biasanya tas atau funny pack, tas pinggang sama tshirt sih,” ujarnya.

 

Salsabilla Alisyahputri mewujudkan keinginannya menjadi wirausaha dengan mengembangkan PopIro, yang semuanya dikerjakan sendiri (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Gandeng Influencer

Salsa menyadari sebagai wirausaha kreatif persaingan terbilang ketat. Tetapi dia tidak ingin berkecil hati. Bahkan dengan modal dan sumber daya yang terbatas dia berusaha untuk meningkatkan produk.

Untuk mengatasi hal itu, lebih lanjut ia mengatakan dengan inovasi baru turut memancing dirinya menciptakan hal yang baru ketika dirinya kembali ingin meraih pasar.

“Ada memang brand-brand baru yang menjual lebih murah, bahkan pernah saya menemukan satu produk lain dan miripnya bisa 90%. Tapi karena produk saya sudah sold out duluan, jadi saya merasa dan cara mengatasi persaingan seperti kepancing untuk membuat sesuatu yang berbeda. Seperti ada yang mengajak saya harus memenangkan pasar lagi,” kata Salsa penuh semangat.

Kini dia bekerjasa dengan vendor bahan baku dari Bandung dan Jakarta, sehingga dapat konsisten memproduksi barang dalam jumlah satu lusin. Tetapi tetap dengan konsep edisi terbatas. Alhasil produk PopIro terus mendapatkan pemesanan, bahkan hingga ke mancanegara seperti Singapura, Malaysia bahkan Afrika.

“Untuk omsetnya memang berbeda-beda dan setiap bulan itu selalu nggak bisa dipastikan. Omset itu bisa mencapai Rp 5 juta ke atas. Bahkan bisa meningkat tergantung barang dan moment bahkan sampai Rp 9 juta per bulan itu pernah,” bebernya.

Anak pertama dari dua bersaudara ini menyadari dia harus dapat memanfaatkan jejaring online agar produknya dapat semakin dikenal. “Selama ini, pemasaran yang saya lakukan hanya melalui media sosial seperti Instagram dan facebook. Tapi cara itu sangat efektif. Apalagi, produk yang saya tawarkan ini, memang diperuntukkan untuk target market-nya kalangan remaja. Sasaran saya anak SMA ke atas, dan yang memang banyak membeli adalah anak-anak remaja,” terangnya

Baca juga :   Roadshow The Big Start Indonesia Berakhir di Jakarta

Baru-baru ini Salsa berhasil menggandeng influencer fashion Diana Rekasari untuk berkolaborasi dan membuat produknya semakin diminati masyarakat luas.

“Kemarin Diana Rekasari, dia salah satu influencer fashion mengajak kolaborasi. Kami bikin funny pack, khusus untuk kolaborasi dan kemarin langsung sold out langsung 2 batch. Dan kedua bikin free order langsung sold out lagi,” katanya dengan gembira.

Meski terbilang baru mulai merintis usaha namun Salsa semakin yakin bahwa langkah dia terjun untuk menekuni wirausaha adalah pilihan yang tepat. “Saya melihat bahwa produk yang saya buat ini mendapat tempat di pasar. Oleh karena itu, saya ingin fokus di PopIro. Karena saya ingin dapat memperbesar produksi, bahkan dapat memasarkan hingga ke Asia Tenggara,” ucapnya.

Salsa berharap dapat segera menyelesaikan kuliahnya sehingga dapat lebih fokus pada bisnis rintisannya ini. “Saya yakin usaha yang saya bangun ini dapat berkembang. Sekarang saya masih sendiri, saya owner, fotograger, admin web, packing, shipping. Pokoknya semua saya kerjakan sendiri. Nanti jika ini semakin besar saya akan dapat memperkejakan lebih banyak tenaga kerja dan memasarkan ke seluruh dunia,” pungkasnya penuh harap.

 

====================================

Salsabilla Alisyahputri

  • Tempat Tanggal Lahir : Jakarta 15 Juni 1998
  • Pendidikan                : Semester  V, Design Gravis – Politehnik Negeri Jakarta
  • Mulai Usaha              : 2018
  • Nama Usaha             : PopIro
  • Jabatan                    : Founder & CEO
  • Produk                     : Tas, T-Shirt, aksesori, stationary
  • Modal Awal               : sekitar Rp 10 juta

=======================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor: Stevy Widia