Sanjung Sari Pursie : Dari Hobi Jadi Bisnis Berkelanjutan

Sanjung Sari Pursie

Sanjung Sari Pursie, Founder & CEO Sancraft (Foto: Kompas.com)

youngster.id - Kreativitas kerap timbul dari perpaduan ilmu, pengalaman dan hobi. Ternyata, karya kreatif yang ditekuni bisa menjadi sumber usaha dan bisnis berkelanjutan. Bahkan, meski diterpa badai silih berganti, bisnis yang dijalani dengan senang hati bisa terus bertahan dan berkelanjutan.

Bisnis berbasis kreativitas terus bertumbuh di era digital ini. Ada banyak peluang bisnis tercipta khususnya dari hal-hal yang sebelumnya tidak pernah diduga. Para pelaku usaha kreatif ini merupakan bagian dari usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang berperan penting dalam perekonomian Indonesia karena mampu bertahan selama masa pandemi Covid-19.

Data dari Kemenkop dan UMKM menyebutkan, jumlah pelaku UMKM terus bertambah yang mana saat ini sudah mencapai 64,2 juta dengan kontribusi hingga 61,07% terhadap produk domestik bruto (PDB) sehingga UMKM juga mampu menyerap tenaga kerja yang besar.

Tahun 2022 jadi angin segar bagi industri kreatif. Salah satu yang menarik adalah produk kriya atau kerajinan secara konsisten merupakan top 3 terbesar PDB ekonomi kreatif nasional menyumbang sebesar 14%-15% setelah kuliner dan fesyen. Sektor tersebut dinilai memiliki potensi cukup bagus kedepannya. Sebab bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini yang mayoritas milenial menjadi salah satu pendongkrak tumbuhnya industri tersebut.

Poteni ini juga yang membuat Sanjung Sari Pursie berhasil mempertahankan bisnis Sancraft yang telah dibangunnya sejak 2010. Pandemi menjadi tantangan Sanjung dalam berbisnis karena omzet dari gerai offline turun drastis hingga 50%.

“Sancraft berhasil bertahan di tengah pandemic, bahkan mampu menjaring lebih banyak pelanggan dari seluruh penjuru Indonesia,” ujar wanita yang akrab disapa Sari baru-baru ini di Jakarta.

Sancraft menghasilkan produk seperti totebag, scarf, stiker, pouch, cushion, notebook, plushie hingga masker. Berkat kreativitas Sari, produk ini berhasil tampil di sejumlah departemen store kenamaan dan juga e-commerce utama di Indonesia. Bahkan, produk ini membawa Sari meraih prestasi dan penghargaan di beberapa kompetisi bisnis.

 

Hobi dan Passion

Menurut Sari, bisnis ini berawal dari hobi dan passion dia akan gambar. Hal ini yang membawanya masuk ke jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta.  Saat melaksanakan kuliah kerja lapangannya sebagai mahasiswa semester akhir di Yogyakarta, Sari melihat seniman-seniman di Jalan Malioboro melukis di atas tote bag. Sari pun terinspirasi dan berniat membuat karya serupa sepulang dari Yogya.

“Pada saat itu saya mendapati bahwa hobi dan passion saya dapat dituangkan dalam bentuk produk agar orang dapat mengapresisasi dengan mudah dan bermanfaat untuk orang banyak.” ucapnya.

Sejak tahun 2010 itu, Sari mewujudkan ide membuat tote bag yang dia lukis berbagai ilustrasi. Dia meminta bantuan sang ibu yang menjahitkan tote bag itu. Lalu Sari menghias tas tersebut dengan gambar ilustrasi. Karya ini ternyata mendapat respon positif dari teman-temannya. Hal itu membuat Sari semangat untuk mulai memproduksi dan menjual tote bag dengan lukisan kreasinya. Dengan modal Rp500 ribu, Sari pun mulai bisnis lewat akun Facebook pribadi. “Awalnya enggak mikirin untung rugi, yang penting bisa berkarya dan diapresiasi,” ujarnya.

Namun usaha ini baru serius ditekuni pada tahun 2012. Saat itu, Sari memutuskan untuk memberi brand para produknya dengan Sancraft. “Saya akhirnya pilih nama itu, karena san diambil dari nama saya sendiri dan craft atau kerajinan. Jadi ini karya dari aku yang dituangkan dalam bentuk kerajinan,” jelas Sari.

Ciri khas desain Sancraft adalah pada ilustrasi yang ditampilkan berdasarkan ikon-ikon yang sangat “Indonesia Banget” serta unik. Seperti bajaj, metromini, atau ondel-ondel.

“Ide saya diambil dari kenyataan sekitar melalui keunikan di kota-kota Indonesia. Contoh yang unik yaitu bantal berbentuk bus Kopaja. Saya ingin mengenalkan tema Indonesia dengan lebih fun,” kata Sari.

Dengan keunikan desain, produk Sancraft akhirnya makin dikenal dan disukai masyarakat. Sari pun mulai memperbesar kapasitas produksi dengan menggandeng sejumlah penjahit lokal. Dia lalu memasarkan produk tak hanya melalui media sosial, tetapi juga ke beberapa toko souvenir hingga e-commerce.

Setelah melihat potensi bisnis Sancraft, Sari akhirnya memantapkan diri menjadi pengusaha. Dia berhenti dari pekerjaannya sebagai guru seni dan fokus mengembangkan Sancraft. Selain tote bag, Sancraft juga menyediakan notebook, gantungan kunci, scarf, kartu ucapan, sarung bantal, stiker, pouch, sampai plushie (bantal kecil). Harga produk berkisar dari Rp20 ribu – Rp325 ribu.

 

Merintis usaha sejak tahun 2010, kini produk Sancraft tersedia di berbagai departemen store seperti Alun Alun Indonesia, dan toko cendera mata seperti Dialogue, 2Madison, Matalokal, Asamula Bali, dan Ku Ka Bali. Untuk penjualan secara online, di samping melalui Instagram, Sancraft juga bekerja sama dengan beberapa toko cendera mata online serta marketplace Tokopedia, dan Blibli. (Foto: Dok. Pribadi)

 

Pasang Surut

Seperti layaknya pelaku wirausaha lainnya, Sari pun pernah mengalami masa pasang surut dalam menjalankan usaha. Misalnya saja, di awal membangun Sancraft dia sempat ditentang oleh ibunya sendiri. Ibunya lebih menyukai Sari bekerja kantoran menjadi pegawai negeri sipil.

Di sisi lain, Sari juga mengakui awalnya tidak paham seluk beluk bisnis. Dia mempelajari hal itu sambil terjun langsung mengurusi operasional usahanya alias learning by doing.  “Saya yakin kalau kita sudah berusaha maksimal, kita serahkan dalam doa, dan tinggal bersabar menunggu hasilnya sehingga itu jadi positif,” ucapnya.

Keteguhan Sari pun akhirnya menghasilkan pengakuan dan restu dari orang tua. “Alhamdulillah sekarang orang tua sudah mendukung karena dilihat sudah menghasilkan. Mereka juga melihat aku fokus dan enggak sekadar main-main,” ujarnya.

Kini, produk Sancraft tersedia di berbagai departemen store seperti Alun Alun Indonesia, dan toko cendera mata seperti Dialogue, 2Madison, Matalokal, Asamula Bali, dan Ku Ka Bali. Untuk penjualan secara online, di samping melalui Instagram, Sancraft juga bekerja sama dengan beberapa toko cendera mata online serta marketplace Tokopedia, dan Blibli.

Tak hanya itu dalam beberapa kesempatan, produk Sancraft telah dikenalkan di luar negeri melalui ajang pameran produk Indonesia seperti di Azerbaijan dan Jepang. Sebagai brand lokal asal Jakarta, momentum ini dia gunakan untuk memperkenalkan produk Indonesia melalui ikon unik ke mancanegara.

“Tema produk Sancraft ini sangat Indonesia. Kami ingin mengangkat Indonesia lewat ikon unik yang bisa diterima oleh anak-anak sampai orang dewasa. Alhamdulillah banyak orang asing yang suka dan tertarik. Jadi Indonesia lebih terangkat dengan cara yang menyenangkan,” katanya lagi.

Situasi pandemi Covid-19 memang diakui sempat membuat bisnis Sancraft terkendala. Namun hal ini tidak membuat Sari patah semangat. Bagaimana solusinya? “Saya melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak seperti kolaborasi dengan produk masker. Saya juga memberanikan diri untuk mengubah karya dari colourfull ke monocrom,” ungkap Sari.

Langkah inovasi ini menurut Sari yang membuat produknya tetap bertahan. “Di pasar sekarang ini, produk yang ada hampir sama. Yang membedakan adalah pada ilustrasinya. Karena itu saya terus mencoba idealis, apalagi customer sekarang semakin jeli,” ungkapnya.

Perempuan berusia 31 tahun ini bermimpi dapat membawa Sancraft ke level yang lebih tinggi. Dia bercita-cita dapat mengenalkan Indonesia ke seluruh dunia melalui Sancraft. “Melalui produk Sancraft saya berharap Indonesia dapat lebih dikenal lagi di seluruh dunia,” pungkasnya,

 

=======================

Sanjung Sari Pursie

=======================

 

STEVY WIDIA

 

Exit mobile version