Sylvia Surya : Sukses “Mengembangbiakan” Kedai Kopi Melalui Cara Waralaba

Sylvia Surya

Sylvia Surya, Co-founder & CEO Kopi Soe (Foto: Dok. Pribadi)

youngster.id - Bisnis gerai kopi masih terus tumbuh di Indonesia. Para pelaku usaha di sektor ini memiliki berbagai inovasi dan strategi untuk membuat bisnis ini berkembang pesat. Alhasil harga kopi pun semakin terjangkau dengan kualitas yang tak kalah bersaing dengan gerai dari luar negeri.

Menurut catatan International Coffee Organization (ICO) tahun 2020 peningkatan konsumsi kopi domestik Indonesia periode 2014-2019 cenderung meningkat. Data Kementerian Pertanian menunjukkan konsumsi kopi di Indonesia sebesar 294 ribu ton. Konsumsi kopi domestic ini tumbuh 13,9% pada tahun 2020. Jumlah ini melebihi konsumsi dunia yang hanya 8% per tahun.

Data International Coffee Organization (ICO) juga menyebut tren konsumsi kopi domestik di Indonesia mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir. Konsumsi kopi domestik Indonesia pada periode 2018-2019 mencapai 50,97% dari produksinya. Jumlah tersebut tertinggi jika dibandingkan dengan negara penghasil kopi lainnya seperi Brazil, Vietnam, Kolombia dan Ethopia. Pada periode tersebut, jumlah produksi kopi Indonesia sebesar 9.418 kantong berkapasitas 60 kilogram (kg) dan konsumsi kopi domestik mencapai 4800 kantong.

Naiknya konsumsi dan permintaan akan kopi sebagian besar didorong oleh generasi muda yang menjadikan minum kopi sebagai bagian dari gaya hidup. Mereka bisa dibilang bergerak dari kopi instan ke gerai kopi modern. Anak-anak muda ini juga memberi apresiasi terhadap kopi yang diproduksi secara lokal dan mendorong tren bisnis kedai kopi tumbuh pesat dalam beberapa tahun belakangan ini.

Potensi ini juga yang mendorong Sylvia Surya terjun ke bisnis kopi dengan membangun brand kedai Kopi Soe sejak tahun 2017. “Kami mengembangkan produk yang bisa diterima kalangan luas, termasuk oleh mereka yang bukan pencinta kopi. Kami juga membuat inovasi varian produk agar pelangan loyal,” ucap Sylvia, Co-founder & CEO Kopi Soe dalam bincang-bincang di ShopeeTalk baru-baru ini.

Di tengah maraknya gerai kopi, Kopi Soe muncul dengan diferensiasi produk yaitu menu kopi rum regal atau rugal. Dia menyadari kompetisi bisnis ini sangat besar dan ketat.

“Jadi alih-alih khawatir dengan persaingan, Kopi Soe hadir dengan unique selling point dan karakter tersendiri,” ungkap Sylvia.

Kopi Soe memiliki produk yang unik, yaitu mencampurkan kopi, sirup rum dan kue regal. Menurut Sylvia, ide menu ini berasal dari customer yang kebanyakan adalah perempuan.

“Rasa yang unik ini membuat pelanggan membeli di Kopi Soe. Kemudian mempromosikan dari mulut ke mulut, dan membuat Kopi Soe berkembang hingga sekarang,” ungkapnya.

Untuk pengembangan bisnis, Kopi Soe mengusung konsep bisnis “coffee to go” dan konsep waralaba. Hal ini membuat gerai kopi ini pun tumbuh pesat. Saat ini Kopi Soe telah tersedia di 83 kota, 24 provinsi, dan lebih dari 230 outlet di seluruh Indonesia.

 

Sampingan

Sylvia mengaku dirinya memang pecinta kopi. Baginya, eksplorasi kopi yang variasinya begitu beragam menjadi hal menyenangkan dan menarik untuk dilakukan. Melihat potensi pasar yang besar, mendorong Sylvia bersama sang suami Ferrianto Surya serta beberapa rekan memutuskan untuk mendirikan usaha gerai kopi pada tahun 2017.

Awalnya, bisnis ini hanyalah kerja sampingan. Pasalnya, saat itu Sylvia masih bekerja sebagai seorang stylist, dan Ferrianto sebagai karyawan di perusahaan alat-alat kesehatan. Modal bisnis ini bersumber dari tabungan pernikahan mereka.

Nama yang dipilih adalah Kopi Soe (dibaca Su). Menurut Sylvia, nama itu beradal dari bahasa Jawa kuno yang berarti besar, bagus atau sesuatu yang baik. Mereka senagaja memakai ejaan lama untuk menguatkan DNA Indonesia. “Filosofinya, diharapkan Kopi Soe bisa berkembang dan makin bagus,” ujarnya.

Sejalan dengan DNA itu, maka Kopi Soe juga 100% menggunakan produk kopi lokal. Begitu juga dengan penamaan produknya. Dalam proses riset dan pengembangan, Sylvia dan tim Kopi Soe menyadari kekayaan varietas biji kopi yang dimiliki Indonesia, di luar fakta kopi jadi minuman yang marak dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat Indonesia.

“Kami ingin membawa citarasa kopi lokal dengan harga yang terjangkau tanpa mengorbankan kualitas. Bahan baku Kopi Soe pun diambil dari petani lokal di daerah timur Indonesia,” ungkapnya.

Lalu mereka memulai dengan membuka outlet pertama di daerah PIK tahun 2018. Kemudian mengembangkan dua cabang di daerah Menteng dan Kebayoran. Tak disangka di bulan ke enam, dengan konsep kemitraan gerai Kopi Soe bertumbuh pesat.

Sylvia bercerita bahwa mitra franchise pertama Kopi Soe berasal dari konsumennya sendiri. Lambat laun, kemitraan terus bertambah dengan mayoritas berasal dari pelanggan Kopi Soe yang menyukai produknya. Kesempatan tersebut tidak dilewatkan oleh Sylvia dan tim yang terus menggenjot pengembangan cabang Kopi Soe.

Di saat itu pula Sylvia memberanikan diri untuk sepenuhnya jadi pengusaha. “Pekerjaan yang terdahulu membuka peluang untuk bertemu dengan banyak orang dan membangun relasi yang ternyata berguna ketika terjun ke dunia bisnis,” ujarnya.

Keputusan untuk menjadi pengusaha tidak ia sesali. Dari kesadaran inilah, kemudian Sylvia berusaha membangun branding kuat untuk Kopi Soe dan mengembangkan konsep waralaba. Hasilnya, pada Januari 2019 kedai Kopi Soe bertambah menjadi 10 kedai. Kemudian pada Februari naik lagi menjadi 20 cabang, dan pada Maret-April 2019 berkembang lagi menjadi 50 cabang. Kini setelah tiga tahun, Kopi Soe tumbuh dan membuka lebih dari 230 cabang yang tersebar tak hanya di Jabodetabek, tetapi juga di Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, bahkan di Jayapura.

 

Berkat inovasi dan konsep bisnis waralaba, kini kedai Kopi Soe sudah memiliki 230 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia (Foto: Dok. Pribadi)

 

Inovasi dan Kolaborasi

Memasuki usia tiga tahun, pertumbuhan bisnis Kopi Soe terbilang cepat, di luar ekspektasi Sylvia. Bahkan, per gerai, penjualan kopinya bisa mencapai 150-200 cup per hari. “Sekarang minum kopi bukan lagi sekadar tren, tetapi sudah menjadi kebutuhan dan kebiasaan. Hal ini dengan melihat orang rutin membeli kopi, setiap hari,” ungkapnya.

Dalam pandangan Sylvia, industri kopi berkembang terus ke depan, selain karena memang trennya ke sana, juga karena Indonesia memiliki potensi kopi lokal yang bagus.

Meski demikian, dalam mengembangkan bisnis, alumni pemasaran Universitas Bina Nusantara ini mengaku tidak selalu mulus. Pandemi Covid-19 yang membuat banyak sekali perubahan terutama pada SOP dan rencana yang telah disiapkan. Menurut Sylvia, sejumlah gerai Kopi Soe di perkantoran dan area pendidikan mengalami penurunan pendapatan. Selain itu, kebijakan PSBB membuat kedai kopi seperti Kopi Soe tidak melayani minum di tempat.

Meski demikian, gerai Kopi Soe di wilayah perumahan justru mengalami permintaan yang cukup tinggi dengan mengandalkan layanan take away dan delivery. Dengan pola perubahan seperti ini, Sylvia melihat ada pergeseran tren di bisnis kopi. Untuk itu, Kopi Soe yang memiliki konsep bisnis franchise ini sudah mencuri garis awal dengan mensosialisasikan SOP ke sejumlah mitra bisnis dan tim internal.

“Melalui sosmed kami sosialisasi SOP yang lebih ketat untuk mencegah adanya trust issue dari konsumen,” jelas Sylvia.

Selain itu, Kopi Soe juga melakukan inovasi dan kolaborasi. Inovasi terbaru dari Kopi Soe adalah kolaborasinya dengan Teh Pucuk yang menggabungkan teh dan kopi. “Kopi dan teh itu dua hal yang berbeda, tapi mereka bisa bersatu. Sama seperti situasi sekarang, meski berjauhan tapi selalu terasa dekat,” papar Sylvia.

Ketika ditanya soal rencana jangka panjang, Sylvia ingin membuat sebuah ekosistem F&B di mana ia dan tim dapat mengembangkan produk dan komplimentari lainnya agar bisa terus berekspansi.

“Kami pun akan terus mengembangkan Kopi Soe, baik dari sisi branding, manajemen produk, maupun sistemnya, visi dan misi produk pun tetap terjaga,” katanya.

Hal ini sesuai visi dan misi Kopi Soe yang ingin menjadi sebagai top of mind para pencinta kopi susu. “Kami juga ingin membantu orang yang ingin membuka bisnis sendiri, utamanya di kedai kopi, dengan kami mengembangkan sistem, mereka tinggal jalankan saja. Pengembangan menu pun tim kami yang lakukan,” pungkasnya.

 

======================

Sylvia Surya

=====================

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version