Yelly Lumentu : Berbisnis Itu Harus Ada Kompetitor

Yelly Lumentu, Founder & Desainer Day and Night (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

youngster.id - Belakangan ini dunia fesyen Tanah Air terus bermunculan para perancang muda berbakat. Mereka berlomba-lomba merancang koleksi busana. Ketatnya persaingan akhirnya dimenangkan oleh karya yang unik dengan kualitas tinggi.

Fesyen adalah salah satu industri penting di dunia yang memberikan sumbangan signifikan bagi perekonomian global. Menurut laporan Euromonitor International, tahun 2014 pasar pakaian dan sepatu mencapai nilai US$1,7 triliun, dan diproyeksikan akan tumbuh hingga US$2,2 triliun pada 2019 (Kate Abnett, 2016). Tak heran jika sektor ini diincar banyak negara yang ingin menjadi pemain utama di dalamnya, termasuk Indonesia.

Fesyen juga menjadi salah satu andalan ekonomi kreatif. Dan sektor ini banyak dikawal oleh anak-anak muda. Data statistik dan hasil survey ekonomi kreatif BPS dan Bekraf 2017, sebanyak 78,53% pengusaha ekonomi kreatif berusia rentang 30-59 tahun. Sedang pengusaha muda usia di bawah 30 tahun di sektor kreatif relatif kecil, yaitu sekitar 10,68% dari total jumlah pengusaha kreatif.

Ini menunjukkan bahwa bonus demografi memimiki potensi untuk melahirkan lebih banyak lagi generasi muda yang menjadi pengusaha kreatif, termasuk di bidang fesyen. Salah satunya Yelly Lumentu.

Bahkan, Yelly bisa dibilang sebagai salah satu perancang muda fesyen yang sukses membawa brand miliknya Day and Night dan Yelly ke jajaran fashion ready to wear ternama. Bahkan dia sempat membuka gerai di Singapura.

Bagi Yelly ketatnya persaingan di antara para pekerja kreatif di bidang fesyen telah memacu jiwanya untuk terus berinovasi.

“Aku itu orangnya kompetitif. Semakin banyak kompetitor semakin baik. Karena aku tidak pernah mau ada di comfort zone. Jadi supaya keluar dari sana, aku harus punya kompetitor,” ungkap Yelly kepada youngster.id usai menggelar fashion show koleksi terbaru Day and Night di Gandaria City Mall Jakarta baru-baru ini.

Desainer yang mulai merilis brand pada 2012 ini menilai persaingan juga membuka banyak peluang bagi desainer untuk mengembangkan diri dan karyanya. “Kondisi sekarang ini membawa peluang untuk bekerjasama dengan banyak pihak. Sehingga otak jadi fokus,” katanya.

Untuk itu dia menegaskan bahwa sebagai anak muda, semangat untuk terus maju dan mengikuti tren menjadi andalan. “Namanya dunia kreatif, apalagi di fesyen setiap tahun pasti ada tren yang baru. Otomatis desainer harus memperbarui diri, meremajakan diri sehingga bisa sesuai dengan tren saat ini. Karena customer juga ingin selalu terlihat lebih muda,” tandasnya.

Baca juga :   Tahun ini, Female Foundry Ajak Founder Startup Wanita Asia Tenggara

Berangkat dari pemikiran itu, maka Yelly mengedepankan rancangan siap pakai untuk semua kalangan. “Hitam dan putih adalah wujud idealis aku. Selain karena aman dan bisa dipadupadan dengan warna maupun mode lain. Pokoknya hitam putih itu nggak akan pernah mati,” ujarnya.

Desainer lulusan ESMOD ini menerjemahkan ide kreatif dan fantasi ke dalam musim spring/summer 2019 berjudul I See You See Me. Melalui koleksi ini Yelly menampilkan permainan cutting, detail dan proporsi.

 

Bersama dengan kakaknya Conny Lumentu,kini Yelly Lumentu sukses menjadi desainer muda yang telah memiliki label ternama Day and Night dan YELLY (Foto: Grid.id)

 

Surealis

Meski terbilang muda usia, Yelly telah memulai bisnis fesyen ini sejak tahun 2012. Maklum, sesungguhnya sejak kecil dia sudah akrab dengan dunia fesyen dan seni. Pasalnya sang nenek dan ibu adalah seorang penjahit lokal di kampung halamannya, Makassar. Sementara sang ayahnya adalah pelukis jalanan.

Oleh karena itu, fesyen desain pun menjadi jalan kariernya. “Aku tuangkan kecintaan dan kekagumanku pada seni, ke koleksi baju-baju aku. Aku punya dua label, Day and Night dan YELLY. Keduanya adalah wujud surealis aku,” katanya.

Pengertian surealis bagi Yelly adalah aliran seni yang menonjolkan kreatifitas tanpa batas dan terkadang penuh kejutan. Dan itu ditunjukkan dalam potongan mode rancangannya yang didomnasi warna hitam, putih dan abu-abu.

“Kalau lihat suatu karya seni pendapat orang bisa beragam. Nah, rancangan aku pun begitu. Kalau orang lihat jumpsuit, eh padahal itu dress. Jadi yang mana yang benar? Don’t believe your eyes,” jelasnya.

Yelly mulai serius  berbisnis berangkat dari kejenuhannya bekerja di salah satu perusahaan ritel. Lalu dia bersama sang kakak Conny Lumentu memberanikan diri membuka usaha fesyen di tahun 2012. “Aku memulai usaha ini secara kecil-kecilan. Aku ada tabungan sedikit, itu kami jadikan modal awal untuk aku buat dress dan tawarkan ke teman-teman kakak. Ternyata banyak yang suka. Dari situ akhirnya berkembang jadi label ini,” kisah anak kedua dari empat bersaudara itu.

Menurut Yelly mereka memutuskan nama Day and Night karena desain mereka dapat dikenakan sepanjang hari, dari pagi sampai malam. Sejak awal, Yelly telah menetapkan ciri rancangan yang minimalis dan bernuansa monocrom.

Baca juga :   Tim Indonesia Jadi Juara Pertama Desain Oil Rig di Malaysia

“Produk kami jelas beda, maksudnya busana-busana yang kami ciptakan di Day and Night lebih simple. Maksudnya juga nggak simple atau asal jadi. Tapi yang jelas, kalau dilihat dari dekat produk kami ini sangat beda, termasuk sampai finishing-nya, kemudian tehnik dan pengerjaannya serta dari susunan desainnya pun berbeda. Memang kalau dilihat seperti Tshirt biasa, tapi setelah diperhatikan polanya lumayan. Mikirnya supaya customer nanti bisa merasa nyaman mengenakannya mulai dari pagi hingga malam,” paparnya.

Setelah brand dan namanya mulai dikenal pecinta fesyen Tanah Air, Yelly berpartisipasi dalam Lomba Perancang Mode di tahun 2014 untuk sebuah majalah cetak ternama dan memenangkan posisi pertama . Oktober 2015, akhirnya Yelly memberanikan diri membuat label premium dari namanya sendiri, YELLY. Ini semakin meningkatkan pamornya di industri fesyen lokal.

“Sejak Day and Night hadir memang membawa DNA hitam dan putih yang kuat. YELLY sendiri pun sebenarnya rebranding Day and Night by Yelly sih. Jadi masih sama, hanya desainnya aja yang beda. Lebih ke arah serius, proper look. Dan dari zaman sekolah dulu aku sudah suka sama dua warna ini, bisa dibilang hitam dan putih melengkapi rancanganku sekarang,” cerita Yelly.

 

Yelly mengaku tidak menyangka jika usaha yang dibangun dengan modal kecil, kurang dari Rp 5 juta, itu dapat berkembang pesat. Saat ini produk Day and Night sudah ada di di sejumlah gerai offline di pusat perbelanjaan Senayan City, The Goods Dept serta di sejumlah e-commerce terkemuka (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Kekuatan Sosial Media

Dengan konsep (hitam dan putih yang kuat) ini, Yelly berhasil menaikkan namanya di jajaran terkemuka desainer muda Tanah Air. Produksi Day and Night juga meningkat. Sampai saat ini Yelly sudah mempekerjakan 10 orang karyawan. Yelly mengaku setiap bulan mereka mampu menjual 200-300 pieces, baik melalui toko online maupun offline dengan range harga mulai Rp 350 ribu hingga Rp 1 juta.

Selama enam tahun Yelly mengaku berjuang keras agar bisnis ini berjalan dengan baik.  “Kendala banyak banget, terutama dari masalah produksi dan tenaga kerja. Kami harus mendidik para penjahit agar dapat mengikuti standar Day and Night. Karena kebanyakan mereka punya skill tapi taste-nya kurang. Karena itu selama 6 tahun berdiri kami selalu konsentrasi pada produksi kontrol,” ungkapnya.

Hasilnya, diklaim Yelly, produk yang dihasilkannya belum pernah menuai komplen berarti kecuali dalam hal pengiriman. “Namanya usaha, komplen pasti ada. Terutama karena shipping-nya telat. Selain itu pernah salah kirim. Tapi dengan begitu kami terus belajar meminimalkan masalah dan mencarikannya jalan keluar dari masalah yang ada,” kisahnya.

Baca juga :   Pengusaha Muda Diajak Kelola Industri Prioritas

Dia menegaskan, bahwa rancangannya juga terus mengikuti tren sembari mempertahankan signature dari brand yang dia bangun. “Branding itu penting sekali, sehingga ketika orang melihat produk Day and Night sudah langsung tahu. Cutting-nya berbeda, image-ya berbeda. Jujur kami selalu mengikuti perkembangan fesyen yang ada. Kami tetap mengikuti tren tapi tetap dengan style yang dimiliki Day and Night dan sesuai dengan kebutuhan customer kami,” sambung Yelly.

Yelly mengaku tidak menyangka jika usaha yang dibangun dengan modal kecil, kurang dari Rp 5 juta, itu dapat berkembang pesat. Saat ini produk Day and Night sudah ada di di sejumlah gerai offline di pusat perbelanjaan Senayan City, The Goods Dept serta di sejumlah e-commerce terkemuka. Mereka juga sempat membuka toko di Singapura, cuma saat ini ditutup sementara.

“Modal awal yang aku keluarkan untuk usaha ini nggak sampai Rp 5 juta. Tapi sekarang kalau omset lumayan bisa mencapai puluhan juta, dan bersyukurnya bisa menutupi biaya produksi kami,” ungkapnya.

Kini Yelly terus mengembangkan usahanya dengan fokus pada bisnis online. “Jujur aja, kekuatan sosial media nggak bisa dipandang sebelah mata di era digital ini. Kami banyak mendapat konsumen dari sosial media. Karena itu kami ingin fokus di online saja dulu. Aku berharap ke depan dengan visi dan misi yang kami miliki pengin jadi fast fashion terbesar di Indonesia,” tutupnya.

 

=================================

Yelly Lumentu

  • Tempat Tanggal Lahir :  Makassar 8 April 1985
  • Pendidikan   Terakhir  : S1, IT Bina Nusantara
  • Nama Brand              : Day and Night, YELLY
  • Mulai Usaha               : 2012
  • Jabatan                     : Founder & Desainer
  • Modal awal                : sekitar Rp 5 juta
  • Jumlah Karyawan      : 10 orang
  • Produksi                    : rata-rata 300 pieces per bulan
  • Range Harga             : Rp 350 ribu – Rp 1 juta/piece

===================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia