3 Keahlian Yang Perlu Dimiliki Anak Muda di Era Industri 4.0

Pengangguran menjadi salah satu tantangan anak muda di tahun ini. (Foto: Istimewa/Youngster.id)

youngster.id - Sekarang adalah era industri berbasis teknologi internet atau lebih dikenal dengan Industri 4.0. Peta persaingan di dunia kerja semakin ketat. Untuk itu anak muda Indonesia harus menguasai minimal tiga keahlian agar mampu bersaing.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menuturkan tiga keahlian yang dibutuhkan era industri baru ini yakni kemampuan berbahasa asing terutama Bahasa Inggris, kemahiran membaca data statistik, dan yang terakhir yakni kemampuan koding.

“Ketiga kemampuan tersebut mutlak dikuasi sumber daya manusia industri agar mampu bersaing di era industri 4.0,” kata Airlangga melalui keterangannya, Senin (12/3/2018) di Jakarta.

Menperin itu mengungkapkan, saat ini Pemerintah tengah menyusun peta jalan agar Indonesia mampu mengimplementasikan era industri yang bergantung pada kecerdasan buatan dan internet itu. Peta jalan ini akan terlebih dahulu diterapkan pada lima sektor yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, otomotif, elektronik dan industri kimia.

Airlangga menambahkan Indonesia saat ini menyumbang 2,5% pertumbuhan ekonomi dunia. Kontribusi itu menunjukan Indonesia sebagai salah satu kunci mendorong pertumbuhan ekonomi dunia. Selain itu, ekonomi Indonesia yang telah masuk dalam klub US$1 triliun, menegaskan peran Indonesia dalam struktur ekonomi dunia. “Demikian juga dari sektor manufaktur. Indonesia secara persentase untuk kontribusinya terhadap PDB masuk dalam jajaran lima besar dunia,” katanya.

Baca juga :   Sinergi Go-Jek dan Permata Bank Untuk Kemudahan Pembayaran

Sebelumnya, pemerintah optimistis pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada 2018 dapat mencapai 5,67%, melampaui target tahun ini sebesar 5,4%.

Angka ini bahkan di atas realisasi pertumbuhan industri pada tahun ini yang diperkirakan tidak akan mencapai 5%. Sepanjang kuartal I hingga kuartal III, pertumbuhan kumulatif industri pengolahan hanya mencapai 4,49%.

Kemenperin menetapkan angka pertumbuhan tersebut dengan mempertimbangkan berbagai capaian, potensi, dan peluang industri ke depan. Pertumbuhan diperkirakan bakal digerakkan oleh sektor makanan dan minuman, bahan kimia dan barang dari kimia, farmasi, logam dasar, alat angkutan dan elektronik.