Abraham Auzan : Ciptakan Teknologi Untuk Membantu Kesehatan Ibu Hamil

Abraham Auzan, CEO & Co-Founder Sehati TeleCTG (Foto: Dok. Pribadi)

youngster.id - Indonesia masih menerima rapor merah terkait kasus angka kematian ibu dan  bayi. Data menunjukkan ada sekitar 20 ribu perempuan meninggal akibat komplikasi melahirkan setiap tahun di Indonesia. Tingginya angka kematian tersebut terkait dengan penanganan selama kehamilan.

Sejatinya, tingginya angka kematian ibu bukanlah hal baru dalam dunia medis. Upaya penanganan kasus kematian ibu dan bayi telah diperbincangkan sejak abad ke-17. Menurut situs resmi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), laporan studi berjudul Death in Childbed from the Eighteent Century to 1935, catatan-catatan terkait kasus kematian ibu mulai muncul pada awal abad ke-17, seiring dengan berkembangnya praktik kebidanan di masyarakat Inggris. Akan tetapi, komitmen masyarakat global terkait penanganan kasus kematian ibu baru hadir di akhir abad ke-20.

Berdasar data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKi) 1990, ada 390 perempuan meninggal dunia di setiap 100 ribu kelahiran. Kemudian evaluasi Millennium Development Goals (MDGs) pada 2015, kasus kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia menurun secara perlahan ke angga 305 per 100 ribu kelahiran. Padahal target MDGs 2015 adalah menurunkan angka kematian ibu (AKI) hingga tiga perempat dari angka 1990 atau sekitar 110 kasus per 100 ribu kelahiran. Namun hal itu belum bisa tercapai. Sebagai perbandingan, Malaysia berhasil menurunkan AKI hingga 45 persen dalam 20 tahun terakhir, begitu pun AKI di dunia.

Selain pendarahan dan hipertensi, faktor risiko seperti infeksi, abortus, dan partus lama juga menjadi penyebab lain atas kasus AKI. Pemicu kejadian ini salah satunya adalah kualitas pelayanan kesehatan.

Berangkat dari hal itulah, Anda Waluyo-Sapardan, dr. Ari Waluyo, SpOG, Abraham Auzan, Harry Pradipta, dan Rizky Rakhmat Oentoe mendirikan startup Sehati TeleCTG. Ini startup teknologi yang memberikan layanan kesehatan, terutama bagi para ibu hamil di daerah terpencil di Indonesia.

“TeleCTG ada berdasarkan kebutuhan yang kami lihat di lapangan dari pengalaman selama lebih dari dua belas tahun di dunia kesehatan, khususnya kesehatan ibu dan anak,” ucap Abraham, CEO dan co-founder Sehati TeleCTG kepada youngster.id.

Startup ini memiliki aplikasi Bidan Sehati dan Ibu Sehati yang memberikan informasi dan tips kehamilan mingguan. Juga, ada fitur jadwal kunjungan ke dokter dan laboraturium, jurnal elektronik kesehatan ibu, serta memberikan layanan berupa menghitung kontraksi.

Baca juga :   Pemenang JFW 2017 Berjaya di Asia Model Festival 2017 Korsel

Tak hanya membangun aplikasi layanan kesehatan ibu hamil, startup ini mengembangkan alat TeleCGT. Alat ini merupakan versi portabel dari cardiotocography (CTG) ini membantu ibu untuk mengecek keadaan kandungan dengan dokter secara jarak jauh sehingga pelayanan kesehatan dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Jadi, TeleCTG berfungsi untuk mengetahui detak jantung bayi, pergerakan bayi, dan kontraksi ibu hamil.

“Alasan kami mengembangkan alat ini karena timbulnya kekhawatiran tingginya angka kematian ibu di Indonesia. Dalam hal ini, kami ingin menyediakan akses terhadap pelayanan kesehatan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak, khususnya selama 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan). Termasuk dalam pemeriksaan kehamilan yang lebih baik, dengan tujuan terjadinya deteksi dini faktor risiko pada ibu hamil sebagai salah satu upaya menurunkan angka kematian ibu,” jelas Abraham.

Atasi Akses

Abraham mengaku terispirasi pada Nikola Tesla dan Thomas Alva Edison. Keduanya merupakan penemu energi listrik. Dia ingin dapat menciptakan keseimbangan antara prinsip kebermanfaatan Tesla dan sustainability business dari Edison. “Konsep ini saya terapkan pada bisnis di bidang kesehatan ini,” ujarnya.

Produk Sehati TeleCTG mulai diujicoba di Kabupaten Kupang. Menurut Abraham, karena melihat kebutuhan daerah tersebut akan perangkat pemeriksa kesehatan. Apalagi di daerah itu angka kematian ibu di tahun 2015 mencapai 1 hingga 2 kejadian kematian ibu saat hamil, saat kelahiran, dan pada masa nifas. Sedangkan angka kematian bayi di kabupaten tersebut mencapai 33/1000 kelahiran hidup.

Selain itu, letak setiap puskesmas di Kabupaten Kupang cukup berjauhan. Bahkan ada puskesmas yang menempuh jarak lebih dari 250 km untuk mencapai RSUD Kabupaten Kupang. Hal ini yang membuat para bidan harus lebih tepat saat memeriksa ibu hamil.

“Jadi dengan adanya aplikasi Bidan Sehati ini, para bidan terbantu mendeteksi gangguan kehamilan karena lebih mudah memberikan intervensi. Selain itu, dengan penggunaan alat medis TeleCTG ini dapat dengan cepat mendeteksi permasalahan pada janin dan ibu hamil. Dengan begitu bidan juga dapat langsung berhubungan dengan dokter spesialis kandungan sehingga saat ada anjuran merujuk, mereka lebih percaya diri karena sudah ada diagnosis yang lebih tepat,” kata Abraham lagi.

Baca juga :   Pucuk Coolinary Festival Bandung : Hadirkan Lebih dari 100 Tenant

Abraham menjelaskan, TeleCTG merupakan alat pengembangan teknologi dari alat Cardiotocography (CTG). CTG biasa digunakan untuk mendiagnosa detak dan irama jantung bayi, memonitor gerakan janin, serta mencatat kontraksi ibu hamil. “Fungsi dan konsepnya sama seperti alat CTG yang sudah ada saat ini. Hanya saja, lebih ringkas dan dapat digunakan secara fleksibel dan dilengkapi aplikasi mobile,” terangnya.

Cara mengoperasikan perangkat TeleCTG terbilang cukup sederhana. Dalam satu perangkat, terdapat Proobes atau sensor yang digunakan oleh bidan untuk mengukur detak jantung dan kontraksi pada perut ibu. Sensor tersebut kemudian dihubungkan menggunakan micro USB dengan aplikasi pembaca yang berada di dalam smartphone. Setelah parameter ibu dan pembacaan dijalankan selam kurang lebih 15 hingga 30 menit maka hasil akan dikirimkan ke sistem pusat pembacaan.

“Data-data yang dimasukkan bidan terhubung langsung dengan alat TeleCTG, kemudian dikirim ke pusat konsultasi yang saat ini ada di Jakarta dan Bandung. Di sana, dokter kandungan yang bertugas akan menganalisa data ibu hamil yang diberikan bidan dan memberikan rekomendasi langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh bidan terhadap ibu mengandung,” terang Abraham.

Aplikasi TeleCTG biasa digunakan untuk mendiagnosa detak dan irama jantung bayi, memonitor gerakan janin, serta mencatat kontraksi ibu hamil (Foto: Istimewa)

Dukungan Bekraf

Abraham mengklaim, saat ini perangkat TeleCTG yang dikembangkan Sehati TeleCTG dinilai lebih terjangkau dari segi harga dibandingkan dengan CTG konvensional yang harganya di atas Rp100 juta. TeleCTG lebih portable sehingga mudah dibawa ke daerah terpencil dan cara pengoperasiannya relatif lebih mudah.

Alat ini telah mendapat izin edar dari Kementerian Kesehatan sejak akhir November 2018 dan tengah diuji coba ke 14 kecamatan di Kupang. Kini, Sehati TelecTG telah mendistribusikan alat tersebut ke Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

“Untuk mewujudkan itu semua, Sehati TeleCTG menggandeng dinas kesehatan setempat, bekerja sama dengan bidan-bidan di puskesmas di tiap desa. Kami juga berencana untuk ekspor produk ini ke Vietnam dan Filipina pada akhir tahun. Dua negara ini punya karakteristik dan isu yang sama dengan Indonesia,” ucap Abraham.

Rupanya, inovasi yang dilakukan Sehati TeleCTG mendapat dukungan dari Bekraf. Produk TeleCTG diboyong untuk tampil di Festival South by Southwest (SXSW) 2019 di Austin Texas, AS pada pertengahan bulan Maret lalu.

Baca juga :   Musik Reggae Indonesia Mulai Bertransformasi ke Digital

“Kami menampilkan perangkat berpaten kami sebagai alat perangkat medis diagnostik yang pertama dan satu-satunya di Indonesia. Kami memamerkan revolusi CTG di dunia, dan hal ini akan membuat suatu perubahan signifikan untuk masa depan dunia kesehatan. Kami berharap dapat menyebarkan visi kami ke dunia dan menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih sehat untuk hidup,” kata Abraham.

Saat ini, aplikasi Sehati dan alat medis TeleCTG sudah memiliki data lebih dari 300 ibu hamil. Dari sini sudah terdeteksi berbagai macam faktor resiko. Adapun faktor resiko terbanyak yaitu Anemia dan KEK (Kekurangan Energi Kronis).

Meski bermisi sosial, startup ini tetap menerapkan model bisnis dengan cara menjual produk TeleCTG serta subscription dari SAAS. Target utama mereka institusi kesehatan, mulai dari bidan dan rumah sakit.

“TeleCTG lebih portable, dan affordable dari alat konvensional yang ada, dan memiliki kelebihan dalam aksesabilitas, dimana bidan dan ibu di daerah yang jauh dapat memiliki akses kesehatan maternal yang lebih baik dan terhubung dengan dokter kandungannya,” katanya.

Saat ini TeleCTG telah di implementasi di 8 daerah di Indonesia, seperti kabupaten Kupang, Lombok Timur, Sumba, Indramayu, Mentawai, dan beberapa daerah lainnya. “Dengan pusat R&D kami di Indonesia, kami ingin terus berinovasi menghasilkan produk-produk kesehatan yang tepat guna bagi pasar Indonesia, dan developing country lainnya,” ucapnya

Menurut pria kelahiran Jakarta ini, bisnis kesehatan terutama industrialisasi inovasi kesehatan adalah sebuah hal yang baru di Indonesia. Ada banyak tantangan terutama dalam hal regulasi. Sebagai contoh, dari prototype yang telah selesai di tahun 2016, Sehati TeleCTG harus menjalani semua proses compliance dari IEC 60601, ISO 13845 hingga mendapatkan ijin edar dari Kementerian Kesehatan. “Bisnis ini butuh kesabaran dan menekuni semua proses tersebut,” ujarnya.

Mereka juga telah melindungi produk ini dengan paten. “Ketika seseorang meng-copy inovasi kami, mereka harus melewati masa 2 tahun dimana kami melalukan validasi testing dengan semua lembaga sertifikasi di dunia, termasuk TUV Rheinland dari Swiss. Kami juga memproduksi chip di workshop kami sendiri, sehingga dapat mengurangi kebocoran dari sisi intellectual property,” tegasnya.

Selan itu, Abraham dan tim Sehati TeleCTG terus monitoring untuk dapat melihat langsung penggunaan Sehati TeleCTG. Juga, memastikan para bidan yang telah mendapatkan pelatihan bisa menggunakan aplikasi dan alat medis TeleCTG dengan baik dan benar, agar saat pilot project berakhir masih dapat digunakan secara berkala.

“Saya terjun ke dunia bisnis karena saya percaya bahwa diri saya tidak hanya untuk saya sendiri dan keluarga, akan tetapi juga harus bermanfaat bagi banyak orang,” pungkasnya.

===============================================

Abraham Auzan

  • Tempat dan tanggal Lahir          : Jakarta, 17 Juli 1988
  • Pendidikan Terakhir                   : S2, Informasi Teknologi & Internasional Bisnis, Monash University
  • Nama Perusahaan                     : Sehati TeleCTG
  • Pekerjaan                                 : CEO & Co-Founder Sehati TeleCTG
  • Mulai Usaha                             : 2016
  • Jumlah karyawan                       : 43 orang
  • Prestasi                                    : Delegasi SXSW2019 Austin Texas

=================================================

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia