Alfi Ifran : Berdayakan Desa Melalui Bisnis Pertanian Berkelanjutan

Alfi Irfan, Founder & CEO AgriSocio (Foto: Fahrul Anwar/Youngster.id)

youngster.id - Indonesia memiliki lebih dari 72 ribu desa dengan potensial yang unik di setiap desa. Potensi ini tidak dapat optimal jika penduduk desa tidak memiliki akses terhadap modal, teknologi dan dukungan institusi lainnya. Kesadaran akan hal itu memicu sejumlah anak muda untuk kembali mengelola pertanian.

Menaikkan kembali pamor desa sepertinya mulai digalakkan. Gerakan ini didorong oleh lahirnya startup di bidang pertanian yang dimotori oleh anak-anak muda. Salah satunya adalah AgriSocio, sebuah sosiopreneur yang bergerak di bidang pengolahan makanan dan minuman industri pertanian.

Tak sekadar mengolah, mereka mendorong generasi muda untuk turut berkontribusi pada desa-desa dengan konsep mengendepankan kearifan lokal, dan kualitas produk. AgriSocio ini diinisiasi dan digerakkan oleh Alfi Ifran.

“Pertanian kita punya banyak potensi. Sayangnya hanya sedikit orang menyadari dan  memanfaatkan bidang ini. Di masa depan semua orang akan kembali mencari petani. Karena kita belum bisa berfotosintesis, kita belum bisa minum bahan bakar bensin, untuk  itulah kita masih butuh yang namanya pertanian. Dan saya sangat meng-encourage, mengajak anak muda lain untuk lebih aware lagi bagi dunia pertanian karena bidang ini sangat luas,” tutur CEO dan Founder AgriSocio kepada Youngster.id.

Untuk itulah, Alfi sejak tahun 2013 mengelola bisnis berbasis sosial di bidang pertanian. Dia memproduksi produk dan jasa pertanian komersil sekaligus memberdayakan penduduk desa melalui pertanian berkelanjutan.

Sejak berdiri di Oktober 2013, AgriSocio berkembang positif. Hingga saat ini AgriSocio memiliki 21 desa binaan yang mengelilingi kampus Institut Pertanian Bogor. Selain itu, startup di bawah naungan PT Global Inovasi Hijau ini juga memiliki kawasan learning center di desa Cibanteng dan Desa Benteng Ciampea Bogor, mempunyai local branding IndoRempah (untuk minuman rempah) dan King Chips (untuk produk opak singkong), serta Social Business Incubator di IPB. Jadi, selain memproduksi produk pertanian, alumni IPB ini juga mendorong pemberdayaan para petani binaannya.

Menurut Alfi, tujuan pemberdayaan ini adalah mengubah mindset masyarakat Indonesia akan profesi petani yang sangat identik dengan aktifitas mencangkul, panas-panasan, kotor dan tidak menarik. Sebaliknya, ia ingin menjadikan petani sebagai sosok yang keren dan membanggakan seperti petani di luar negeri. “Pemberdayaan ini juga mengubah mindset mahasiswa yang awalnya tidak memiliki ide bekerja apa di bidang pertanian, menjadi banyak ide dan tahu harus bekerja apa di bidang pertanian,” ujarnya.

Baca juga :   Chpax Oxide, Kemasan Bioplastik dari Bulu Ayam

Dengan beragam usaha yang dilakukan, tidak mengherankan jika alumni Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB ini telah banyak meraih prestasi baik tingkat nasional maupun international. Di antaranya adalah peraih Young Social Entrepreneur di Singapura. Paling baru Alfi menerima penghargaan pemuda pelopor, peringkat 1 Bidang Pangan dari Kementerian Pemuda dan Olah Raga RI.

 

Dimulai dari Pendidikan

Sebagai sarjana di bidang pertanian, Alfi mengakui masalah utama yang ada di lapangan adalah pendidikan yang rendah di antara para pelaku pertanian. Di sisi lain, teknologi pertanian yang ditelurkan kalangan akademisi kebanyakan hanya mengendap di meja laboratorium. Dia pun ingin dapat mempertemukan itu dalam sebuah wadah usaha bernilai ekonomi.

Tentu itu butuh modal. Tak kurang akal, Alfi pun mengikuti kompetisi kewirausahaan sosial yang menawarkan konsep pertanian yang dia inginkan dan berhasil. “Jadi setelah memenangkan kompetisi kewirausahaan itu, yang diselenggarakan di Singapore International Foundation hadiah berupa uang tunai sebanyak US$ 10 ribu saya mulai bangun research and development produk pertanian dan potensi market-nya, berkembang sampai sekarang,” paparnya.

Pada Oktober 2013 ia pun mendirikan AgriSocio. Menurut pemuda kelahiran Jakarta 17 Mei 1992 ini, dia memulai menerapkan ide bisnisnya itu di Desa Benteng. Alfi mengajak masyarakatnya untuk membudidayakan rempah-rempah. Hasil panen diproses oleh ibu rumah tangga dari keluarga petani. Hasil dari Desa Benteng ini adalah produk Indorempah, produk minuman instan yang terbuat dari jahe merah, cengkeh, kayu manis, cabe jawa, lada hitam dan bunga lawang dengan gula pasir dan gula aren.

Saat ini, IndoRempah telah tersertifikasi manajemen mutu ISO 9001:2008 dari Badan Stadarisasi Nasional. Itu berarti sistem manajemen AgriSocio dan PT Global Inovasi Hijau sudah terstandar nasional.

“Kalau sekarang kami punya 55 mitra kelompok petani, dan untuk basis pemberdayaan ada 21 desa,” ujarnya dengan bangga. “AgriSocio juga terus berkembang menjadi social enterprise global yang mempunyai manfaat dalam pengembangan kawasan desa dan pembangunan generasi peduli pertanian,” tambahnya.

Langkah itu berlanjut ketika dia melirik untuk mengolah makanan khas yaitu opak. Di tangan Alfi dan tim, opak disulap menjadi penganan berkelas, sejajar dengan snack yang terdapat di sebuah di mini market. Produk opak bermerek King Chips mulai diperkenalkan ke masyarakat pada Maret 2015. Dan hingga kini produksinya terus meningkat.

Baca juga :   Desa Online Dorong Pembangunan Yang Transparan

Kini dengan 22 karyawan AgriSocio mampu memproduksi 250 opak King Chips per harinya  dari 60 kilogram singkong. “Jadi bahan dasar untuk penganan ini singkong yang kami beli dari para petani di kawasan Cibanteng dengan harga lebih tinggi. Yang jelas, apa yang saya lakukan di sini ingin memberi keuntungan kepada petaninya,” tegas Alfi. Saat ini opak King Chips telah dipasarkan melalui 64 titik outlet independen se-Jabodetabek.

Di sisi lain, selain terus memproduk produk komersil, Alfi tidak lupa dengan langkah pengembangan wilayah pedesaan. Dia mengajak para relawan untuk berpartisipasi dalam mengembangkan produk lokal. Bahkan dia mengajarkan kepada masyarakat tentang bagaimana pengolahan bahan menjadi produk akhir yang memiliki nilai jual tinggi.

“Kami mengambil peran dalam kegiatan pengolahan bahan hingga menjadi produk akhir yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Mulai dari pengolahan pasca panen, pemasaran, model bisnis, branding, metode hulu hingga hilir,” ungkapnya.

 

Melalui pemberdayaan petani di beberapa desa di kawasan Bogor, AgriSocio mampu memproduksi beberapa produk yang dijual secara komersial (Foto: Fahrul Anwar/Youngster.id)

 

Pintar Membaca Pasar

Anak dari pasangan Achamd Faiz dan Intan Fatimah ini mengaku faktor penting untuk sustain dalam bisnis adalah menemukan market atau pasar. “Wirausahawan harus pintar membaca pasar, produk apa yang sedang banyak dimininati konsumen, apakah masih cukup kompetitif, apakah pasar sudah jenuh?,” ungkapnya.

Untuk itu Internet menjadi hal yang tidak bisa diabaikan lagi. Riset pasar dapat dilakukan melalui halaman pencarian/perambah seperti Google.

Selain itu, faktor produknya. Jka produk yang akan dijual adalah produk yang sudah banyak di pasaran maka ia harus memiliki produk yang berbeda dan lebih menarik. Misalnya berbeda dari sisi rasa (level pedas, varian rasa), kemasan yang menarik atau menambahkan informasi asal produk agar konsumen memiliki kedekatan emosional dengan petani.

Ia mengaku pernah melakukan promosi dengan cara membagikan King Chips secara cuma-cuma kepada konsumen lewat bazar dan acara tertentu. Termasuk memberi serangkaian bonus, memberdayakan reseller, serta berpromosi lewat jejaring maya.

“Bagi saya dari promosi itu akan memberikan hal positif nanti bagi kelangsungan sebuah usaha. Dari biaya promosi yang saya keluarkan juga tidak terlalu besar sampai harus merugikan perusahaan. Yang jelas dengan promosi tidak akan membuat rugi. Sebab, ketika produk yang dipasarkan telah dikenal dan familiar di benak konsumen, perusahaan dan petani akan memperoleh keuntungan yang lebih besar lagi, berupa peningkatan tingkat konsumsi produk yang berkelanjutan,” terangnya.

Baca juga :   Menangkan MEA Dengan UKM Berbasis Digital

Meski telah dikenal khalayak produk-produk milik AgroSocio. Alfi mengakui persaingan dalam usaha pasti akan ditemuinya. Termasuk tantangan dalam berusaha membesarkan nama perusahaan rintisannya ini.

“Misal ada produk impor, harganya pasti bersaing kan. Tapi saya selalu percaya bahwa konsumen AgriSocio adalah konsumen yang loyal karena kita peduli dengan mereka dan membuat mereka bangga ketika membeli produk ini. Karena ada social cost yang mereka keluarkan di sana dan mereka tahu apa yang mereka makan,” ujar Alfi.

Oleh kalu percaya bahwa konsumen Agrigerakkan oleh Alfi Irfan.arena itu, bagi Alfi tantangan terbesar adalah mempertahankan mutu produk. “Tantangan produksi saat ini beda dengan produksi kemari, dan beda dengan produksi besok. Ini kadang yang menjadi masalah di UMKM pada umumnya,” ujarnya.

Keberhasilan ini mengundang perhatian Development Bank of Singapore (DBS) sebagai bank mitra AgriSocio. Startup ini dinilai sebagai lembaga usaha yang sangat peduli terhadap sosial kemasyarakatan petani-petani di desa. Oleh karena itu DBS memilih Agrisocio sebagai salah satu penerima program Corporate Social Responsibility (CSR) DBS.

Kini produk AgriSocio telah dipasarkan di seluruh wilayah Jabodetabek, Banyuwangi dan Lampung. Alfi juga menjalin kerjasama dengan jaringan hotel, restoran dan kafe, sehingga produk dari Agrisocio dapat semakin luas.

“Ke depannya, saya ingin pasar bisa semakin diperluas, ingin lebih besar lagi. Dengan begitu, produk AgriSocio bisa dinikmati masyarakat luas sekaligus dapat menyejahterakan lebih banyak lagi petani,” pungkas Alfi penuh harap.

 

=====================================

Alfi Ifran

  • Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 17 Mei 1992
  • Pendidikan                : Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor
  • Mulai Usaha              : 16 Oktober 2013
  • Nama Usaha             : PT Global Inovasi Hijau
  • Modal Awal               : US$ 10 ribu
  • Omzet                      : sekitar Rp 100 juta/bulan
  • Alamat                     : Jl. Pabuaran Sawah RT.004/004 Cibanteng Ciampea Bogor 16620

Prestasi         :

  • 2nd Winner at International Scientific Confrence in Sunny State UniversityDebate, Ukraine 2012
  • Danone Young Social Enterpreneur 2012

====================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia