Amanda Susanti : Ingin Bantu Sejahterakan Petani

Amanda Susanti, Founder & CEO Sayurbox.com (Foto: Fahrul Anwar/Youngster.id)

YOUNGSTER.id - Gaya hidup sehat telah mendorong munculnya permintaan akan produk makanan sehat. Hal ini melahirkan bisnis produk makanan terutama sayur dan buah-buahan organik. Dibalik usaha ini tentu ada para petani.

Sayangnya mata rantai antara para petani dengan konsumen produk organik masih sangat panjang. Akibatnya harga produk ini pun menjadi mahal. Sementara kesejahteraan petani masih jauh dari yang diharapkan.

Berangkat dari masalah itulah Amanda Susanti membangun bisnis Sayurbox. Dia menghubungkan antara pasar dengan petani lewat teknologi digital.

“Kami ini sebenarnya fresh produce platform, dan berfokus memotong rantai distribusi. Jadi kita beli dari petani dan memberikan harga yang layak untuk mereka. Intinya kita membuat fresh produce ini sesuai visi kita available ke semua orang di Indonesia. Jadi dari petani langsung ke konsumen,” kata Amanda, founder sekaligus CEO dari Sayurbox kepada Youngster.id di Jakarta.

Aplikasi ini diluncurkan pada Juli 2016 lalu. Menurut dia, bisnis ini didasari oleh pemikiran panjangnya mata rantai produk pertanian ke konsumen. Akibatnya harga untuk konsumen tinggi, sedangkan petani pendapatannya malah kecil.

Diklaim Amanda, sampai sekarang sudah ada 300 jenis sayuran yang dijual di Sayurbox. Tak hanya itu, saat ini ada sebanyak 50 mitra petani yang bergabung dengannya, yang datang kebanyakan dari wilayah Jawa Barat.

“Sekarang ada sebanyak 50 mitra petani yang bergabung dengan Sayurbox. Saat ini, Sayurbox fokus pada ekspansi area pelayanan konsumen, terutama di area-area Jabodetabek yang belum dilayani oleh Sayurbox. Juga, perluasan jaringan mitra petani dan produsen lokal yang tergabung sebagai pemasok Sayurbox,” ungkap Amanda.

Dia menegaskan Sayurbox hadir untuk mencoba memenuhi kebutuhan buah segar dan produk sayuran berkualitas kepada warga ibukota. Ia adalah sebuah platform online yang menyediakan bahan segar dan produk sehat berkualitas dari petani dan produsen lokal Indonesia.

Sayurbox mengusung konsep bisnis farm-to-table yang memungkinkan konsumen untuk mendapatkan berbagai bahan segar dan produk berkualitas langsung dari petani dan produsen lokal. Media yang digunakan untuk memfasilitasi hal ini adalah platform online melalui situs dan selanjutnya layanan tersebut akan diperluas melalui aplikasi mobile.

Saat ini Sayurbox telah melayani lebih dari 8 ribu konsumen di area Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan Depok, dan jumlah ini terus bertumbuh setiap bulannya.

Baca juga :   RegoPantes, E-commerce Pertanian Untuk Warga Jabodetabek

Model bisnis farm-to-table yang ditawarkan Sayurbox ini membuatnya banyak menarik perhatian sejumlah investor. Misal, belum lama ini Sayurbox menerima pendanaan dari Patamar Capital dan beberapa angel investor lain. Perolehan seed funding ini diperkirakan berkisar US$ 200 – US$ 300 ribu. Sebelumnya mereka juga terpilih sebagai startup Plug and Play angkatan pertama.

 

Melalui Sayurbox, Amanda ingin menghubungkan antara pasar dengan petani lewat teknologi digital (Foto: Sayurbox.com)

 

Konsumsi Pribadi

Belakangan ini usaha rintisan di bidang pertanian memang tengah bertumbuh pesat. Namun sesungguhnya ketertarikan Amanda pada pertanian sudah sejak lama. Bahkan, tahun 2014 ia telah mengelola perkebunan organik di Sukabumi, Jawa Barat. Dia bersama rekannya Rama Notowidigdo dan Metha Trisnawati membangun bisnis online untuk memasarkan hasil panen petani langsung kepada konsumen.

“Sejak awal saya tertarik di bidang ini. Saya juga suka berkebun dan bangun bisnis ini benar-benar ingin membantu petani. Memang kalau dilihat latar belakang pendidikan saya kuliah di manejemen, jadi sebenarnya nggak nyambung dengan bisnis ini. Tapi dari awal bisnis ini berdiri, saya turun lapangan juga, membantu sekaligus mengedukasi para petani di lahan seluas 2 hektar yang saya miliki pertama kalinya,” kisah perempuan kelahiran Jakarta, 22 Juni 1990.

Awalnya hasil kebun miliknya ini hanya dikonsumsi Amanda pribadi, atau dipasarkan pada teman-teman terdekatnya. Namun kemudian dia melihat langkah yang dilakukan ini skalanya terlalu kecil untuk dapat menyejahterakan para petani.

Tidak berbeda dengan layanan serupa lainnya, Sayurbox memangkas cara konvensional antara petani dan penjual. Amanda yang lulusan Bisnis dari universitas di Inggris ini melihat bahwa cara untuk bisa menghubungkan antara petani dengan konsumen adalah melalui teknologi. Oleh karena itu, Amanda pun mengajak temannya Rama dan kemudian Metha bergabung membangun Sayurbox.

“Sistem pemesanan Sayurbox adalah pre-order (pemesanan di depan), sehingga meminimalkan jumlah bahan segar yang terbuang (waste). Setelah konsumen memesan, Sayurbox akan melakukan agregasi jumlah pesanan konsumen dan menginformasikan kepada petani mitra tentang jumlah bahan segar yang harus dipanen. Bahan segar yang baru dipanen kemudian dikirimkan ke hub Sayurbox untuk segera dikemas dan diantarkan kepada konsumen sesuai dengan pesanan,” ungkapnya.

Menurut Amanda dengan cara itu dia bisa membantu meningkatkan perekonomian petani ke arah yang lebih baik. “Senangnya bisa membantu petani, dan hobi saya berkebun tersalurkan. Selain itu, senangnya bisa membantu konsumen mendapatkan produk buah dan sayur yang lebih bagus, fresh tanpa pestisida dan memang produk susah dicari. Karena produk yang tanpa pestisida ini sangat diperlukan banyak orang, khususnya ibu hamil,” tuturnya.

Baca juga :   Pemerintah Implementasikan E-Commerce Pangan

Diakui Amanda, sebenarnya mengembangkan bisnis buah dan sayur berbasis teknologi ini tidaklah berlangsung mulus. “Karena produk yang kami jual ini merupakan hasil bumi, jadi ada semua hasilnya yang nggak bisa kontrol. Misal gagal panen, karena cuaca. Terus untuk secure supply-nya pasti ada tantangan tersendiri termasuk dalam hal edukasi ke petani kalau pasar membutuhkan produk, kita harus kerjasama dengan petani untuk menanamnya. Hal itu masih menjadi tantangan buat kami,” ungkapnya.

Di sisi lain, ada tanggung jawab baginya untuk mendidik para petani agar mampu menghasilkan produk dengan kualitas unggul. “Membutuhkan waktu untuk mendekatkan petani dengan dengan dunia digital biar mereka dekat dengan gadget. Di sini saya juga mengedukasi mereka agar lebih dekat dengan gadget, sebagai pendekatan sosial utama yang dilakukan untuk memperlancar usaha mereka. Selain itu, kami juga mengajarkan mereka seperti packaging produk. Jujur, semua ini memang makan waktu, tapi kami pelan-pelan tetap terus mengedukasi mereka. Tetapi anak-anak dari petani ini sekarang sudah banyak membantu bisnis ayahnya melalui handphone. Mereka memperkenalkan produknya melalui Sayurbox. Nah, sekarang kita sedang develope mereka melalui aplikasi kita: ada apa aja hasil panen mereka,” ungkap Amanda.

 

Amanda menginginkan petani sejahtera dan pertanian menjadi lahan yang seksi lagi (Foto: Fahrul Anwar/Youngster.id)

 

Mitra Lokal

Kini, dari hanya punya dua mitra, Sayurbox telah menggandeng 22 petani dan produsen lokal. Mereka dari Tangerang, Bekasi, Bogor, Depok, Sukabumi dan Bandung.

Mulanya, tim Sayurbox terjun sendiri ke lapangan untuk membidik para petani yang mau diajak bermitra. Lama-kelamaan, ada yang datang sendiri untuk menawarkan kerja sama itu. Petani yang digandeng pun tak sembarangan. Dari bibit, bebet, dan bobot hasil pertaniannya sangat dipertimbangkan. Sebab, mereka berfokus pada hasil sayuran organik yang high quality.

“Kami lihat dulu bagaimana cara menanam, bagaimana cara melakukan panen. Jadi, dari segi kualitas kami ingin petani dapat pengetahuan baru. Kami datang ke kebun. Pingin lihat kalau panenannya bebas pestisida. Lalu kami lihat, mereka punya sertifikat organik atau tidak,” ungkapnya.

Baca juga :   Aplikasi Etanee, Sedia Tiga Produk Pangan

Sebagai usaha Sayurbox tentu berharap mendapatkan keuntungan. Untuk itu, Amanda mengungkapkan strategi monetisasi yang diterapkan Sayurbox adalah melalui persentase laba (margin) dari setiap penjualan produk. Selain melalui persentase laba, Sayurbox juga memiliki monetisasi dari sistem konsinyasi (consignment) produk dari produsen mitra yang menjual produknya lewat platform Sayurbox.

“Untuk 2017 ini penjualan di Sayurbox sangat baik. Dan kalau untuk 2018 kami akan berusaha selalu tumbuh secara kontinyu dan membuat konsumen saya akan membuat engagement dengan customer lebih mudah cara mengordernya. Kami juga akan meningkatkan service dan tim. Termasuk menambah produk baru seperti ikan, beras, minyak dan daging. Pokoknya semua fresh produce. Dan, semua itu bisa dibeli di Sayurbox. Jadi orang nggak usah ke super market lagi, semua bisa dipesan dan dibeli melalui Sayurbox. Dan kami juga sudah menjual ke 70 hotel, resto dan cafe,” ungkap Amanda lagi.

Menurut Amanda, di tahun 2018 Sayurbox akan fokus pada ekspansi area pelayanan konsumen. Terutama di area-area Jabodetabek yang belum dilayani oleh Sayurbox. Juga, perluasan jaringan mitra petani dan produsen lokal yang tergabung sebagai pemasok Sayurbox.

Secara bertahap, Amanda ingin melakukan ekspansi ke kota lain. Bahkan, hingga seluruh Indonesia. Ia yakin, dengan jalan ini, agrikultur Indonesia akan maju, seperti layaknya di negara-negara lain. Selain itu, ia ingin membangkitkan semangat anak muda kembali ke ladang. Tak menganggap profesi petani sebagai pekerjaan yang rendahan.

Agriculture adalah salah satu kekuatan Indonesia sebagai bangsa. Tapi sayang sekali banyak tantangan yang dihadapi di agrokultur tapi belum ditemui solusinya. Jadi petani itu kayaknya kurang sejahtera. Kami ingin supaya pertanian itu jadi lahan seksi lagi, dan orang ingin balik lagi jadi petani,” pungkas Amanda.

 

=====================================

Amanda Susanti

  • Tempat Tanggal Lahir  : Jakarta 22 Juni 1990
  • Pendidikan                   : Manchester University, UK
  • Pekerjaan                   : Co Founder & CEO Sayurbox
  • Mulai Usaha                 : Juli 2016
  • Jumlah Karyawan        : 20 orang
  • Jumlah Mitra               : 22

=====================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia