Anak Muda Perlu Bangun Jiwa Sosiopreneur

Adellene Odelia Tanuri founder +SPARK Indonesia dan Stephanie Seputra founder dari MyEduSolve pada acara Fridate yang digelar DANA. (Foto: Stevy Widia/youngster.id)

youngster.id - Belakangan ini makin banyak anak muda yang memilih untuk menjadi entrepreneur. Hal itu dapat dilihat dari pesatnya pertumbuhan startup di Indonesia. Namun belum banyak yang memilih bidang social entrepreneurship. Padahal bidang ini bila dikembangkan dapat menuntaskan masalah sosial secara berkelanjutan.

Data terbaru dari startupranking.com menyebut Indonesia telah memiliki 2.079 perusahaan rintisan dan menempati posisi kelima di dunia. Namun belum banyak yang berkecimpung di bidang sociopreneur. Padahal ide bisnis kreatif berbasis sosial ini bisa membawa dampak pada masyarakat, dan bangsa Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Adellene Odelia Tanuri founder +SPARK Indonesia dan Stephanie Seputra founder dari MyEduSolve pada acara Fridate yang digelar DANA, Jumat (19/7/2019) di Capital Place, Jakarta.

Menurut keduanya, sosial entrepreneur itu merupakan solusi dari banyak masalah sosial di Indonesia termasuk di sekotr pendidikan, kesehatan, hingga tenaga kerja.

“Sesungguhnya bisnis sosial itu konsepnya tetap sama untuk mencari profit. Bedanya social valuenya lebih banyak dan dampaknya ke masyarakat jauh lebih besar,” kata Adellene. Menurut dia, anak muda sekarang harus bisa melihat bahwa apa yang mereka kerjakan masing-masing memiliki pengaruh pada lingkungan sekitar.

“Jadi jangan terlalu berpikir bahwa social entrepreneur itu harus besar dulu. Karena dengan kreativitas dari masing-masing kita meskipun kita bekerja di organisasi bisnis, kita tetap dapat memberi dampak pada lingkungan sosial. Jika kita baru dapat memecahkan masalah satu orang, itu artinya kita sudah mengubah dunia orang itu,” ucap anak dari Pierre Tanuri pemilik Bali United itu.

Adellene merupakan salah satu dari pendiri +Spark Indonesia, sebuah lembaga nir laba yang fokus pada pengembangan jiwa sosial entrepreneur kepada anak-anak muda Indonesia, terutama kalangan pelajar dan mahasiswa. Organisasi ini dibentuk Adellene bersama rekan-rekannya di AS pada tahun 2018.

“Kami mendorong anak-anak Indonesia yang bersekolah di AS untuk peduli dengan Indonesia, dengan komunitas dan lingkungan dengan ikut ambil bagian dalam membuat perubahan sosial, dan memberi dampak positif di masyarakat sehingga dapat memberi solusi bagi banyak masalah sosial,” ungkap Adellene.

Lain halnya dengan Stephanie Seputra, Chief Operational Officer MyEdusolve yang mengatakan kesadaran untuk membantu banyak orang itu penting. Karena dengan demikian, anak-anak muda tak sekadar mewujudkan mimpi mempunya penghasilan mapan, tetapi juga membangun mimpi orang lain.

Karena itu, dia memutuskan untuk pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan studi di AS dan membangun MyEduSolve pada awal 2019. Ini adalah platform pendidikan serta distributor utama dan satu-satunya untuk seluruh produk Certiport di Indonesia merupakan anak perusahaan dari Pearson Vue, pelopor dalam dunia sertifikasi.Mereka bekerja sama dengan pempimpin perusahaan software seperti Microsoft, Adobe dan Autodesk dalam mengembangkan dan melaksanakan ujian sertifikasi di seluruh dunia.

Belum lama ini MyEdusolve menggelar seleksi tingkat nasional Microsoft Office dan Adobe yang kemudian akan mengikuti kompetisi global di New York pada 28-31 Juli 2019. “Indonesia untuk pertama kali akan ikut kompetisi bergengsi ini dengan mengirimkan 9 anak muda,” ujarnya.

Chrisma Albandjar Chief Communications Officer DANA Indonesia mengatakan, kegiatan yang digagas oleh DANA ini untuk mendorong anak-anak muda, untuk memiliki pandangan tentang bisnis yang berdampak sosial. “Sebagai perusahaan teknologi kami juga ingin mendorong anak-anak muda untuk memberi dampak pada lingkungan sekitar. Tujuannya agar mereka tidak hanya bekerja untuk diri sendiri tetapi juga bermanfaat untuk masyarakat luas demi membangun Indonesia jadi lebih baik,” ucapnya.

STEVY WIDIA