Andi Taufan : Menjembatani Pelaku Usaha Pedesaan Mendapatkan Modal

Andi Taufan, Founder & CEO PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Financial technology (fintech) telah membuka kesempatan bagi setiap orang untuk memulai dan mengembangkan usaha. Termasuk, bagi mereka yang memiliki berbagai keterbatasan atau tidak memiliki kelayakan untuk mendapat akses layanan perbankan.

Selama ini, usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan sektor yang paling tahan terhadap krisis ekonomi. Bahkan, sektor ini merupakan pemberi kerja bagi lebih dari 99 juta rakyat Indonesia. Termasuk di dalamnya sektor usaha informal (UMKM) yang banyak dilakukan oleh masyarakat berpendidikan rendah, bermodal kecil dan prasejahtera tanpa akses ke layanan keuangan.

Nah, sektor informal ini mulai dilirik oleh pelaku fintech. Salah satunya adalah PT Amartha Mikro Fintek (Amartha), sebuah perusahaan rintisan peer to peer platform (P2P) yang memiliki semangat untuk mendorong sektor informal agar menjadi lebih berdaya. Caranya dengan menjembatani para investor dengan para pelaku sektor informal.

“Kami percaya semua orang berhak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh, maju dan sejahtera. Kehadiran kami di sini untuk memberikan pelayanan inklusi kepada masyarakat. Terutama masyarakat pedesaan. Selain itu, secara tidak langsung ingin mengajak semua kalangan untuk mulai berinvesatasi yang berdampak kebaikan untuk menuju Indonesia yang lebih baik lagi,” tutur Andi Taufan, Founder & CEO Amartha kepada Youngsters.id.

Menurut Taufan, UMKM adalah salah satu kunci penggerak ekonomi di Indonesia. Dengan begitu, semakin banyak masyarakat Indonesia berinvestasi di UMKM maka otomatis juga akan memajukan ekonomi sekaligus memperkecil ketimpangan ekonomi.

Untuk itu Amartha berinovasi dengan mengembangkan microlending untuk mewujudkan keuangan inklusif, yaitu dengan platform investasi online Amartha untuk para UMKM. Dengan demikian, masyarakat pelosok bisa mendapatkan akses ke modal usaha meskipun tidak memiliki rekening bank. “Amartha menyediakan opsi yang lebih terjangkau dengan bagi hasil yang kompetitif,” katanya.

Diklaim Taufan, sejak 2016 Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp 100 milyar kepada lebih dari 38,000 mitra usaha kecil dan mikro, dengan rata-rata tenor pijaman selama satu tahun. Bahkan, Amartha berhasil mencatatkan pertumbuhan penyaluran pinjaman mencapai 200%.

Dan sebagai layanan fintech, Amartha telah resmi terdaftar di Direktorat Kelembagaan dan Produk IKNB (Industri Keuangan non Bank) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan nomor regristrasi S-2491/NB.111/2017 sebagai Penyelenggara Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.

 

Tranformasi Teknologi

Lulusan S2 Bisnis Politic Harvard University, Amerika Serikat ini mengungkapkan bahwa startup Amartha ini berawal dari sebuah lembaga keuangan mikro konvensional pada tahun 2010. Ini berangkat dari keinginan Taufan untuk membuka akses finansial kepada masyrakat pedesaan.

“Kami sejak awal bertujuan untuk menjembatani pelaku usaha di pedesaan yang memiliki keterbatasan untuk mendapatkan permodalan. Di sisi lain kami juga turut memudahkan investor menemukan peluang investasi pada pembiayaan usaha mikro dan kecil (UMKM) di Indonesia,” ungkapnya.

Alumni Manajemen Bisnis ITB ini memulai dengan memberi pinjaman untuk usaha mikro di Ciseeng, Bogor, Jawa Barat. Melalui pendekatan sosial bisnis, Taufan membuat lembaga keuangan dengan sistem yang mudah dengan menggunakan pola pembiayaan kelompok. Usaha yang didirikan ketika dia berusia 12 tahun, membawa dia berguru ilmu micro finansial pada konsultan dan periset keuangan mikro, koperasi simpan pinjam, hingga pihak yang bekerja di World Bank.

Setelah menyelesaikan studi di Harvard University, Taufan mengubah Amartha dari lembaga keuangan mikro konvesional menjadi P2P yang menghubungkan investor dengan usaha mikro di pedesaan melalui pemanfaatan teknologi.

“Walaupun sudah ada lembaga-lembaga yang melayani masyarakat kecil, namun kekuatannya tidak sekuat itu untuk memberdayakan orang. Harus ada peranan lembaga keuangan mikro yang tidak hanya mendorong peningkatan financial capital, tapi juga menyeimbangkan social capital dengan masyarakatnya. Dan hal inilah yang sedang kami tawarkan melalui Amartha,” ungkapnya.

Melalui platform wesbsite yang menyediakan layanan pinjaman secara daring, Amartha bisa menjembatani pelaku usaha mikro untuk memperoleh pinjaman dari investor individu antara Rp 3 juta hingga Rp10 juta dengan tenor tiga, enam, dan 12 bulan.

Pembayaran angsuran dilakukan setiap minggu dengan tingkat bunga di kisaran 5%- 20%, tergantung besar risiko. Sementara, imbal hasil yang diterima investor bervariasi antara 10%-20%.

Menurut Taufan, pembiayaan akan terversifikasi mulai dari perbankan, institusi, dan investor individual. Taufan menekankan terwujudnya ekonomi inklusif di mana usaha mikro dan kecil mendapatkan akses ekonomi yang setara.

Di sisi lain, Amartha juga membuka kesempatan kepada banyak orang untuk bisa berkontribusi dalam mendorong usaha mikro pedesaan dengan cara yang mudah, aman, dan menguntungkan.

Setelah lima tahun, Amartha pun berkembang, jumlah karyawannya yang awalnya cuma 3 orang menjadi 70 orang. Yang menarik NPL (non performing loan) alias pinjaman macet selama lima tahun adalah 0%. Hal ini tidak terlepas dari sistem Amartha yang fokus pada pendampingan dan pembentukan kelompok.

 

Melalui Amartha, Andi Taufan ingin memberdayakan usaha mikro pedesaan (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

 

Hubungan Kemanusiaan

Lelaki kelahiran Jakarta, 24 Januari 1987 ini melihat peluang untuk mengembangkan Amartha semakin besar lewat layanan fintech. Pasalnya, sistem simpan pinjam konvensional terbilang tidak scalable.

“Kami berpikir ini saatnya untuk lebih meningkatkan coverage, baik dari sisi peminjam maupun investor,” ujar Taufan.

Hal ini yang mendasari perubahan konsep Amartha Microfinance menjadi Amarta Micro Fintek. Jika sebelumnya berbentuk koperasi, kini menadi fintek berbasis P2P. Pada konsep ini Amartha menjadi platform yang mempertemukan investor dengan pemohon pinjaman. Baik investor maupun pemohon pinjaman cukup mengunjugi Amartha.com untuk menyalurkan investasi atau mendapatkan pinjaman.

Untuk itu Taufan mengaku perlu membangun kepercayaan. “Yang membedakan kami di sini, dari segi human relationship-nya dan hubungan itu kelihatan. Jadi ketika kami datang, di sini kami bukan nagih uangnya tetapi mereka memang sudah tahu kalau harus membayar hutangnya dan menabung. Di sini kami juga memberikan edukasi. Salah satunya kami ajarkan tentang kebutuhan dan keinginan, dan kami ajarkan mereka bagaimana cara meminjam dengan bijak supaya jangan terlalu banyak. Jadi mereka bisa mengukur kemampuan dengan penghasilan keluarganya per minggu,” paparnya.

Sementara bagi para investor, Amartha menyediakan informasi peminjam dengan menyeluruh, seperti peruntukan pembiayaan, latar belakang, hingga skor kredit yang dimiliki.

“Yang jelas, di sini sebelum pinjaman diberikan, dengan tim yang ada kami akan melakukan verifikasi bagi si calon peminjam tersebut misalnya, melalui pertemuan mingguan, kelompok saling mengawasi dan memitigasi untuk perkembangan usaha dan keungan setiap anggota,” ungkapnya.

Menurut Taufan, besar kecilnya return bergantung pada tingkat risiko pemohon. Jika pemohon belum memiliki credit history, return-nya akan lebih tinggi karena dianggap lebih berisiko. Begitupun sebaliknya, jika pemohon sudah terbukti terpercaya dan tidak pernah lalai membayarkan pinjaman return-nya akan lebih kecil.

“Besaran return-nya untuk investor itu sekitar 10% hingga 20%, dan sebagai penyedia platform Amartha akan mengenakan fee sebesar 1% dari investor dan 5% – 10% dari pemohon pinjaman,” terangnya.

Semua ini dibangun berdasarkan kepercayaan. “Dengan platform ini, pendanaan Amartha tidak cuma dari teman atau bank saja namun juga dari masyarakat luas. Ketika pendanaan terus membesar, pengusaha kecil yang dibantu pun akan semakin banyak,” ucapnya.

Taufan menyebut pihaknya menargetkan 100 ribu peminjam di tahun 2017 dan 1 juta peminjam di tahun 2020. Untuk itu, Taufan berencana akan melebarkan sayap layanan Amartha ke seluruh wilayah di pulau Jawa. “Inginnya nanti semakin meluas bisa ke Sumatra, Kalimantan dan wilayah Timur Indonesia juga terjangkau. Dengan begitu, kami bisa membangun kembali nilai gotong royong untuk kemajuan ekonomi yang lebih merata,” harapnya.

Dia berharap usaha yang dirintisnya itu nantinya bisa berkembang ke seluruh pelosok daerah di Indonesia untuk membantu perekonomian para ibu rumah tangga di jajaran akar rumput. “Jadi kami bisa membangun kembali nilai gotong royong untuk kemajuan ekonomi yang lebih merata,” tutur Taufan.

 

========================================

Andi Taufan Garuda Putra

  • Tempat Tanggal Lahir             : Jakarta 24 Januari 1987
  • Pendidikan Terakhir                : Master of Public Adminstration dari Harvard University
  • Usaha                                    : PT Amartha Mikro Fintek (Amartha)
  • Jabatan                                  : Founder & CEO
  • Mulai Usaha                            : 2010
  • Modal Awal                            : Rp 10 juta
  • Karyawan                              : 70 orang
  • Dana Tersalur                         : Rp 100 miliar
  • Penerima Dana                       : 38.000 UKM

Prestasi :

  • Penerima Ashoka Young Change Makers Awards Desember 2010.
  • Finalis Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI), Juli 2011.
  • Penerima SATU Indonesia Awarddari Astra International Oktober 2011.
  • Finalis Indonesia MDGs Awards, Februari 2012.
  • Global Shapers by World Economic Forum April 2012.
  • Indonesia’s Inspiring Youth and Women by Indosat, November 2012.
  • Laureate Global Fellow Oktober 2013.
  • Ganesha Innovation Championship Awards 2014.
  • Ten Outstanding Young Person Indonesia (TOYP) 2014 from the Junior Chamber International April 2014.
  • Indonesia Youngster Inc Entrepreneur Champion from SWA Magazine 21 Juni 2014.

========================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia