Categories: Featured Technopreneur

Andrew Darmadi dan Sonja Johar : Kembangkan Chatbot Untuk Majukan UMKM dan Para Ibu

Share

Jika membahas tentang perkembangan teknologi memang tak ada habisnya. Misalnya, kemajuan pesat Artificial Intelligence (AI), Machine Learning, Deep Learning, dan big data analytics telah melahirkan aplikasi chatbot. Belakangan chatbot mulai menjadi primadona layanan dari perbankan hingga UMKM.

Menurut Kamus Oxford, chatbot adalah program komputer yang dirancang untuk mensimulasikan percakapan dengan pengguna manusia, terutama melalui internet. Belakangan jika kita masuk ke sebuah situs belanja online, akan mendapat ‘sapaan seseorang’ melalui kotak chatting. Sebetulnya yang menyapa kita bukan manusia, melainkan robot chatting, alias chatbot.

Pada laman atau aplikasi toko online, chatbot biasanya akan mengarahkan Anda untuk membeli produk tertentu, hingga memandu pembayarannya. Begitu juga perusahaan penyedia jasa seperti perbankan kerap menggunakan chatbot untuk menggantikan beberapa fungsi operator call center.

Rupanya, chatbot telah lama ada. Chatbot mulai dikembangkan sekitar dekade 1960-an. Di awal kemunculannya, chatbot benar-benar terkesan seperti robot, kaku. Namun kini berkat kehadiran AI, chatbot memiliki kemampuan dengan rasa percakapan yang lebih natural.

Perusahaan riset yang berbasis di Amerika Serikat (AS) Juniper Research melaporkan, penggunaan chatbot oleh industri retail, perbankan, dan kesehatan tahun ini bisa menghemat biaya operasional hingga US$ 6 miliar atau sekitar Rp 86,4 triliun. Angka itu diprediksi meningkat hingga US$ 11 miliar pada 2023. Chatbot bisa mengurangi waktu interaksi antara perusahaan dengan konsumen melalui telepon dan media sosial, sehingga biayanya lebih murah.

Hal ini membuat semakin banyak perusahaan mengadopsi chatbot. Teknologi robot chatting atau chatbot kini tak hanya bisa diakses perusahaan-perusahaan besar. Sebab, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pun bisa menyapa pelanggan dengan chatbot. Salah satu yang menawarkan chatbot bagi pelaku UMKM adalah Halosis.

Startup yang berdiri akhir 2017 ini memang menyasar market UMKM. “Halosis ingin mendukung UMKM untuk membangun hubungan dengan konsumen, sehingga timbul persaingan yang sehat,” ungkap Andrew Darmadi, Co-founder & CEO Halosis saat ditemui youngster.id belum lama ini.

Menurut Andrew, UMKM mewakili jumlah kelompok usaha terbesar dan terbukti menjadi katup pengaman perekonomian nasional dalam masa krisis, serta menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi pasca krisis ekonomi. Selain menjadi sektor usaha yang paling besar kontribusinya terhadap pembangunan nasional, UMKM turut menciptakan peluang kerja yang cukup besar bagi tenaga kerja dalam negeri, sehingga sangat membantu upaya mengurangi pengangguran.

“Oleh karena itu perlu adanya kesadaran banyak pihak untuk mengembangkan UMKM di Indonesia agar terciptanya kesejahteraan masyarakat. Pastinya kehadiran Halosis ini menggabungkan teknologi dan personality untuk mengembangkan sistem jual beli yang cepat, simple dan personal,” ujarnya.

Terinspirasi Ibu RT

Halosis merupakan startup e-commerce dengan fitur asisten andalan jualan online untuk menghasilkan lebih banyak orderan dengan mudah. Asisten profesional Halosis akan membantu dalam membalas chat, menerima order, mengelola stok dan produk, menunggu kepastian dari customer, hingga menangani keluhan dan menerima masukan.

Andrew mengungkapkan, platform Halosis sedikit banyak terinspirasi dari ibu-ibu rumah tangga yang menjadi tulung punggung bagi keluarga. Saat ini ada sekitar 34 juta wanita yang dapat dibantu dengan kemajuan teknologi untuk dapat dengan mudah dan lebih efektif ketika berjualan melalui sosial media.

“Halosis sedikit banyaknya terinspirasi dari ibu-ibu rumah tangga yang menjadi tulang punggung keluarganya. Dari situ kami melihat masalah dan jumlahnya cukup besar yaitu ada sekitar 34 juta wanita di Indonesia yang butuh bantuan. Dengan bantuan teknologi Artificial Intelligence ini, contohnya dengan chatboard, mecin learning, kami dapat membantu kaum wanita tersebut menjadi lebih efektif untuk dapat berjualan melalui sosial media,” ucap Andrew.

Dia menjelaskan, UMKM bisa menyematkan tautan webchat Halosis di profil Instagram, Facebook, hingga aplikasi percakapan seperti Line ataupun Facebook Messenger. Nantinya, chatbot Halosis menyapa pelanggan para penjual dengan kalimat, “Hai! Saya Halosis, virtual assistant. Dengan siapa saya bicara?” Lewat webchat itu, pelanggan bisa bertanya perihal stok produk, harga, hingga ongkos kirim.

Selain itu, webchat Halosis akan menyertakan tautan atas produk-produk yang tersedia di UMKM mitranya. Dengan begitu, pelaku UMKM tak perlu lagi sibuk menjawab pertanyaan repetitif pelanggan. Konsumen pun bisa mendapat info lengkap lewat chatbot Halosis. Fitur-fitur seperti inilah yang disediakan Halosis, supaya pelaku UMKM bisa meningkatkan transaksi secara efektif dan efisien. “Kalau berjualan di e-commerce menawarkan diskon untuk menarik konsumen, kami menawarkan kemudahan,” kata Andrew.

Diklaim Sonja Johar, Co-founder & CTO Halosis, saat ini Halosis sudah membantu lebih dari 6.000 UMKM dengan jumlah pelanggan lebih dari 200 ribu.Juga, ekosistem Halosis sudah terhubung dengan berbagai pihak pendukung, seperti aplikasi messaging (Facebook Messenger), mitra ekspedisi seperti JNE, SiCepat, J&T Express, aplikasi ewallet (Ovo), dan perbankan (BCA) untuk mengakomodasi seluruh transaksi online.

“Layanan yang sudah terintegrasi ini, membuat pengalaman konsumen saat berbelanja di toko online UKM jadi lebih baik. Dengan ekosistem yang telah terbentuk menjadikan model bisnis yang diterapkan lebih mudah ke berbagai pihak,” kata Sonja.

Menurut Sonja, asisten virtual versi terbaru Halosis yaitu Hana didukung teknologi kecerdasan buatan (AI) dan Natural Language Processing (NLP) karya Kata.ai. Dukungan teknologi NLP ini memungkinkan Hana untuk berinteraksi dengan pelanggan dengan lebih mulus dan alami.

Selain itu, personalitas yang ditawarkan Halosis ini juga didukung tim yang bertugas membantu sistem atau chatbot berinteraksi dengan pelanggan secara personal. Kehadiran asisten virtual yang ditawarkan Halosis bertujuan mempercepat UMKM dalam memanfaatkan teknologi dan digitalisasi, salah satunya via media sosial.

“Dalam waktu 1,5 tahun kami dapat penghargaan dari Gojek tahun 2019 lalu best local startup yang mendukung UMKM,” klaim Sonja dengan bangga.

Depan Layar

Andrew menegaskan Halosis aktif mengadakan kegiatan untuk mendukung para pelaku UMKM dan kaum ibu.

“Kami nggak berdiri di belakang layar, tetapi kami sangat aktif mengadakan event-event untuk ibu-ibu dan pelaku UMKM. Hal itu yang membedakan kami dari platform yang lain,” kata Andrew.

Mereka juga berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk bisa memberikan kenyamanan bagi para pengguna. “Karena pemilik/pengusaha UKM juga terhubung dengan inventory management system, dengan begitu supaya konsumen enggak marah kalau barangnya sudah habis. Sampai saat ekspedisi juga telah terhubung, ada nomor resi yang segera dikirimkan begitu konfirmasi pembayaran sudah diterima. Bisa langsung pantau proses pengirimannya,” jelas Sonja.

Sebagai mitra, Halosis juga akan membantu merchant menghasilkan lebih banyak penjualan dengan layanan yang beragam, mulai dari sisi media sosial, marketing hingga profesional. Sonja menambahkan, dari sisi pengusaha Halosis dapat memantau seluruh pemesanan yang masuk dari berbagai platform messaging dalam dashboard. Lebih dari itu, di sisi lain pengusaha juga dapat mengirimkan kode tracking dari mitra kurir ketika barang sudah dikirim ke konsumen via chat room.

Sonja mengklaim pada tahun lalu Halosis telah membantu seluruh mitranya menghemat waktu sampai 500 ribu jam.

“Karena yang kami lihat selama ini untuk kirim barang, UKM butuh waktu lama karena harus manual setiap transaksi yang masuk, belum lagi harus konfirmasi pembayaran. Ada mitra kami yang baru bisa kirim barang tiga hari kemudian setelah konfirmasi terima,” kisahnya.

Untuk layanan dasar tersebut, Halosis tidak mengenakan biaya kepada penjual. Namun, Halosis juga menyediakan layanan premium dan enterprise seharga Rp 500 ribu dan Rp 1 juta per bulan. Melalui layanan itu, Halosis menyediakan jasa analisa perilaku konsumen, laporan penjualan, dan yang lainnya.

“Dengan terobosan chatbot ini, Halosis berharap para pedagang UMKM lewat media sosial dapat dengan mudah membuat konsumen yang penasaran jadi membeli, sehingga mempercepat perkembangan bisnis UMKM di Indonesia. Selain itu, personalitas yang ditawarkan Halosis ini juga didukung tim yang bertugas membantu sistem atau chatbot berinteraksi dengan pelanggan secara personal. Kehadiran asisten virtual yang ditawarkan Halosis bertujuan mempercepat UMKM dalam memanfaatkan teknologi dan digitalisasi, salah satunya via media sosial,” papar Sonja.

Andrew Darmadi dan Sonja Johar mengembangkan teknologi chatbot, dengan tujuan untuk membantu kinerja UMKM dan para ibu yang berbisnis (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

Pendanaan

Diakui Andrew, dalam perjalanan mengembangkan startup Halosis ini pihaknya menemui banyak kendala. “Suka duka mendirikan Halosis selama 2 tahun, memang nggak semudah meyakinkan orang dengan apa yang ingin kami lakukan. Banyak yang bertanya Halosis mau bantuin UMKM, ibu-ibu lagi mana ada uangnya. Apalagi melihat dan ketemu ibu-ibu yang kurang familiar dengan hape, memang susah banget ya. Sehingga dari segi angle, banyak orang menganggap apa yang kami lakukan ini impossible. Tetapi buat kami ini justru menjadi tantangan yang harus dipecahkan,” kisahnya.

Bahkan, Abdrew dan Sonja tidak menjadikan itu sebagai halangan. “Kami memandang sesuatu dengan cara positif. Saya yakin kendala yang kami hadapi juga pastinya dihadapi oleh startup-startup lain,” ujarnya lagi.

Keyakinan itu membuat Halosis berkembang pesat. Saat ini mereka telah didukung oleh 50 talenta, dan rencananya akan ditambah menjadi 150 sampai 200 SDM.

“Bersyukurnya lagi kami banyak menerima dukungan dari berbagai pihak sampai kami mendapat undangan dari Google langsung ke Silicon Valley. Jadi kami bertemu dengan orang-orang yang tidak pernah kami sangka bisa ketemu, sehingga tercipta kolaborasi berdasarkan Halosis. Jadi bukan berkat saya individu, tapi berkat kolaborasi yang dilakukan,” tambahnya

Potensi dari startup ini juga telah dilirik oleh investor. Pada pertengahan 2017, Halosis memperoleh dana segar US$ 1,2 juta atau sekitar Rp 17 miliar. Rencananya, Halosis mengumpulkan modal melalui putaran pendanaan seri A hingga akhir tahun ini atau awal 2020. Namun, Andrew belum mau menjelaskan penggunaan dana segar tersebut.

“Kami akan melakukan banyak pengembangan. Jika awalnya kami hanya membantu media seller, ke depan kami akan mengembangkan untuk membantu mereka yang ada di berbagai channel. Contohnya yang berjualan di marketplace yang punya toko offline. Target kami ingin menciptakan satu juta lapangan pekerjaan bagi para wanita dan 500 ribu UMKM pada tahun 2022,” pungkas Andrew.

===================

Andrew Darmadi Darmawan

  • Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 15 November
  • Pendidikan                 : MBA, Washington University SaintLouise, AS
  • Jabatan                     : Co-founder & CEO

Sonja Johar

  • Tempat Tanggal Lahir  : Witten, Jerman (35 tahun)
  • Pendidikan                 : Computer Science, Cal Poly Pomona
  • Jabatan                     : Co-founder & CTO

  • Usaha yang dikembangkan : Membuat teknologi chatbot
  • Nama brand                      : Halosis
  • Nama Perusahaan              : PT Hasil Sukses Indonesia
  • Mulai usaha                      : 2017
  • Jumlah Karyawan              : sekitar 50 orang
  • Prestasi                            : The Best Startup Local by Gojek 2019

======================

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia

Leave a Comment

This website uses cookies.