Angga Ajiputra: Tampilkan Batik dan Tenun dalam Konsep Kekinian

Angga Ajisaputra, Cofounder & CEO Negarawan (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

youngster.id - Batik telah menjadi bagian dalam busana di Indonesia. Belakangan sejumlah anak muda melakukan eksplorasi akan aneka motif batik di Indonesia dan menjadikannya sebagai produk dengan konsep modern yang kekinian.

Harus diakui batik dan produk batik memiliki potensi yang sangat besar untuk digali. Apalagi ada ratusan, bahkan ribuan motif batik yang ada di Indonesia. Dan itu kerap membuat bingung ketika memilih. Peluang ini yang ditangkap oleh dua anak muda, Angga Ajiputra dan Mahanugra Kinsana dengan mendirikan brand batik Negarawan.

Mereka menghadirkan aneka motif batik Indonesia dengan konsep yang modern. Busana berlabel Negarawan ini mengambil fitting modern dengan corak motif ekslusif dan harga terjangkau. “Kami ini adalah media untuk memberitahu dunia bahwa hasil karya budaya Indonesia itu patut dan layak untuk dipakai,” ucap Angga kepada youngster.id belum lama ini.

Angga mengungkapkan mereka memilih nama Negararawan sebagai bentuk kecintaannya kepada Tanah Air kepada wastra Indonesia, terlebih bentuk kepedulian kepada negeri dalam memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi Indonesia khususnya.

“Jadi kenapa kami memilih nama Negarawan karena sama seperti artinya orang yang memberikan sesuatu kepada Negara. Kami ingin berkontribusi untuk menggaungkan visi bahwa karya anak bangsa memiliki kualitas dan nilai yang membanggakan,” kata Angga lagi.

Tak sekadar membuat busana, konsep Negarawan ini dapat berkolaborasi dengan produk lain seperti furniture. Belum lama ini, bekerjasama dengan Fabelio, Negarawan menginterpretasikan motif batik Indonesia ke kursi, lemari kabinet, koleksi bantal sofa, cedenza dan sofa. Hasilnya terlihat sangat unik dan khas Inonesia. Ada 17 produk furnitur Fabelio edisi terbatas yang dihias oleh 8 motif batik Indonesia yang diinterpretasikan tim desainer Negarawan.

“Aplikasi batik pada furnitur ini dirancang lebih soft. Bukan batik tulis, melainkan batik cetak pada kain khusus untuk furnitur. Karena itu warna-warnanya juga lebih lembut macam custord dan tilt,” jelas Angga.

Langkah inovatif ini menjadikan Negarawan memiliki nilai tersendiri. Sentuhan wastra batik dan tenun menjadikan produk ini khas Indonesia dan tidak dimiliki negara lain.

“Yang nggak kalah penting di sini kami ingin mengedukasi masyarakat apa yang sebenarnya terjadi di industri batik dan tenun di Indonesia. Industri batik dan tenun itu adalah padat karya jadi memang harus kami edukasi masyarakat,” ungkapnya.

Baca juga :   Alleira Bawa Batik Indonesia Ke Kawasan Elit Fashion Dunia

Harus diakui bahwa industri batik adalah industri memiliki komparatif dan keuntungan kompetitif. Sentuhan wastra seperti batik dan tenun menjadi ciri khas produk Indonesia yang tidak dimiliki negara lain. Bahkan, Kementerian Perindustrian mengklaim Indonesia menjadi pemimpin pasar di industri batik dunia. Dan potensi ini masih dapat terus dikembangkan.

 

Kini, Angga mampu memproduksi 400 potong batik Negarawan setiap bulannya, yang djual mulai Rp 400 ribu hingga Rp 900 ribu (Foto; Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Selera dan Kebutuhan

Angga mengaku bisnis ini dimulai dari kegemaran dia dan Mahanugrah mengenakan busana berbahan batik dan tenun. Bahkan, mereka mengenakan busana ini hampir setiap kesempatan. Namun, sebagai anak muda mereka ternyata sulit menemukan busana batik dan tenun yang sesuai dengan selera.

“Saat itu kami jarang menemukan batik yang bisa mendukung selera dan keinginan anak muda. Selain itu, permasalahan yang kami temukan adalah produk yang sangat bagus dengan harga yang terlalu tinggi, produk dengan harga murah tetapi dengan kualitas murahan pula. Atau, kemeja yang didesain dengan potongan yang kuno alias tidak pas dengan selera kami. Alhasil, kami sering membeli kain dan menjahitnya secara terpisah. Tapi metode ini sangatlah merepotkan dan memakan waktu. Kami juga yakin banyak teman-teman seantero negeri ini yang mempunyai permasalahan yang sama,” kisah pemuda kelahiran Jakarta, 6 Februari 1990 itu.

Untuk memberikan solusi atas permasalahan itu, Angga dan Mahanugra memutuskan untuk membangun merek fesyen sendiri. Fokus mereka adalah produk busana pria berbahan batik dan tenun dengan corak ekslusif, dengan fitting modern serta harga yang terjangkau.

“Secara fundamental produk kami kami ini batik dan tenun, tapi yang telah kami kurasi dari berbagai motif sehingga memang cocok dengan jiwa anak muda. Selain itu kami juga menghadirkan fiting yang baik digunakan untuk anak muda. Karena bagi kami batik itu nggak harus terlihat tua, bahkan bisa dipakai oleh semua kalangan,” tegas Angga.

Dia mengungkapkan modal awal dari usaha ini sekitar Rp 60,3 juta. Mereka pun meluncurkan tiga jenis koleksi Negarawan dengan nama yang unik. Ada Negarawan Fit yang berbahan dasar tenun dengan model kemeja pria lengan panjang dengan ciri khas kerah kokoh dan potongan batik slim fit. Produk ini dirancang untuk memberikna penampilan ramping, karismatik dan gagah.

Baca juga :   Jepang Siap Kerjasama Dengan UKM Otomotif Indonesia

Kemudian koleksi Pejabat Fit adalah tenun kemeja batik lengan panjang dengan potongan “loose fit” yang didesain ekslusif dan terkesan formil. Dan terakhir adalah Perwira Fit yang merupakan tenun hem batik lengan pendek dengan ciri simple dan nyaman untuk mobilitas.

Konsep  kemeja batik modern yang diluncurkan sejak tahun 2014 ini dilakukan melalui toko online. Rupanya minimnya busana batik untuk pria membuat Negarawan langsung mendapat sambutan hangat dari pasar. Diklaim Angga, dalam sebulan mereka memporduksi sekitar 400 potong dengan rentang harga mulai dari Rp 400 ribu hingga Rp 900 ribu.

“Karena nggak semua orang menyukai batik yang cokelat mengkilap khas pejabat dan nggak semua orang suka dengan batik lengan pendek. Dan kami menyediakan kebutuhan itu. Mulai dari motif batik Kawung, batik Hasanuddin sampai batik Begawan pun ada,” ucap Angga.

 

Angga Ajisaputra, melalui merek batiknya Negarawan berusaha menampilkan batik dan tenun dengan konsep kekinian (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Gandeng Pengrajin Lokal

Untuk mendukung perkembangan bisnisnya Negarawan turut menggandeng para pengrajin batik lokal serta pengrajin tenun dari berbagai daerah di Indonesia.

“Untuk keperluan bahan, selain menggandeng pengrajin batiknya, di sini kami juga menggandeng para pengrajin tenun dari berbagai daerah. Ada dari Makassar, Garut, Cirebon, Pekalongan dan berbagai daerah lainnya,” katanya.

Tentu langkah ini tidak mudah. Mengingat peta persaingan di industri batik juga cukup ketat. Namun Angga mengaku persaingan itu menunjukkan bahwa industri ini berjalan baik. “Menurut saya ini bukan kompetisi secara langsung. Bahkan kami bersama-sama membangun industri kreatif. Dengan persaingan kami akan melakuan yang terbaik bagi industrinya,” tegas Angga.

Menurut Angga, visi besar Negarawan bukan sekadar produksi dan penjualan. “Kami ingin mendorong industri kreatif khususnya batik dan tenun supaya terirformasi dan teredukasi dengan baik sama masyarakat. Jadi nggak cuma UNESCO yang mengukuhkan batik sebagai milik Indonesia tetapi kami secara individu harus dan Negarawan kepingin sekali berada di medium itu,” kata Angga lagi.

Lebih lanjut, Angga berharap sebagai upaya meluaskan bisnis semakin berkembang. Ekspor menjadi tujuan Angga dan rekannya membawa brand fesyen batik dan tenun ini.

Baca juga :   Pameran Gelar Batik Nusantara ke 10 Siap Digelar

Sebelumnya, Kemenperin telah menetapkan industri fesyen sebagai salah satu industri prioritas yang terus dikembangkan. Pada 2017, nilai perdagangan produk pakaian jadi dunia mencapai US442 miliar. Sementara kinerja ekspor industri fesyen Indonesia meningkat 8,7% dan mencapai US$13,29 milyar. Ini menjadi peluang besar bagi industri fesyen, terutama batik dalam meningkatkan pangsa pasarnya.

Peluang ini juga yang ingin diambil Negarawan. “Kami ingin banget bisa merambah ke pasar di seluruh Asia Tenggara. Ekspor nantinya menjadi tujuan kami juga, dan sudah ada beberapa pembeli yang datang dari mancanegara seperti Malaysia. Tetapi kalau di Indonesia pembeli yang paling jauh itu sudah datang dari Aceh dan Papua,” ungkap Angga.

Meski demikian, Angga mengatakan, Negarawan sebagai entitas selalu mendorong dan mengedepankan individu maupun kelompok yang berupaya memajukan Indonesia dari apapun yang dikerjakannya, karena setiap orang dan kelompok punya caranya masing-masing untuk berkontribusi kepada bangsa dan negaranya. Ia juga mendukung penuh para putra bangsa yang ingin maju atau bahkan sudah berkecimpung dalam kewirausahaan, karena ini adalah roda penggerak ekonomi bangsa.

“Saya berharap para negarawan muda dapat lebih mengapresiasi produk lokal khususnya yang menampilkan wastra Indonesia. Saya juga berharap apa yang kami lakukan ini dapat menjadi inspirasi dan acuan bagi lebih banyak negarawan muda agar tergerak memajukan industri kreatif,” pungkasnya.

 

=====================================

Angga Ajiputra

  • Tempat Tanggal Lahir : Jakarta 6 Februari 1990
  • Pendidikan Terakhir    : Master of Commerce, Macquarie University
  • Mulai Usaha               : 2014
  • Jabatan                     : Cofounder & CEO Negarawan
  • Nama Brand              : Negarawan
  • Modal Awal                : Rp 60,3 juta
  • Omset                       : sekitar Rp 150 juta – Rp 200 juta perbulan

=======================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia