Anthony Gunawan : Mengumpulkan Para Pedagang Kuliner Dalam Satu Wadah

Anthony Gunawan, Founder & CEO Wakuliner (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - Dalam dua dekade terakhir ini, perkembangan teknologi informasi telah membawa manusia untuk menciptakan berbagai inovasi. Bermacam kebutuhan yang dulu terhambat masalah jarak dan kesulitan komunikasi, kini dengan mudah bisa teratasi. Termasuk dalam hal kuliner.

Indonesia yang berpenduduk lebih dari 250 juta orang merupakan lahan yang luas bagi para pemain dalam bisnis aplikasi dalam jaringan (daring) ini. Tingginya penetrasi internet dan penggunaan ponsel di Indonesia telah membuka peluang bisnis daring. Hal itu bisa dilihat dari terus bermunculannya pemain e-commerce dan marketplace di Tanah Air. Salah satunya adalah Wakuliner, yang diinisiasi Anthony Gunawan.

“Wakuliner adalah marketplace e-commmerce dan agregator bisnis pertama yang fokus pada produk kuliner di Indonesia,” klaim Anthony, Founder dan CEO Wakuliner kepada Youngsters.id.

Anthony mengklaim Wakuliner sebagai marketplace e-commerce yang pertama, karena layanan ini memang fokus pada produk dan layanan kuliner. Jadi, sesuai namanya yang merupakan singkatan dari Wadah Kuliner, layanan ini menyediakan beragam jenis produk dan layanan kuliner yang bisa diakses melalui ponsel.

Sesungguhnya sama dengan e-commerce lain, Wakuliner menjadi marketplace yang menampilkan toko-toko online di dalamnya. Tetapi toko-toko tersebut hanya menjual khusus makanan. Saat ini, sudah ada 3.600 merchant mulai dari restoran, kafe, foodcourt hingga aneka produk kuliner khas bergabung di dalam Wakuliner.

Anthony mengakui langkahnya membangun e-commerce yang fokus pada kuliner karena melihat peluang industri kuliner di Indonesia sangatlah besar. “Industri kuliner tak ada matinya. Oleh karena itu, saya memberanikan diri membangun marketplace e-commerce khusus kuliner ini,” ucapnya.

Data Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) menyatakan di kuartal I tahun 2017 industri makanan dan minuman tumbuh besar di kuartal I dengan angka 8,15%. Bahkan, industri ini mampu memberikan kontribusi sebesar 33%  dari Produk Domestik Bruto (PDB) non migas Indonesia.

Tak heran jika sektor kuliner menjadi salah satu andalan ekonomi kreatif. Sayangnya, pelaku usaha ini banyak yang masih terkendala dalam hal permodalan. Apalagi untuk membuat sebuah platform digital membutuhkan dana yang tidak sedikit. Untuk itulah Wakuliner hadir dan menawarkan kemudahan lewat platform agregator ini.

“Kami ingin berbagi ekonomi dengan para pelaku usaha kuliner. Oleh karena itu, Wakuliner mengadopsi sistem C2C (costumer to customer) dan B2C (business to consumer). Artinya, masyarakat umum dapat membuat toko online dan berjualan melayani masyarakat pada marketplace Wakuliner dengan mudah dan gratis,” ucap Anthony. Dia berharap dengan konsep ini, akan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan industri kuliner di Tanah Air.

 

Pulang dan Mendapat Ide

Sejatinya, membangun startup kuliner ini bukan cita-cita awal Anthony. Pasalnya, pria kelahiran Malang, 12 April 1984 ini sempat 12 tahun bermukin di negeri Paman Sam, dan sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan dengan penghasilan yang mencapai ratusan juta per bulan.

Kepulangannya ke Indonesia bersama sang istrilah yang menjadi titik awal ia mengembangkan bisnis rintisan e-commerce khusus produk kuliner. Ini bermula dari kesulitan yang ditemui Anthony ketika ia ingin eksplore aneka kuliner di Tanah Air. Pecinta kuliner ini kesulitan untuk mendapatkan tempat makan dan menu yang sesuai dengan keinginan dan harapan. Sebab yang ada, hanya aplikasi kuliner hanya berupa direktori, kalaupun ada yang melayani pembelian, itu juga sifatnya lokal. Dan masalah itu membuat frustasi.

“Dari masalah ini muncul ide untuk membuat platform kuliner yang tidak berdasarkan lokasi, dan dapat mencakup semua usaha dan produk kuliner di Indonesia. Ini juga bisa menjadi kontribusi kami yang memajukan pelaku usaha di bidang makanan, terutama UMKM di Indonesia,” ucap pria yang masih kental dengan logat arek Malang-nya itu.

Dengan kemampuan yang dia punya, pada Januari 2016 Anthony mendirikan Wakuliner. Lulusan master di bidang programmer computer ini menggandeng sang kakak Alena Wu, serta Fransiscus Budi Pranata (mantan CEO Zalora) dan Tung Desem Waringin untuk bergabung dalam bisnis ini.

“Dana untuk membangun platform ini cukup besar dan kami masih bootstrap,” ujar Antony. Dia menyebut para founder telah mengucurkan dana sekitar Rp 2 miliar untuk membangun Wakuliner.

Ternyata tidak mudah mewujudkan platform Wakuliner ini. Setidaknya, butuh waktu selama satu tahun untuk membangun platform Wakuliner. Salah satu penyebabnya, Anthony ingin menghadirkan fitur dan layanan yang beragam untuk memudahkan masyarakat menikmati layanan kuliner dari seluruh Nusantara. Seperti fitur Waku-Antar, Waku-Wiku, dan Waku-Katering, yang masing-masing memiliki fungsi unik. Bahkan, aplikasi ini juga menghadirkan info tempat kuliner trasidional dan khas dari sejumlah daerah.

Menurut Anthony, tantangan terbesarnya adalah dari segi talent, validasi dan waktu. Untuk dua tantangan pertama, dia mengaku, sudah dapat mengatasinya dengan memberikan benefit dan menggali ilmu dari para mentor bisnis. “Waktu adalah tantangan terbesar. Karena ide bisnis seperti ini juga dapat segera muncul dari pihak lain. Jadi kalalu tidak segera lepas landas akan tertinggal,” akunya sambil tersenyum.

Sejak tiga bulan terakhir ini, Wakuliner sudah dapat digunakan pada ponsel pintar yang mengadopsi sistem operasi Android dan iOS. “Kami sudah hadir di semua sistem operasi ponsel pintar. Jadi pelanggan tinggal memilih, mau menggunakan yang mana. Semua fiturnya dibuat sederhana dan sangat mudah untuk diaplikasikan,” katanya.

Rupanya, kemudahan itu membuat aplikasi Wakuliner langsung meraih lebih dari 10 ribu pengunduh dan lebih dari 7 ribu pengguna. Selain itu, pertumbuhan mercahant-nya juga telah mencapai 3.800 yang tersebar di 60 kota. Di antaranya Jabodetabek, Bandung, Bali, Solo, Surabaya, Palembang hingga Makassar.

 

Anthony dan salah satu founder Wakuliner Alena Wu,berharap bisa menggaet sebanyak mungkin merchant dan pelaku kuliner untuk bergabung di Wakuliner (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)

 

Membuka Peluang

Anthony optimis di akhir tahun ini Wakuliner dapat mencapai 10.000 merchant yang tersebar di seluruh Indonesia. “Kami optimistis bisa memenuhi target ini. Pembayaran yang dilakukan oleh pengguna juga bisa melalui COD, transfer dan kartu kredit. Bahkan, saat ini kami juga sudah menyediakan payment gateway untuk memudahkan sistem pembayaran,” tuturnya.

Untuk lebih mengembangkan Wakuliner, Anthony menerapkan strategi membuka peluang seluas-luasnya bagi seluruh masyarakat untuk membuka toko kuliner onlie dengan mudah. Syaratnya mudah, cukup ada logo tokonya, ada rekening bank, serta ada foto menu.

Namun, saat ini mereka masih mengutamakan merchant yang diutamakan memiliki kurir.  Karena Wakuliner ingin mengutamakan kecepatan untuk penyampaian barang, terutama bagi merchant yang sudah memiliki kurir sendiri.

Menariknya, jangkauan layanan Wakuliner ini sudah mencakup seluruh Indonesia, dengan sistem pembayaran menggunakan payment gateway terkemuka dan adanya call center yang aktif sepanjang hari. “Call center akan menghubungi pelanggan jika menu habis atau ada masalah pesanan lain, sehingga pelanggan tidak menunggu lama,” kata Anthony.

Kelebihan lain, pemilik toko yang hanya ingin buka di hari-hari tertentu juga bisa membuka tokonya di Wakuliner. Misal, toko yang hanya melayani pesanan di akhir pekan.

Menurut Anthony, hingga akhir tahun ini para merchant dapat menggunakan jasa layanan ini secara gratis. Dengan begitu, misi dari bisnis ini untuk membantu semua jenis usaha dan produk pengusaha kuliner, bisa terpenuhi.  Bahkan, dia menekankan bahwa e-commece ini akan lebih banyak menggaet para pengusaha UMKM.

“Selain ingin menghadirkan layanan kuliner, kami juga ingin membuka peluang bagi para pengusaha kecil, terutama UMKM, untuk masuk ke layanan digital dan memperluas pasar mereka. Karena kalau bicara kuliner khas Indonesia, itu ada pada para pelaku UMKM ini,” ucap Anthony.

Sedangkan untuk monetize, menurut Anthony, nantinya Wakuliner akan menerapkan sistem tertentu bagi para merchant-nya Namun langkah itu belum akan diterapkan dalam waktu dekat. “Kami ingin platform ini dapat diterima oleh masyarakat dulu dan berkembang. Monetize baru akan kami terapkan di waktu yang akan datang,” pungkasnya.

 

============================================

Anthony Gunawan

  • Tempat Tanggal Lahir             : Malang, 12 April 1984
  • Pendidikan Terakhir               : MBA di The TJX Compute, AS
  • Nama Usaha                            : Wakuliner (e-commerce)
  • Mulai Usaha                            : Januari 2016
  • Jabatan                                    : Founder dan CEO Wakuliner
  • Modal Awal                            : Rp 2 Miliar
  • Pengunduh                              : 10.736 unduhan
  • User                                         : 7.534 pengguna
  • Area cakupan                          : 60 Kota

=========================================

 

STEVY WIDIA