Aplikasi BAPAT Untuk Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat

Michael Mulianto, siswa SMA Jakarta Intercultural School (JIS) Jakarta, mengembangkan aplikasi BAPAT. (Foto: istimewa/youngster.id)

youngster.id - Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama tahun 2018 tercatat 4231 korban meninggal dunia dan hingga tiga juta penduduk terpaksa mengungsi, menyusul 2426 bencana alam yang terjadi di sepanjang tahun. Namun demikian, belum semua komponen bangsa sadar atas tingginya indeks risiko bencana dan kompleksnya manajemen kedaruratan.

Belajar dari serangkaian kejadian bencana yang terjadi di Indonesia, semakin memperkuat pentingnya kesadaran akan penerapan penanggulangan bencana berbasis masyarakat, termasuk juga pelibatan peran aktif generasi muda atau para pelajar.

Berangkat dari isu tersebut, Michael Mulianto, siswa SMA Jakarta Intercultural School (JIS) Jakarta, mengembangkan aplikasi BAPAT. Ini adalah aplikasi penanggulangan bencana berbasis Android dan iOS.

“Pembelajaran dari bencana-bencana yang terjadi sebelumnya, proses pemulihannya itu cukup lama. Jadi kita bisa bicara, mempromosikan, dan bergerak bersama-sama, agar ada orang lebih banyak terlibat dalam proses penanggulangan bencana. Dan khususnya siswa atau pelajar juga bisa berkontribusi cepat tanggap pada bencana alam, dan membuat perubahan,” pada diskusi Post-Disaster Management: Rehab, Recovery, Reconstruct (Aksi Tanggap Siswa Terhadap Bencana Alam)”, di @America, Jakarta baru-baru ini.

Baca juga :   Melody JKT48 Jadi Duta Kerja Sama Pertanian dan Pangan ASEAN dan Jepang

Michael menjelaskan aplikasi BAPAT, yang merupakan singkatan dari Bantuan Cepat (Fast Relief) yang berfungsi untuk memberikan langkah-langkah panduan kepada penggunanya, tentang cara bertindak mengatasi beberapa jenis bencana. Termasuk gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, kebakaran hutan, banjir, hingga topan.

“BAPAT memiliki bot obrolan (semacam robot) yang dapat memberikan saran untuk lebih dari 50 penyakit, serta menemukan rumah sakit terdekat bila diperlukan, dan ada juga tombol panggilan darurat yang dapat digunakan pengguna saat mengalami masalah serius,” ungkap Michael.

Menurut dia, pada akhirnya, peran aktif semua pihak, dalam membangun kapasitas kesiapsiagaan bencana, termasuk di kalangan generasi muda atau para pelajar, bisa jadi salah satu solusi dalam mengelola sistem penanggulangan bencana yang terjadi di Indonesia. Generasi muda atau para pelajar sebagai golongan yang cerdas dan kreatif, bisa dan perlu berpartisipasi aktif dalam penanganan bencana, bukan hanya agar mereka bisa menyelamatkan diri sendiri ketika bencana datang, melainkan juga bisa turut berkontribusi menyelamatkan warga sekitar.

Baca juga :   Dua Anak SMA ini Punya Cara Menangani Bencana

FAHRUL ANWAR