Aplikasi Ini Beri Edukasi Tentang Diabetes

Presiden Direktur PT Boehringer Ingelheim Indonesia (kanan) dan dr. Lula Kamal (kiri) mencoba aplikasi CekGulaKU. (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - Saat ini penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes mellitus (DM) masih menjadi penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Untuk itu edukasi kepada masyarakat mengenai penyakit ini terus ditingkatkan.

Menyadari bahwa pentingnya kontribusi dalam mendukung kebijakan Kementerian Kesehatan terkait
permasalahan PTM, PT. Boehringer Ingelheim Indonesia meluncurkan aplikasi digital CekGulaKU. adalah aplikasi mobile yang menyediakan berbagai informasi lengkap dan menarik mengenai DM tipe 2 dan rekomendasi gaya hidup sehat.

“Semua informasi yang terdapat di aplikasi ini sifatnya untuk mengedukasi dan tidak dimaksudkan untuk mengganti konsultasi dengan dokter. Kami berharap dengan adanya aplikasi CekGulaKU, kesadaran masyarakat akan penyakit DM semakin meningkat dan mereka mampu mengatur pola hidup sehat sehingga diharapkan angka kematian akibat PTM terutama DM tipe 2 terus menurun,” ungkap dr. Mary Josephine, Medical Director PT Boehringer Ingelheim Indonesia dalam peluncuran layanan aplikasi ini, Senin (29/5/2017) di Jakarta.

Aplikasi yang diperuntukan untuk masyarakat umum khususnya penyandang diabetes ini dilengkapi dengan empat fitur utama yaitu Tes Risiko, Artikel informasi dari dokter ahli DM, Rekomendasi Menu Makanan dan Aktifitas Fisik. Terdapat juga fitur-fitur menarik lainnya seperti pencatat kadar gula darah, pemesanan obat secara online dan juga fitur pengingat jam makan, kapan harus mengkonsumsi obat dan melakukan aktivitas fisik.

Aplikasi ni mendapat dukungan dari Kementerian Kesehatan. Menurut dr. Lily Sulistyowati, MM, Direktur Pencegahan & Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, data Kemenkes menunjukkan di Indonesia tingkat PTM khususnya DM tipe 2 semakin meningkat.

“Ancaman terhadap masyarakat di era modern sekarang ini semakin serius. Gaya hidup yang kurang baik seperti merokok, diet yang tidak sehat, maupun kurang aktivitas fisik merupakan beberapa faktor penyebab tingginya angka PTM di Indonesia. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah terkena PTM. Untuk itu perlu edukasi yang melibatkan semua pihak dan seluruh lapisan masyarakat,” ucap Lily.

Hal senada disampaikan dr. Roy Panusunan Sibarani, SpPD – KEMD, dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) maraknya penggunaan media digital telah mendukung sistem pelayanan kesehatan dengan lebih mudah dan terhubung seperti yang diharapkan pada industri yang lain.

“Saat ini, kendala yang sering dihadapi para penderita DM di Indonesia adalah keterbatasan mendapatkan akses ke pusat pelayanan kesehatan. Melihat tingginya jumlah penderita DM dan terbatasnya dokter spesialis yang ada, akan menjadi beban yang cukup berat bagi tenaga kesehatan.
Dengan aplikasi CekGulaKU ini akan sangat membantu dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penyakit DM di Indonesia melalui mobile application” kata Roy.

Disamping menghadirkan aplikasi mobile ini, PT Boehringer Ingelheim Indonesia dan Kementerian
Kesehatan juga melakukan pelatihan SMART diabetes untuk tenaga kesehatan di level primer (dilakukan di kota besar dengan pilot project di Jakarta) sebagai upaya peningkatan kompentensi tenaga kesehatan terhadap pencegahan dan penatalaksanan DM Tipe 2.

Pelatihan SMART diabetes ini juga sebagai wadah memperkenalkan lebih jauh mengenai aplikasi CekGulaKU kepada tenaga kesehatan terkait dan merupakan bagian dari komitmen PT.Boehringer Ingelheim Indonesia dalam menghadapi masalah diabetes.

“Sudah menjadi tugas kita untuk melakukan pencegahan terhadap PTM sejak awal. Oleh karena itu Kementerian Kesehatan meningkatkan pendekatan Preventif dan Promotif dalam kebijakannya dengan mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Kesadaran masyarakat mengenai penyakit adalah salah satu penentu keberhasilan GERMAS, karena semakin tinggi kesadaran masyarakat akan risiko serta potensi bahaya dari penyakit, maka akan semakin tinggi upaya yang dilakukan untuk menghindari terkena penyakit tersebut,” pungkas dr. HR Dedi Kuswenda, MKes, Direktur Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI.

STEVY WIDIA