Aplikasi Virtual Reality Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2019

Para seniman di paviliun Indonesia di Venice Biennale 2019. (Foto: Bekraf/youngster.id)

youngster.id - Paviliun Indonesia hadir dalam pameran seni tertua di dunia Venice Biennale di Italia pada 11 Mei hingga 24 November. Masyarakat bisa menikmati pameran itu secara virtual melalui aplikasi lokal Ars. yang dikembangkan oleh Johanes Adika Gahari.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) melalui akun Instagram menyebut, Ars. bisa menjadi sarana apresiasi paviliun Indonesia di Venice Biennale 2019 secara tidak langsung.

“Ayo nikmati paviliun Indonesia secara virtual melalui aplikasi buatan putra-putri bangsa,” tertulis dalam foto unggahan @bekrafid, Jumat (14/6/2019).

Ars. adalah aplikasi media dengan fitur augmented reality atau virtual reality yang memungkinkan sebuah produk tampil dalam pengalaman baru lewat gabungan teknologi, foto, serta video. Ars. bisa diunduh melalui Google Play dan Apple Store.

Pada pameran ini, Paviliun Indonesia menampilkan instalasi seni berjudul Akal Tak Sekali Datang, Runding Tak Sekali Tiba. Dalam Ars., terdapat lima medium yang menampilkan berbagai pameran karya seni Paviliun Indonesia pada Venice Biennale 2019.

Para pengguna bisa mengakses konten yang ada di Ars. secara gratis. Namun, terdapat akses berbayar seharga Rp 1,5 juta untuk membuka konten lebih banyak lagi. Sebab, Ars. juga menampilkan beberapa pertunjukan, seperti Lunar Series, Konser Monokrom Tulus, Patung Garuda Wisnu Kencana, serta karya kreatif lain.

Baca juga :   Ramadan, XL Axiata Gelar Kampanye #JadiLebihBaik

Sebelumnya Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Ricky Pesik menyatakan, Indonesia konsisten ikut serta dalam Venice Biennale sejak 2017. “Eksibisi sepanjang enam bulan jadi kesempatan untuk memperkenalkan karya Indonesia,” kata Ricky.

Dia menyebutkan, potensi ekonomi dalam produk seni masih perlu perkenalan pasar. Ricky menyatakan, Indonesia harus terus konsisten dalam pameran internasional supaya eksposur global terjaga. “Setiap tahun, jumlah pengunjung di Venice itu mencapai 20 juta orang, sekitar 8 juta pendatang pasti menghampiri paviliun di Venice Biennale,” ujarnya.

Lima komponen instalasi adalah Meja Runding, Susunan Kabinet, Buaian, Ruang Merokok, dan Mesin Narasi. Semuanya bakal menjadi rangkaian untuk menarasikan garis alur kehidupan budaya masyarakat Indonesia. Tim artistik yang menampilkan karya adalah Handiwirman Saputra dan Syagini Ratna Wulan sebagai seniman.

Selain itu, Asmudjo Djono Irianto dan Yacobus Ari Respati berlaku sebagai kurator. Asmudjo mengaku instalasi dalam paviliun Indonesia merepresentasikan labirin raksasa dalam kehidupan masyarakat. “Hasil eksplorasi setiap pengunjung akan berbeda sesuai keputusan yang mereka ambil,” katanya.

Baca juga :   2019 Oyo Ekspansi di 100 Kota Indonesia

Asmudjo menyebut, tema paviliun Indonesia menawarkan pendekatan seni sebagai sesuatu yang menyenangkan serta bentuk pemicu pemikiran kritis masyarakat. Setelah tampil dalam Venice Bienalle, lima instalasi akan dipamerkan di Indonesia.

STEVY WIDIA