Axton Salim : Jaring Startup Untuk Solusi di Bidang Gizi

Axton Salim, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

youngster.id - Ada tiga isu utama gizi yang dihadapi bangsa ini, yakni obesitas pada anak, stunting  pada balita, dan wasting pada remaja. Untuk itu dibutuhkan ide-ide kreatif dan inovasi untuk memperoleh solusi atas masalah tersebut.

Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai permasalahan gizi paling lengkap. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa masalah gizi di Indonesia cenderung terus meningkat, tidak sebanding dengan beberapa negara ASEAN lainnya seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Laporan gizi global atau Global Nutrition Report di tahun 2014 menyebutkan, Indonesia termasuk ke dalam 17 negara yang memiliki 3 permasalahan gizi sekaligus, yaitu stunting (perlambatan pertumbuhan), wasting (berat badan rendah dibanding tinggi badan/kurus), dan overweight atau kelebihan berat badan (obesitas).

Berdasarkan laporan baseline SDG tentang anak Indonesia tahun 2017 yang diterbitkan oleh Bappenas dan UNICEF, beban ganda malnutrisi di Indonesia merupakan masalah yang sangat serius. Pada tahun 2013, 12% anak di bawah usia 5 tahun terkena wasting dan jumlah yang sama mengalami overweight. Sementara itu di tahun yang sama ada sekitar 37% anak dibawah 5 tahun mengalami stunting.

Apabila kondisi ini dibiarkan berlanjut, tidak saja berpengaruh bagi kualitas manusia Indonesia, tetapi juga dapat merugikan ekonomi negara. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebutkan bahwa potensi kerugian ekonomi negara akibat stunting sebesar 2-3% dari PDB per tahun. Jika PDB Indonesia tahun 2017 sebesar Rp 13.000 triliun, maka potensi kerugian negara bisa mencapai Rp 300 triliun.

Untuk mencari solusi akan masalah tersebut, untuk pertama kalinya kompetisi pitch start-up yang berfokus pada solusi di bidang gizi digelar di Indonesia. Ajang bertajuk Indofood Local Pitch Competition ini digelar oleh  PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood).

Baca juga :   Startup Masih Kesulitan Akses Modal

Axton Salim, Direktur Indofood, menuturkan bahwa kompetisis mencari usaha rintisan berbasis teknologi ini bisa menjadi solusi bagi percepatan penanganan masalah gizi.

Axton merupakan anak dari Anthoni Salim atau generasi ketiga keluarga konglomerat Liem Sioe Liong. Selain menjadi Direktur di Indofood, peraih gelar Bachelor of Science Business Administration dari University of Colorado, Amerika Serikat, tahun 2002 ini juga menjabat sederet posisi direksi di anak perusahaan. Antara lain: diretur di PT Indolakto and Pacsari Pte Ltd, PT Indofood Asahi Sukses Beverage dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Termasuk menjadi komisaris PT Salim Ivomas Pratama Tbk, PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk dan PT Nestlé Indofood Citarasa Indonesia.

 

Menurut Axton Salim, melalui ajang Indofood Local Pitch Competition ini, pihaknya ingin menjaring startup-startup yang bisa memberikan solusi di bidang gizi (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Berikut kutipan perbincangan Axton dengan wartawan youngster.id, Fahrul Anwar, mengenai tujuan dan target diadakannya Indofood Local Pitch Competition:

Apa yang menjadi latar belakang diadakan kompetisi ini?

Bisnis startup di Indonesia berkembang dengan pesat di berbagai sektor, termasuk kesehatan dan gizi. Kami melihat bisnis rintisan berbasis teknologi ini bisa menjadi solusi percepatan penanganan masalah gizi yang kita hadapi.

Oleh karena itu, Indofood dan SUN Business Network Indonesia menyelenggarakan Indofood Local Pitch Competition. Ini merupakan sebuah ajang yang diharapkan mampu menjawab tiga isu utama di bidang gizi, yaitu stunting, wasting dan obesitas. Diharapakan ajang ini membuka peluang kerja sama di berbagai pihak untuk mengembangkan platform gizi tersebut baik di skala nasional maupun regional.

Baca juga :   Program Menciptakan Wirausahawan Muda Perlu Digalakan

Apa yang ingin dicapai Indofood dari ajang ini?

Tujuan kami membuat event ini, yang pertama ingin menumbuh-kembangkan kembali startup di Indonesia. Kedua, teknologi harus dapat memecahkan masalah di masyarakat, termasuk dalam hal gizi dan nutrisi.

Kami melihat startup teknologi bisa menjadi solusi percepatan penanganan masalah gizi yang kita hadapi. Oleh karena itu, Indofood menyelenggarakan kompetisi ini. Kami berharap Indofood Local Pitch Competition bisa menjadi cara untuk bersama-sama menyelesaikan isu malnutrisi yang ada. Sekaligus mampu menggerakkan dan mengembangkan bisnis startup bidang gizi di Indonesia.

Startup seperti apa yang dicari melalui kompetisi ini?

Kami mencari startup yang bisa memecahkan tiga isu utama di atas dari berbagai aspek. Misalnya platform untuk meningkatkan ketersediaan gizi mikro, meningkatkan akses makanan bergizi di daerah rural, mendorong gaya hidup aktif, teknik meningkatkan kesadaran terhadap gizi buruk, dan solusi unik lainnya.

Menurut Anda apakah kesepuluh finalis yang terpilih di kompetisi kali ini sudah sesuai dengan ekspektasi?

Luar biasa. Saya rasa 10 finalis yang terpilih di program Indofood pertama ini bagus-bagus ya, karena mereka (finalis) sudah menggunakan teknologi modern, local solution, dan banyak memberikan hal baru dalam industri. Hal inilah yang membuat saya menjadi optimis melihat startup-starup itu.

Yang perlu diingat para startup yang telah berkecimpung di kompetisi juga ikut membantu dan ada society-nya. Jadi mereka bisa membantu banyak orang dan memberikan social solution untuk Indonesia. Jadinya, saya senang sekali dengan para startup ini karena sudah look different way.

Adakah kendala yang ditemui dalam pelaksanaannya?

Baca juga :   Rinna, Chatbot Sosial Dari Microsoft dan Line

Dalam perjalanan kami tidak  menemukan kendala yang berarti. Karena kami banyak bekerjasama dengan beberapa pihak. Itu membuat jadi mudah ketika melaksanakan program ini, dan menarik startup untuk join.

Apakah dengan adanya program ini Indofood akan melakukan pengembangan lainnya di bidang makanan yang melibatkan para startup di sini?

Sejujurnya, kami (Indofood) sudah mulai aware dan melakukan kegiatan semacam ini dari tahun 2011. Tapi dengan adanya kompetisi ini, kami hanya ingin mencari solusi-solusi dari para startup bukan mencari produk baru.

 

Melalui ajang Indofood Local Pitch Competition ini Axton Salim berharap bisa menjadi cara untuk bersama-sama menyelesaikan isu malnutrisi yang ada. Sekaligus mampu menggerakkan dan mengembangkan bisnis startup bidang gizi di Indonesia (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Selain program ini, kira-kira langkah apa saja, yang nantinya akan dilakukan oleh Indofood dalam mendukung kewirausahaan di kalangan anak muda?

Kalau yang saya lihat, kami dari Indofood selalu mendukung program untuk yang mengarah ke hal itu (mendukung kewirausahaan di kalangan anak muda). Contohnya Bogasari dan Indomie. Di Bogasari kami memiliki Bogasari Backing Center untuk membantu para calon wirausahawan. Sedangkan Indomie selalu support berbagai event dan awarding terkait anak muda. Sekarang, kami dari Indofood sudah tercatat mendukung sebanyak 50 ribu program kegiatan kewirausahaan dan anak muda.

Apa yang Indofood targetkan dari kegiatan kompetisi ini?

Kami berharap Indofood Local Pitch Competition bisa menjadi cara untuk bersama-sama menyelesaikan isu malnutrisi yang ada. Sekaligus mampu menggerakkan dan mengembangkan bisnis startup bidang gizi di Indonesia.(SW)