Bachtiar Rifai : Rintis Machine Learning Untuk Pemasaran Digital di Indonesia

Bachtiar Rifai, Cofounder & CEO Kopera (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

youngster.id - Belakangan ini penggunaan mesin pembelajaran atau machine learning dan big data menjadi primadona perkembangan teknologi di Indonesia. Dengan memanfaatkan teknologi ini perusahaan akan dapat mengambil keputusan dengan cepat, tepat dan efisien. Salah satu yang memopulerkan teknologi ini di Indonesia adalah Kofera.

Adopsi machine learning tumbuh bersama dengan perkembangan big data dan komputasi awal (cloud). Konsep ini menggunakan teknologi kecerdasan buatan, yang telah ‘dilatih’ untuk menggunakan data dalam jumlah besar dan algoritma yang membuatnya dapat mempelajari bagaimana melaksanakan sebuah tugas.

Machine learning telah memperkuat semua proses otomatisasi dan tersebar di berbagai industri, mulai dari perusahaan keamanan yang memburu malware hingga perusahaan e-commerce yang menggunakannya untuk mempelajari produk yang paling disukai konsumen.

Belakangan teknologi ini semakin banyak diterapkan dalam berbagai bidang industri. Salah satunya industri pemasaran. Pasalnya, dengan teknologi ini maka perusahaan dapat membaca pola kebiasaan pelanggan, sehingga dapat memberikan layanan yang terbaik.

Peluang inilah yang ditangkap oleh Kofera. Bahkan jauh sebelum teknologi ini popular, Bactiar Rifai sudah mendirikan PT Tri Digital Perkasa—sebuah perusahaan penyedia jasa otomatisasi pemasaran digital berbasis big data dan machine learning.

Bachtiar mengaku melihat besarnya peluang bisnis software pemasaran digital berbasis digital di Indonesia. Apalagi saat itu industri e-commerce sedang bertumbuh. “Saat itu sebagian besar perusahaan e-commerce melakukan cara konvesional yang cenderung ke manual dalam mengampanyekan pemasaran digital. Itu menginspirasi kami untuk memproduksi automation tools untuk perusahaan e-commerce,” ungkap CEO Kofera ini kepada youngster.id saat ditemui di Indigo Day 2018 di Gedung Landmark Telkom Indonesia di Jakarta belum lama ini.

Harus diakui model advertising konvensional tidak lagi efektif di zaman digital seperti sekarang ini. Hampir semua kegiatan promosi dan pemasaran dibantu dengan tools. Kemunculan machine learing (ML) sangat vital karena kegiatan pemasaran adalah berinteraksi dengan konsumen. Dan itu membuat kehadiran Kofera mendapat sambutan pasar yang luar biasa. “Kami juga berkembang untuk memberikan solusi-solusi big data yang lain sampai manufacturing,” ujar Bachtiar.

Dan, menurut Bachtiar, dengan machine learing selain menghemat waktu dan biaya, juga dapat bekerja tepat. Pasalnya, machine learing mampu memberikan konten yang cocok kepada orang yang tepat dan waktu yang sesuai. Implementsi machine learing yang paling popular saat ini adalah chatbot dan penelusuran suara.

Baca juga :   Pebisnis Platform Digital Perlu Memaksimalkan Digital Marketing

“Kuncinya adalah data. Dan alogaritma Kofera dirancang khusus untuk memudahkan mengoperasikan dan mengoptimalkan data menjadi informasi yang dapat diterapkan dalam bisnis pemasaran digital,” ungkap Pria kelahiran Pemalang 11 Maret 1987 itu.

 

Jatuh Bangun

Sesungguhnya Bachtiar telah cukup lama berkecimpung di dunia e-commerce. Sebelum menjadi co-founder Kofera pernah menjabat sebagai Kepala Pemasaran Grup Lazada. Namun dia melihat adanya kebutuhan dalam pemasaran digital dan dia yakin akan terpecahkan dengan menggunakan teknologi machine learing.

“Dari sana kami terpikir untuk menggunakan machine learning yang menggunakan data historis untuk memprediksi data-data ke depan. Ini merupakan peluang yang besar bagi digital marketing,” tutur Bachtiar.

Berangkat dari hal itu, lulusan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada itu lalu mengajak sejumlah rekannya untuk mendirikan Kofera pada akhir 2015. Modal awal mereka kumpulkan dari uang pribadi, termasuk Bachtiar yang menguras tabungan. Dan, di awal ia dan para pendiri Kofera berkomitmen untuk tidak digaji di masa-masa awal agar dapat membiayai riset dan pengembangan produk. Alhasil. produk Kofera diluncurkan pada Maret 2016.

Bachtiar menjelaskan, produk Kofera menggunakan rumus Matematika dan dikonversi ke software yang sedemikian rupa dirancang khusus untuk memudahkan mengoperasikan dan mengoptimalkannya. Dan kelebihan software Kofera, yaitu bagi perusahaan periklanan yang ingin mengoptimalisasi kampanye pemasaran di Internet untuk 50-100 account cukup memerlukan satu orang untuk mengoperasikannya.

“Jumlah itu lebih sedikit daripada menggunakan cara konvensional yang bisanya membutuhkan 10-15 orang. Ini saving a lot of money,” ujar Bachtiar.

Target pasar yang dibidik adalah korporat (business to business/B2B). Pemasaran software Kofera, menurut Bachtiar, mengombinasikan pemasaran online dan jemput bola dengan melakukan presentasi ke perusahaan, menyajikan data ilmiah, memublikasikan riset di jurnal internasional, menjadi pembicara di acara e-commerce, atau mengunggah video tutorial.

Strategi ini yang memikat calon klien untuk mencoba produk Kofera selama 14 hari tanpa dipungut biaya. ”Jika cocok, mereka bisa langsung membayar dan memperpanjang penggunaan software. Tujuannya, kami ingin membuat open platform,” ucapnya lagi.

Baca juga :   Bisnis di Media Sosial Diprediksi Meningkat di Tahun 2018

Dalam kurun waktu 10 bulan produk Kofera mampu memikat ratusan klien, di antarnya Blanja.com dan PegiPegi.com. Klien Kofera lainnya berasal dari berbagai sektor bisnis, antara lain perusahaan ritel dan agensi periklanan. “Saat ini klien kami lebih dari 100 perusahaan. Untuk pertumbuhan bisnis, omset kami naik 300% sejak Maret tahun lalu hingga Januari 2017. Sebagian besar revenue diperoleh dari perusahaan e-commerce,” kata pengagum BJ Habibie itu.

 

Bachtiar Rifai dan para cofounder Kofera, yang sukses mengembangkan platform digital marketing. Bahkan, kini Kofera memiliki produk lainnya, yaitu iklan.id untuk UKM dan Volantis (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Talenta Industri Digital

Di sisi lain, meningkatnya kebutuhan digital marketing juga terlihat dari pengeluaran digital advertising pada 2015 yang mencapai US$ 200 juta. Menurut penelitian Google Temasek, angka tersebut diprediksi melonjak mencapai US$ 2,7 milliar pada 2025.

Dengan kata lain, Bachtiar mengatakan, pengeluaran biaya digital advertising pada 2017 diperkirakan meningkat mencapai US$ 507 juta. “Kofera hadir untuk menutup jurang antara kebutuhan digital marketing yang tinggi dan kelangkaan sumber daya manusia. Platform kami bisa membantu itu,” kata dia.

Kofera menawarkan empat modul fundamental, yaitu Campaign Builder, Optimizer, Monitoring dan Analytics. Keempatnya terintegrasi dengan digital channel yang meliputi search, display, remarketing, dan social media.

Platform Kofera, Bachtiar menjelaskan, telah dioptimalkan secara bervariasi untuk mencapai tujuan digital marketing campaign masing-masing perusahaan dengan berbagai latar belakang industri, skala perusahaan, dan target pelanggan yang disasar. Bahkan, selain e-commerce, Usaha Kecil Menengah (UKM) juga menjadi sasaran Bachtiar dan kawan-kawan. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk membuat platform lain bernama iklanku.id.

“Jadi Kofera bergerak dalam bidang marketing automation enterprise, sedang iklanku.id untuk marketing automation small medium business. Dan, Volantis untuk menangani big data analytic platform,” jelas Bachtiar.

Untuk klien startup dan UKM, misalnya, Kofera menghitung kemungkinan biaya dan operasi lainnya saat ingin beriklan.

Untuk mengenalkan platform ini, putra bungsu dari enam bersaudara ini melakukan pendekatan sosial lain seperti melakukan presentasi ke berbagai perusahaan. Mulai dari menyajikan data ilmiah, mempromosikan hasil riset di jurnal internasional, hingga menjadi pembicara di acara e-commerce.

“Bagi kami cara ini cukup ampuh dalam memikat calon klien bergabung dengan kami. Jadi saat mereka sudah merasa cocok bisa langsung membayar dan memperpanjang penggunaan software. Tujuannya, kami ingin membuat open platform,” tutur Bachtiar.

Baca juga :   Startup Talk: Pelaku Startup Harus Ikuti Perkembangan & Jangan Menyerah

Saat ini sudah ada 5.000 akun dari berbagai jenis model bisnis yang terdaftar di Kofera. Di sisi lain, dengan kehadiran platofm ini mereka dapat memberi solusi kelangkaan talenta SDM di industri digital.

Keberhasilan Bachtiar dan kawan-kawan mengembangkan Kofera, berbuah hasil. Selain bisnis Kofera terus bertumbuh, Kofera juga meraih kepercayaan dari para investor. Kofera berhasil mendapat empat tahap pendanaan. Pertama, pra-seri A, yakni pendanaan tahap awal perusahaan terbentuk. Pendanaan tersebut berasal dari MDI Ventures, Indosterling Capital, Discovery Nusantara (DNC).

“Pendanaan Pra-Seri A ini sangat membantu dalam pengembangan produk, riset, dan ekspansi pasar,” ucap Bachtiar.

Ke depan, Kofera dikembangkan sebagai perusahaan riset dan teknologi yang menyediakan peranti digital untuk memenuhi semua kebutuhan yang dinginkan konsumen, seperti peranti untuk meningkatkan profitabilitas berbasis ilmiah dan sebagainya.

“Kami sedang berusaha untuk membuat infrastruktur data itu untuk kebaikan bersama. Harapannya buat Kofera bisa terus sukses ke depan, dan kami bisa mewujudkan cita-cita kami untuk mendemokratiskan data dan knowledge sehingga setiap orang memiliki akses ke informasi dan dari situ bisa terjadi pemerataan dari sisi informasi di seluruh Indonesia termasuk hoax dan lain-lain itu. Jadi itu salah satu kontribusi kami, dan semoga kalau secara bisnis kami sukses bisa subsidi silang untuk kemaslahatan masyarakat itu,” pungkas Bachtiar.

 

=====================================

Bachtiar Rifai

  • Tempat Tanggal Lahir  : Pemalang 11 Maret 1987
  • Pendidikan Terakhir     :  Sarjana Fisika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada.
  • Nama Usaha              : Kofera Technology (PT Tri Digital Perkasa)
  • Jabatan                     : CEO & Cofounder
  • Mulai Usaha               : 2015
  • Modal Awal                : sekitar Rp 100 juta
  • Omzet sekarang         : sekitar Rp 1 miliar
  • Jumlah Tim                : 60 orang

====================================

 

FAHRUL ANWAR
Editor : Stevy Widia