Bekraf Proyeksi Tren Ekonomi Kreatif 2019-2020

Wakil Kepala BEKRAF, Ricky Pesik. (Foto : Stevy Widia/youngster.id)

youngster.id - Bekraf meluncurkan Indonesia Trend Forecasting (ITF) 2018. Ini adalah proyeksi tren pada sektor ekonomi kreatif domestik yang berlaku untuk periode 2019 – 2020.

Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik mengutarakan, Indonesia Trend Forecasting (ITF) merupakan kegiatan tahunan sejak 2017. ITF kali ini diharapkan dapat menjadi acuan yang lebih kredibel guna mempermudah pelaku ekonomi kreatif (ekraf) memetakan prospek pasar.

“Gagasan dari trend forecast ini adalah membantu pelaku ekraf yang notabene UKM karena sulit bagi mereka untuk melakukan riset dan pengembangan bisnis sendiri. Jadi, sekarang mereka memiliki acuan yang lebih jelas dan mudah diakses,” kata Ricky dalam keterangannya Jumat (28/9/2018) di Jakarta.

Trend forecast 2019/2020 bertema Singularity. Ini merupakan hasil riset kedua seputar perkembangan tren bisnis kreatif yang dirilis Bekraf. Hasil kajian pertama dipublikasikan pada 2017 bertema Greyzone.

Proyeksi tren bisnis ekraf periode 2019 – 2020 tersebut dapat diakses melalui portal daring trenforecasting.id. Laman ini didesain sebagai wadah bagi desainer, baik fesyen maupun produk, untuk berinteraksi satu sama lain.

Baca juga :   Indonesia Berangkatkan 13 Perusahaan ICT ke CeBIT 2017

Menurut Ricky, riset mengenai tren ekraf 2019 – 2020 dilakukan dengan mengamati pola konsumsi maupun pemikiran masyarakat global pada era teknologi digital seperti sekarang. Trend forecast ini diharap bisa meningkatkan praktik bisnis ekraf mulai dari proses kreasi, produksi, distribusi, hingga konsumsi.

“Terjadi perubahan dalam pola konsumsi di pasar global. Ada hal yang bisa kita baca lebih jauh. Kami ingin mendorong untuk memunculkan sentimen positif terhadap konsumsi produk-produk ekraf Indonesia,” ujar Ricky.

Proyeksi tren ekraf dua tahun ke depan terutama dapat digunakan sebagai rujukan bagi subsektor bisnis fesyen, kriya, desain interior, dan desain produk. Makna tema ini secara sederhana ialah tentang keganjilan teknologi.

Konseptor dan Penulis tim ITF 2018 Isti Dhaniswari menuturkan, penamaan Singularity terinpirasi dari paradoks terbesar abad ke-21. Sejumlah pertanyaan mendasari paradoks ini salah satunya terkait eksistensi manusia. “Apakah kita akan terhapus oleh mesin, atau justru keberadaan mesin tersebut akan memperbaiki eksistensi kita?” ujarnya.

Terdapat empat subtema yang menjadi representasi Singularity, yaitu exuberant, neo medieval, svarga, dan cortex. Masing-masing subtema ini merepresentasikan respons masyarakat dalam menghadapi perkembangan teknologi.

Baca juga :   Paviliun Indonesia Terbaik Di Venesia

Exuberant mewakili segmen masyarakat yang merespons perkembangan tenologi digital secara positif dan optimistis. Neo medieval menunjukkan kalangan berpola pikir cenderung bertahan dengan konsep konvensional. Svarga merujuk kepada mereka yang sisi humanis dan spiritualnya tergugah. Cortex mewakili kelompok yang melebur bersama dengan teknologi.

 

STEVY WIDIA