BI Targetkan 125 Ribu UMKM Go Online

Pertumbuhan UMKM mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Foto : Istimewa/Youngsters.id)

youngster.id - Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) terus didorong masuk ke ranah digital. Bank Indonesia (BI) menargetkan sedikitnya 125 ribu pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memasarkan produk melalui platform digital pada tahun 2024.

“Program UMKM Go Online dari BI tidak hanya melakukan kurasi tetapi juga pembinaan dan engagement. Untuk pasar domestik, produk yang potensial itu kriya, kuliner, dan fesyen,” kata Miftahul Khoiri, Perwakilan Divisi Teknologi Finansial BI dalam keterangan pers tentang Diskusi Pasar Inspirasi, baru-baru ini di Jakarta.

Program UMKM Go Online yang dijalankan bank sentral tidak mengkhususkan bisnis di bidang tertentu saja. Bank Indonesia mengaku berupaya menjangkau semua sektor usaha mikro, kecil, dan menengah, semisal kuliner, pariwisata, bahkan pertanian. Tetapi produk fesyen, kuliner, dan kerajinan tangan atau kriya termasuk yang paling propesktif.

Miftahul menyatakan, target 125 ribu UMKM Go Online pada 2024 tidak hanya mengakomodir pelaku usaha yang dibina BI di berbagai daerah. Program ini menjangkau semua UMKM termasuk mereka yang menjadi binaan pemerintah daerah.

Baca juga :   Grab Siap Dorong Keuangan Inklusif di Indonesia

Menurut dia, BI bakal menjembatani para UMKM agar masuk marketplace domestik bahkan global. “Kami masukkan mereka ke marketplace, seperti e-commerce maupun seperti Gofood, serta marketplace global. Kami dorong agar mereka bisa ekspor,” kata Miftahul.

Dia menyebutkan terdapat marketplace yang fokus mengakomodir aneka produk kreatif dari UMKM lokal, yaitu Qlapa. E-commerce lain, semisal Tokopedia dan Bukalapak, juga memberikan kesempatan UMKM untuk memperluas jangkauan pemasarannya.

“Fokus BI ke depan dengan mendorong UMKM Go Online ini untuk mengikis defisit neraca berjalan. Konsentrasi kami itu menguatkan nilai tukar rupiah. Kami tak bisa larang produk impor masuk, tetapi kita bisa sediakan alternatif produk lokalnya untuk subtitusi,” kata Miftahul.

STEVY WIDIA