Cargill Indonesia Gaet Startup Pertanian Tanah Air Untuk Perkuat Pangan

Cargill Indonesia gelar diskusi panel tentang pertanian. (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

youngster.id - Kawasan Asia diperkirakan akan didiami sekitar 4,9 miliar orang pada tahun 2030. Seiring dengan itu peningkatan konsumsi pangan lebih dari dua kali lipat per kapita. Tren ini berkontribusi mengurangi pasokan pangan domestik. 

Arief Susanto, Corporate Affairs Director Cargill Indonesia mengungkapkan, di Indonesia urbanisasi diperkirakan semakin cepat. Pada 2010, setengah dari total populasi tinggal di kota, bahkan menurut Bank Dunia, 68% populasi akan tinggal di kota pada 2025. Urbanisasi menjadikan pola makan masyarakat makin beragam dan butuh sumber daya pangan lebih besar, terutama ketika mengkonsumsi daging. Sementara itu, perekonomian Indonesia semakin jauh bergeser dan ekonomi agraria karena lapangan pekerjaan pedesaan makin tergeser oleh perkotaan. 

“Untuk itulah, kami ingin mencoba semuanya dalam memenuhi kebutuhan industri pangan dan konsumen akan bahan pangan yang berkelanjutan, termasuk meningkatkan penelusuran serta transparansi rantai pasokan global,” ucap Arief dalam diskusi yang digelar baru-baru ini di Jakarta.

Untuk itu, Arief menegaskan, seluruh pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta memiliki peranan penting dalam menemukan solusi untuk menjawab tantangan rantai pasokan pangan. 

“Kami bekerja sama dengan para petani, pemeritah, industri, pelanggan dan konsumen dan startup di bidang pertanian untuk membangun masa depan pangan yang lebih berkelanjutan. Melalui berbagai pengalaman kami yang dipadukan dengan teknologi baru serta wawasan terkini untuk menciptakan masa depan pangan yang aman,” kata Arief.

Dalam hal ini Cargill merangkul dua Startup pertanian yakni AgriSocio dan TaniHub. Alfi Irfan, CEO & Founder AgriSocio menuturkan, melambungnya kebutuhan pangan menjadi salah satu penyemangat ketika mengembangkan bisnis dibidang industri pertanian. Lebih dari itu, kata dia menambahkan bahwa potensi sektor pertanian khususnya Indonesia masih sangat luas.

“Pertama yang meyakini saya terjun ke  bisnis ini karena melihat sektor pertanian masih begitu luas, apalagi potensi Indonesia besar banget saya tertarik bangun AgriSocio itu karena geliat, dan potensi yang ada,” ucap Alfi.

Disisi lain, kemampuan dalam mengintegrasikan berbagai tahapan rantai pasokan untuk meningkatkan  kualitas pangan yang dihasilkan perusahaan rintisan atau startup AgriSocio turut menggunakan metode teknologi mumpuni termasuk juga dengan melibatkan banyak petani di Indonesia untuk mendukung pertumbuhan bisnis dibidang pertanian.

“Selain itu, kami hadir disini juga ingin fokus untuk bisa bantu petani. Disisi lain AgriSocio berdiri bukan hanya mencari untung, tapi juga punya dampak sosial. Untuk itulah, selain dapat membantu petani dalam penyediaan kebutuhan pangan. Jadi dengan kemampuan mengintegrasikan berbagai tahapan rantai pasokan dengan teknologi. Semua itu kami lakukan untuk meningkatkan hasil kualitas pangan yang ingin kami capai,” pungkas Alfi.

FAHRUL ANWAR