Dea Salsabila Amira : Buka Bisnis Yang Bisa Tingkatkan Taraf Hidup Petani Kopi

Dea Salsabila Amara, Founder & Chief Empowerment Officer (CEO) (Foto: Dok. Pribadi/youngster.id)

youngster.id - Gaya hidup sehat sedang populer belakangan ini. Salah satu caranya dengan mengonsumsi makanan organik. Sayang, produk organik sering terkesan mahal sehingga kurang diminati pasar. Hal itu tentu membuat para petani merana. Namun belakangan berkat inisiatif sejumlah anak muda, pasar produk organik menggeliat lagi.

Produk makanan organik adalah bahan pangan dengan metode pertanian tanpa pestisida sintetik dan pupuk kimia. Selain itu, makanan organik juga tidak diproses menggunakan radiasi, pelarut industri, atau bahan tambahan makanan kimiawi. WHO juga menyebut makanan organik dengan eco food, green food, atau natural food.

Sayangnya, di Indonesia pertanian organik masih sangat kecil jumlahnya. Data dari lembaga sertifikasi pertanian organic INOFICe menyebut, baru sekitar 0,14 % lahan sawah dan kebun di Indonesia yang melakukan penanaman dengan cara organik. Hal ini lantaran kecilnya potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri, yang hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas.

Bandingkan dengan areal tanam pertanian organic di Australia dan Oceania yang mempunyai lahan terluas yaitu sekitar 7,7 juta ha. Eropa memiliki lahan seluas 4,2 juta, Amerika Latin seluas 3,7 juta, dan Amerika Utara sekitar 1,3 juta hektar. Areal tanam komoditas pertanian organik di Asia dan Afrika masih relatif rendah, yaitu sekitar 0,09 juta dan 0,06 juta hektar. Padahal sayuran, kopi dan teh mendominasi pasar produk pertanian organik internasional di samping produk peternakan.

Peluang ini ditangkap oleh Dea Salsabila Amira, founder sekaligus Chief Empowerment Officer (CEO) dari Ur-Farm. Lewat bisnis berbasis sosial ini ia ingin bisa berkontribusi bagi Tanah Airnya terkait dengan lingkungan, dengan mendirikan bisnis sosial di bidang pertanian bernama Ur-Farm. Selain memasarkan produk pertanian organik, Ur-Farm ingin membantu untuk meningkatkan taraf hidup para petani. Khususnya petani komoditas kopi.

Bisnis berbasis sosial ini dibangun Dea setelah dia terinspirasi dari program social entrepreneur yang digelar Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Serta konferensi perubahan iklim bersama PBB yang ia ikuti di Swiss.

“Setelah melakukan riset mengenai perubahan iklim saya baru tahu bahwa ternyata small farmers contribute to climate change mitigation. Nah, akhirnya dari situlah saya mulai membuat prototyping tentang Ur-farm,” ungkap Dea kepada youngster.id belum lama ini.

Berdasarkan survei yang dilakukannya, Dea mengaku menemukan bahwa permasalahan rantai pasok petani di Indonesia sangat rumit. Menurut data dari Kementerian Pertanian, harga hasil pertanian dari petani ke konsumen kenaikannya 200%, karena terlalu banyak pihak yang terlibat dalam rantai pasok ini.

“Saya membuat Ur-Farm karena saya menyadari adanya masalah dalam sistem pertanian Indonesia, terutama komoditas kopi. Karena masalah inilah akhirnya saya dan tim memutuskan untuk fokus ke sana. Jadi semuanya telah direncanakan dengan baik,” ucapnya.

 

Bukan Bisnis Pertama

Alumni Universitas Mercu Buana ini mengaku Ur-Farm bukanlah bisnis pertamanya. Rupanya jiwa wirausaha sudah tumbuh sejak dia berusia 17 tahun. “Saya memulai bisnis ketika saya masuk kuliah, saat itu di usia 17 tahun. Bisnis pertama saya namanya ‘Depops’, brand clothing line yang saya dirikan sendiri di tahun 2012. Keuntungan saya cukup besar dari bisnis ini, tapi saya memutuskan menyudahi bisnis tersebut di tahun 2015, karena saya ingin fokus mengembangkan Ur-Farm.Walaupun saya mencintai dunia fesyen, tapi passion saya di industri pertanian,” ungkapnya.

Baca juga :   2018, Pemerintah Targetkan 20 IKM Jadi Startup

Dea mendirikan Ur-Farm bersama dengan dua rekannya Riduan Aldina (COO) dan Ferraro Hutomo (Advisor) dengan modal awal sekitar Rp 15 juta. Modal ini dipergunakan untuk melakukan survey, mencari petani dan berkomunikasi secara langsung dengan para petani.

“Kepercayaan adalah kunci utama kami berhubungan dengan petani, dan itu butuh waktu. Tapi ketika mereka tahu nilai yang kami berikan, maka respon mereka sangat baik,” ujarnya.

Di sisi lain, Dea dan rekan-rekannya juga melakukan riset bagaimana caranya agar produk dapat diterima masyarkat luas. Apalagi mereka tidak memiliki latar belakang ilmu di bidang pertanian. Namun Dea yakin dia dan teman-temannya akan mampu mengembangkan usaha ini.

“Misi kami adalah untuk memotong keterlibatan tengkulak dalam rantai pasok dan menyejahterakan petani melalui pendampingan secara berkala dari hulu hingga hilir,” kata putri tunggal ini dengan tegas.

Dea menuturkan, keberadaan Ur-Farm sudah memberikan banyak manfaat kepada para petani, salah satunya adalah keuntungan secara finansial. Jika dulu petani hanya mendapatkan keuntungan 20% setiap panen, setelah bergabung dengan Ur-Farm mereka mendapat keuntungan mencapai 100%.

“Kami bukan tengkulak, so kami tidak ambil keuntungan dari petani. Misi kami adalah untuk membuat mereka sejahtera. Because if there is no farmers, there will be no food. Jika jumlah petani makin sedikit, makin berasa juga ancaman tidak adanya food security di Indonesia. Selain itu, kami juga memberikan dampak yang baik bagi konsumen yang memilih layanan kami. Karena pada dasarnya produk kami 100% organik dan fresh, konsumen merasakan manfaat tersebut di tubuh mereka,” paparnya.

Setelah yakin dengan produk yang mereka peroleh, maka Ur-Farm pun meluncurkan produk di pasar secara luas. “Produk pertama kali diperkenalkan di masyarakat tahun 2016. Kalau modal sebesar Rp 15 juta hanya awal doang ya. Setelah berjalan beberapa bulan makin banyak lagi modal yang dikeluarkan. Sedangkan omsetnya rahasia,” ungkap Dea sambil tersenyum.

Ur-Farm fokus pada produk kopi organik. “Saat ini Ur-Farm memiliki 5 produk kopi terdiri dari: Java Raung Herby, Java Raung Fruity, Luwak Java Raung, Java Arjuno dan Java Argopuro. Semua kopi kami klasifikasikan berdasarkan gunung tempat kopi ini ditanam. Dan semua kopi kami ditanam dan dipanggang langsung oleh petani,” kata Dea dengan nada bangga.

“Saat ini kelompok tani yang kami bina berjumlah 100 petani. Ur-Farm memberikan akses pasar yang lebih luas ke petani. Kami menghadirkan kopi yang ditanam dan dipanggang langsung oleh petani tanpa perantara. Sehingga income petani meningkat 25% sejak bergabung dengan Ur-Farm,” klaim perempuan kelahiran Surabaya, 6 Agustus 1995.

 

Ur-Farm bekerjasama dengan Dr Soni Sisbudi, Profesor Agri-tech dari Universitas Jember, untuk memprakasai workshop yang mengedukasi petani kopi untuk mengubah kulit kopi menjadi bio-coals (Foto: Dok. Pribadi/youngster.id)

 

Pelatihan Pengelolaan Limbah Kopi

Untuk bisa ke tahap ini, tentunya Dea dan kawan-kawannya mesti berjibaku. Mereka menempuh jalur kompetisi untuk memperkenalkan produk mereka. Salah satunya Ur-Farm dipilih Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk menjadi perwakilan startup Indonesia di ajang kompetisi Startup Istambul pada Oktober 2016 lalu.

Mereka juga memenangkan “Best Presentation on Sustainable Development with Entrepreneurial Spirit” dari CCSI, UN Hongkong. Dan, masuk dalam nominasi 17 Inaugural Flourish Prizes at the 4th Global Forum di Cleveland, Amerika Serikat.

Baca juga :   Hestyriani Anisa : Berinvestasi Sekaligus Memberdayakan Masyarakat Miskin

Tak sekadar menghasilkan produk organik, para petani yang telah tergabung di Ur-Farm turut dibekali pelatihan dan pengetahuan mengenai cara pengolahan paska-panen. Termasuk bagaimana cara melakukan transformasi limbah kulit kopi menjadi energi terbarukan berbentuk bio-coals.

“Jadi petani yang kami bina mendapatkan beberapa program training seperti pengolahan paska panen, cara memanggang kopi sesuai dengan standar internasional dan cara transformasi limbah kulit kopi menjadi energi terbarukan berbentuk bio-coals,” ucapnya.

Selama ini, petani kopi menggunakan limbah kulit kopi untuk dijadikan sebagai pupuk organik. Namun proses pengelolaan limbah kulit kopi menjadi pupuk ini memakan waktu yang cukup lama sekitar 6 bulan. Selama masa tunggu ini, limbah kulit kopi yang didiamkan dapat mencemari lingkungan tinggal si petani seperti air dan udara. Limbah kulit kopi yang dibakar juga dapat mengakibatkan gangguan pernafasan.

“Saat ini jumlah kulit kopi di wilayah Asia Tenggara hampir mencapai 1 juta ton. Di provinsi Jawa Timur, rata-rata petani kopi dapat mengolah kopi sebanyak 650.000 ton per tahun,” kata Dea.

Oleh karena itulah, Ur-Farm bekerjasama dengan Dr Soni Sisbudi, Profesor Agri-tech dari Universitas Jember, untuk memprakasai workshop yang mengedukasi petani kopi untuk mengubah kulit kopi menjadi bio-coals. Bio-coals dapat digunakan tidak hanya untuk memasak, tapi juga dapat dijual sehingga menjadi source income yang baru dan abu dari coals dapat digunakan sebagai pupuk organik, tanpa harus menunggu 6 bulan lamanya.

“Kami telah melaksanakan program workshop transformasi kulit kopi menjadi bio-coals di Dalat, Vietnam pada bulan mei lalu. Dan akan melaksanakan kembali program workshop ini di Phillipines pada bulan Agustus dan Indonesia di bulan Oktober,” ujarnya menambahkan.

Kini, petani kopi binaan Ur-Farm dapat mengelola kulit kopi menjadi briket, yang kemudian briket tersebut dapat digunakan untuk memasak, dan abu nya bisa digunakan secara langsung sebagai pupuk organik tanpa menunggu 6 bulan lamanya.

Menurut Dea, selain petani kopi mereka juga mendapat dukungan dari Bekraf, U.S Government dan Komunitas Organik Indonesia. “Bekraf sangat membantu para penggiat startup dan pelaku UKM untuk mengembangkan bisnisnya, tidak hanya di Indonesia tapi juga di kancah internsasional. Pasca program Startup Istanbul, Bekraf juga memberikan program pemberdayaa lain. Yang mana semuanya tailored (customized) tergantung kebutuhan Startup,” ungkapnya.

 

Saat ini Ur-Farm memiliki 5 produk kopi terdiri dari: Java Raung Herby, Java Raung Fruity, Luwak Java Raung, Java Arjuno dan Java Argopuro (Foto: Ur-farm.com)

 

Penetrasi Pasar

Dia mengaku sebagai pengusaha muda, tentu masih banyak tantangan yang harus dihadapi. “Dalam berbisnis, keadaan yang paling sulit menurut saya adalah ketika kita berselisih dengan business partner. Sebenernya hal ini sangatlah lumrah, karena memang tidak mudah menyatukan beberapa kepala untuk bisa mencapai suatu keputusan mufakat. Awal-awal bikin Ur-Farm saya sama tim sering beradu argumen, lama-kelamaan karena sudah sering beragumen, kami lebih sabar dan memahami cara berpikir satu sama lain,” jelasnya.

Apalagi di awal mulai mereka kerap ditolak baik oleh petani maupun konsumen. “Dari sana kami bangkit, setiap kali ada penolakan kami review apa yang kurang dan belajar dari kesalahan. Kami tidak berhenti melakukan inovasi,” ucap Dea.

Baca juga :   M. Alfatih Timur : Mengubah Ragam Potensi Jadi Karya

Dia juga belajar mengenai seni berbisnis. “Saya belajar seni untuk mendengarkan, menghargai dan mengkaji suatu pendapat. Kami harus melihat mana keputusan yang tepat untuk bisnis, bisa jadi setelah dikaji lebih dalam keputusan A bukan yang terbaik, melainkan keputusan B. So ego masing-masing individu harus ditekan. Kalau tidak seperti itu, team work tidak akan pernah tercipta,” ungkapnya bersemangat.

Kini, Ur-Farm mulai berkembang. Produk utama mereka adalah kopi organik yang merupakan hasil dari sekitar 100 petani kopi di Jawa Timur dan Jawa Barat binaannya. Lebih dari itu, Ur-Farm juga telah mendapat dana hibah dari US ASEAN Business Council sebesar US$ 14,900 untuk proyek workshop mengedukasi petani kopi dalam mengubah limbah kulit kopi menjadi energi terbarukan. Selain itu, dalam waktu singkat sudah balik modal dan mendapatkan keuntungan.

Saat ini, kopi Ur-Farm juga bisa dibeli secara online melalui website Ur-Farm atau melalui penyedia e-commerce, seperti Lemonilo.com dan Tokopedia. Selain itu, produk Ur-Farm juga tersedia di sejumlah outlet di pusat perbelanjaan seperti di Blok M Sqare dan Mall Alam Sutera. Mereka juga siap melakukan pengembangan pasar ke Amerika Serikat.

“Kami akan penetrasi pasar Amerika Serikat dan juga akan membuka layanan pengiriman ke seluruh dunia. Di akhir tahun kami juga berencana membuat koperasi untuk kelompok petani kopi yang kami bina. Sekarang kami juga lagi develop bio-coals yang dibuat dari limbah kulit kopi untuk dikemas secara komersial, sehingga ke depannya ketika memasak menggunakan coals, tidak perlu lagi menggunakan batu bara ataupun kayu. Dengan menggunakan coffee coals yang kami buat, memiliki manfaat yang sama. Bisa digunakan untuk masak barbeque, menghangatkan tubuh ketika musim dingin (pasar export), bahkan sebagai alat pembakar shisha. Last but not least kami juga lagi ngembangin produk skin care berbahan dasar kopi yang semuanya 100% dari bahan-bahan organik. Wait for our surprises ya,” pungkas Dea.

 

==================================

Dea Salsabila Amira

  • Tempat Tanggal Lahir : Surabaya, 6 Agustus 1995
  • Pendidikan Terakhir    : Univeritas Mercu Buana Fakultas Ekonomi, Manajemen Pemasaran
  • Nama Perusahaan      : PT Urfarm Teknologi Indonesia
  • Jabatan                     : Founder & Chief Empowerment Officer (CEO)
  • Mulai Usaha               : Januari 2016
  • Modal awal                : Rp 15.000.000
  • Jumlah karyawan       : 5 orang
  • Transaksi                  : 250-300/bulan

Prestasi yang pernah didapat :

  • Gloobal Youth Ambassador
  • Youth Delegate for United Nations Missions on World Peace and Climate Change, 2015
  • Youth Delegate for Public Diplomacy Forum, Russia, 2015
  • Delegate for Youth Beijing International Forum, 2014
  • Dipilih Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk menjadi perwakilan startup Indonesia di ajang kompetisi Startup Istambul pada Oktober 2016
  • Best Presentation on Sustainable Development with Entrepreneurial Spirit dari CCSI, UN Hongkong
  • Nominasi 17 Inaugural Flourish Prizes at the 4th Global Forum di Cleveland, Amerika Serikat

===================================

 

FAHRUL ANWAR
Editor : Stevy Widia