Dedhy Barotho : Bangun “Garda Pangan” Agar Makanan Tidak Terbuang Sia-sia

Dedhy Barotho, Founder Garda Pangan (Foto: Dok. Pribadi/Youngster.id)

YOUNGSTER.id - Anda pernah ke sebuah acara pesta dan melihat begitu banyak makanan tersisa? Ternyata kondisi seperti ini banyak terjadi. Bahkan, menurut riset The Economist Inteligence Unit (EIU) yang dilakukan pada negara peserta G20, disebutkan bahwa Indonesia adalah negara pembuang makanan terbesar kedua di dunia.

Riset yang sama mendapati bahwa rata-rata tiap orang Indonesia membuang makanan sebanyak 300 kilogram per tahun. Padahal FAO memperkirakan masih ada 19,4 juta penduduk Indonesia yang mengalami kelaparan dan gizi buruk.

Kondisi yang memprihatinkan ini menggungah Dedhy Barotho untuk mencari solusi. Pengusaha catering asal Surabaya ini menginisiasi berdirinya komunitas bernama Garda Pangan pada April 2017. Kegiatan dari komunitas ini adalah menampung makanan lebih dari berbagai usaha kuliner seperti restoran, catering dan hotel di Surabaya.

Mereka kemudian menyalurkannya kepada pihak yang membutuhkan, seperti panti asuhan dan rumah singgah. “Daripada terbuang dan menjadi kerugian ekonomi, lebih baik kami salurkan kepada yang membutuhkan,” kata Dedhy.

Konsep yang diterapkan Dedhy dan Garda Pangan ini dikenal sebagai food bank atau bank makanan. Food Bank pertama di dunia berawal pada tahun 1967 ketika St. Mary’s Food Bank didirikan di Arizona. Tahun 1965, saat menjadi relawan di dapur umum sebuah komunitas gereja, John van Hengel mengetahui bahwa ada toko bahan makanan yang seringkali membuang makanan dengan kemasan rusak dan mendekati kadaluarsa.

John lalu mulai mengumpulkan makanan itu untuk dapur umumnya. Tapi ternyata jumlahnya terlalu banyak untuk satu program itu. Hengel pun memikirkan untuk menciptakan sebuah lokasi terpusat dimana dia dapat menerima sumbangan makanan dari manapun. Dengan bantuan Gerja St Mary’s, food bank pertama berdiri. Pada era 1980-an, food bank telah menyebar ke seluruh dunia. Lebih dari 20 negara dengan kelompok bank makanan aktif berada di bawah payung The Global Foodbanking Network.

“Melihat fakta bahwa begitu banyaknya praktek pembuangan makanan yang terjadi di Indonesia, dan potensinya yang bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah kerawanan pangan, kelaparan, dan gizi buruk, food bank akan menjadi salah satu solusi baru yang telah terbukti di berbagai Negara. Dan, ini perlu diterapkan di Indonesia,” ungkap Dedhy.

Baca juga :   Pemerintah Blokir "game online" Berbahaya

Sejak didirikan, setiap hari relawan Garda Pangan akan melakukan food rescue. Mereka biasanya mendatangi restoran, bakery dan catering yang sudah sepakat mendonasikan kelebihan makan yang berpotensi dibuang.

 

Tak Sembarangan

Gerakan Garda Pangan ini memang baru dimulai Dedhy dan kawan-kawan di Kota Surabaya. “Dengan gerakan food bank akan banyak sekali potensi makanan dari industri hospitality yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi kerawanan pangan, sekaligus mengurangi kerusakan lingkungan,” kata Dedhy.

Pria berusia 27 tahun ini mengaku, berdasarkan pengalaman dan pengamatannya masih banyak makanan matang yang layak dimakan namun terbuang sia-sia. “Sebagai pengusaha catering saya mengetahui ada banyak makanan matang yang masih layak makan namun tidak dikonsumsi semua. Akibatnya, setelah acara akhirnya terbuang. Sementara, di sisi lain, masih banyak orang-orang di sekeliling kita yang kelaparan. Ini sangat menyedihkan hati dan saya ingin bisa mengatasi hal ini, hingga akhirnya menemukan konsep food bank,” ungkapnya.

Menurut Dedhy, konsep food bank dapat menjadi solusi atas berbagai masalah kelaparan dan gizi buruk yang terjadi di Indonesia. Alumni Universitas Brawijaya ini menyebut, dari data Millenium Challenge Account (MCA) Indonesia ada 7,6 juta anak-anak di bawah usia 5 tahun menderita stunting atau terhambatnya pertumbuhan karena kekurangan gizi kronis.

Awalnya, Dedhy mulai dari diri sendiri. Sejak September 2016 dia mengumpulkan makanan matang dari usahanya untuk dibagikan ke anak-anak panti asuhan. Ternyata, hal itu dirasanya masih kurang. Dia pun berharap bisa menggalang lebih banyak lagi orang melakukan hal yang sama. Kemudian, ide ini dibagikan Dedhy ke sejumlah teman-temannya, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mendirikan komunitas Garda Pangan pada April 2017.

Baca juga :   Pemerintah Perlu Aturan Perlindungan E-commerce

Dengan konsep food bank, Garda Pangan kini telah punya nasabah. Mereka adalah pengusaha kuliner yakni lima catering, satu restoran, dan satu toko roti. Merekalah yang menyetor nasi, lauk pauk dan roti yang tersisa setiap minggu.

“Berdasarkan pengalaman dan pengamatan kami, potensi makanan terbuang dari sumber-sumber ini bisa dimanfaatkan untuk didonasikan secara langsung dan cepat dengan menyesuaikan waktu kelayakan makanan tersebut,” ujarnya.

Deddy menjelaskan, walau menerima makanan lebih, Garda Pangan tak sembarangan menerima donasi. Mereka mengaku tetap selektif. Syarat makanan yang bisa diterima oleh Garda Pangan antara lain, tidak basi, belum melewati kadaluarsa, dan yang paling penting masih layak dikonsumsi. Dia dan para relawan juga memeriksa kembali kualitas makanan yang berhasil mereka kumpulkan. Makanan yang masih baik, dikemas ulang dan dibagikan ke panti asuhan atau warga yang membutuhkan. Sementara yang tidak layak konsumsi dijadikan kompos dan biogas.

Tak hanya itu, Garda Pangan memantau ketersediaan pasokan melalui aplikasi berbasis website secara real time. Sistem serupa dipakai untuk menaksir pasokan dan kebutuhan. Sejauh ini, kata Dedhy, mereka sudah mengumpulkan 3.429 paket makanan sisa ke 3.103 penerima dan mengolah 857 kilogram makanan basi menjadi biogas. Semua upaya itu kini mulai mendapat apresiasi. Garda Pangan termasuk 25 Besar Telkom Socio Digileader pada tahun 2017.

 

Melalui komunitas Garda Pangan, Dedhy Barotho menyalurkan makanan sisa layak makan kepada yang membutuhkan (Foto: Dok. Pribadi/Youngster.id)

 

Kebutuhan Mendesak

Saat ini, Garda Pangan telah memiliki 30 orang relawan. Mereka juga telah bekerjasama dengan 26 tempat penyaluran seperti rumah yatim piatu, rumah singgah, hingga pondok pesantren di kota Surabaya.

Dedhy menegaskan, inti gerakan Garda Pangan adalah untuk menghentikan praktek pembuangan makanan yang sangat merugikan, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi. Sekaligus menyelesaikan persoalan kerawanan pangan yang banyak dialami masyarakat Indonesia.

“Kerawanan pangan dalam hal ini mengacu pada ketidakmampuan suatu individu atau keluarga untuk mengakses makanan secara rutin sepanjang tahun, karena batasan sumber daya dan materi. Masalah ini akan dapat diatasi jika kita dapat mengelola dan mendistribusikan kelebihan makanan ke mereka yang membutuhkan,” jelasnya.

Baca juga :   Musik Reggae Indonesia Mulai Bertransformasi ke Digital

Menurut Dedhy, industri perkebunan, pertanian dan peternakan telah menyumbang kerusakan lingkungan yang masif. WWF pada 2007 pada rilisan yang berjudul “Gone in an Instant” menyebutkan bahwa 28% atau 89.224 hektar dari hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan hancur akibat pembukaan lahan pertanian. “Akan jadi kerugian yang berlipat jika produksi makanan yang merusak lingkungan ini ternyata berakhir di pembuangan sampah,” ujarnya.

Oleh karena itu, dia menilai kebutuhan food bank di Indonesia cukup mendesak. Sejauh ini belum ada lembaga yang mengelola dan mendistribusikan kelebihan makanan dari industri makanan dan retail dalam skala besar. Sementara lembaga food bank non pemerintah baru dilakukan oleh beberapa kelompok di sejumlah kota di Indonesia. “Mereka juga masih mencari cara untuk bisa mendorong kesadaran individu dan industri makanan akan persoalan pembuangan makanan,” katanya lagi.

Dedhy berharap Garda Pangan dapat menjangkau seluruh Indonesia. “Mulai Oktober hingga saat ini, kami berhasil mendonasikan 5.139 porsi makanan kepada 4.589 penerima manfaat di Surabaya. Atau setara dengan 771 kilogram potensi sampah. Itu hanya dari tiga mitra kerja, restoran, dan bakery. Bayangkan jika lebih banyak lagi yang terlibat,” ungkapnya.

Selain itu, Dedhy mengatakan bahwa tantangan ke depan masih cukup banyak. Salah satunya adalah bagaimana menggandeng lebih banyak donatur. Untuk itu, dia berharap kelak bisa bekerjasama langsung dengan pemerintah.

“Kuncinya adalah menciptakan jaringan distribusi yang meyakinkan perusahaan bahwa makanan mereka yang disumbangkan akan ditangani dengan aman dan tidak akan dijual kembali,” punkasnya.

 

====================================

Dedhy Bharoto Trunoyudho

  • Kelahiran                 : 27 Tahun
  • Pendidikan Terakhir : Universitas Brawijaya, Komunikasi Perusahaan.
  • Usaha                     : Garda Pangan
  • Mulai Usaha            : April 2017
  • Relawan                 : 30 orang

=====================================

 

STEVY WIDIA