Dua Anak SMA ini Punya Cara Menangani Bencana

Bincang-bincang "Post-Disaster Management (Rehab, Recover, Reconstruct): Aksi Tanggap Siswa Terhadap Bencana Alam" digelar pada hari Sabtu 9 November 2019 di @America, Jakarta (Foto: Istimewa/youngster.id)

youngster.id - Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Mulai dari gempa bumi, tsunami, gunung meletus, hingga banjir, longsor, dan sebagainya.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama tahun 2018 tercatat 4231 korban meninggal dunia dan hingga tiga juta penduduk terpaksa mengungsi, menyusul 2426 bencana alam yang terjadi di sepanjang tahun.  Namun demikian, belum semua komponen bangsa sadar atas tingginya indeks risiko bencana dan kompleksnya manajemen kedaruratan.

Sejatinya, para generasi muda, seperti pelajar, dituntut keterlibatannya dalam upaya manajemen risiko bencana. Sebab, anak muda pun memiliki kapasitas untuk bertindak, dan terlibat dalam upaya penanggulangan bencana. Misalnya yang ditunjukkan oleh Michael Mulianto dan Jason Sudirdjo. Dua pelajar SMA ini punya cara untuk menangani bencana dan akibatnya. Seperti apa?

Michael Mulianto merupakan siswa kelas 3 SMA Jakarta Intercultural School (JIS) Jakarta. Dia mengembangkan aplikasi untuk penanganan bencana berbasis Android dan iOS, yaitu BAPAT.

 

Michael Mulianto mengembangkan aplikasi BAPAT untuk penanganan bencana (Foto: Istimewa/youngster.id)

 

Aplikasi Bantuan Cepat (BAPAT) atau fast relief ini berfungsi untuk memberikan langkah-langkah panduan kepada penggunanya, tentang cara bertindak mengatasi beberapa jenis bencana. Termasuk gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, kebakaran hutan, banjir, hingga topan.

Baca juga :   Telkomsel Perkuat Ekosistem Esports di Indonesia

Selain itu, BAPAT memiliki bot obrolan (semacam robot) yang dapat memberikan saran untuk lebih dari 50 penyakit, serta menemukan rumah sakit terdekat bila diperlukan. Juga, ada tombol panggilan darurat yang dapat digunakan pengguna saat mengalami masalah serius.

“Pembelajaran dari bencana-bencana yang terjadi sebelumnya, proses pemulihannya itu cukup lama. Jadi kita bisa bicara, mempromosikan, dan bergerak bersama-sama, agar ada orang lebih banyak terlibat dalam proses penanggulangan bencana. Dan khususnya siswa atau pelajar juga bisa berkontribusi cepat tanggap pada bencana alam, dan membuat perubahan,” ucap Michael.

Sedangkan Jason Sudirdjo merupakan siswa kelas 2 SMA ACS Jakarta. Jason adalah Founder Heart For Lombok Foundation, yang menggagas pengembangan industri minyak alpukat. Ia mengembangkan startup bernama Avoil, untuk membantu mengurangi gejolak ekonomi akibat gempa.

 

Jason Sudirdjo mengembangkan startup Avoil untuk membantu petani alpukat di Lombok pasca bencana (Foto: Istimewa/youngster.id)

 

Melalui usahanya yang tekun dalam memberikan edukasi kepada para petani alpukat, Jason berhasil mengubah pola produksi alpukat kepada petani di Lombok, dengan metode sederhana mengekstraksi minyak dari alpukat. Sehingga, mereka mampu mengubah alpukat yang dulu hanya menjadi pakan ternak menjadi minyak alpukat, yang harganya di pasar rata-rata sekitar Rp 200.000 per 100 ml di Indonesia. Ini memungkinkan penghasilan para petani jadi meningkat. Sebab, hanya sekitar 30 – 40% dari semua alpukat Indonesia yang dipanen diserap oleh pasar. Sedangkan, sekitar 60 – 70% tersedia untuk diubah menjadi minyak alpukat.

Baca juga :   Generasi Muda Ubah Lanskap Kuliner Indonesia

“Kami tidak hanya berharap untuk menghidupkan kembali situasi ekonomi bencana di Lombok, tapi juga untuk meningkatkan standar hidup dan kualitas hidup petani alpukat dengan meningkatkan penghasilan yang mereka terima,” ujar Jason.

Michael dan Jason menjadi contoh kaum pelajar atau generasi Z yang berprestasi dan inspiratif, serta peduli pada penanggulangan bencana di Indonesia sejak usia muda.

 

FAHRUL ANWAR