e-Smart IKM, Terapkan Industri Kecil Era Industri 4.0

Kemenperin menargetkan tahun 2018 sebanyak 4000 IKM bisa ikut program e-Smart IKM (Foto: Istimewa/youngster.id)

youngster.id - Di tengah tren ekonomi digital yang berkembang pesat, industri kecil dan menengah (IKM) didorong untuk aktif dalam memasarkan produknya melalui perdagangan online. Dalam hal ini, Kemenperin terus mengajak IKM untuk masuk dalam pasar online melalui program e-Smart IKM yang telah bekerjasama dengan marketplace Bukalapak, Tokopedia, Shopee, BliBli, Blanja.com, dan Ralali, serta Gojek Indonesia.

Direktur Jenderal IKM Gati Wibawaningsih mengatakan, melalui berbagai kerjasama yang telah dilakukan diharapkan akan terjadi sinergi dalam pengembangan dan pembinaan Industri Kecil dan Menengah yang mengarah pada one stop solution bagi IKM.

“Sebelumnya, Direktorat Jenderal IKM juga telah bekerjasama dengan Google dalam rangka pengembangan kemampuan IKM dalam pemanfaatan fitur-fitur pada aplikasi Google untuk promosi produk dan pengembangan bisnis online. Direktorat Jenderal IKM akan melakukan evaluasi terhadap kinerja IKM yang masuk dalam program e-Smart IKM sebagai bahan analisa penyusunan kebijakan pembinaan IKM kedepannya,” kata Gati dalam keterangannya, Selasa (7/8/2018) di Jakarta.

Pada tanggal 7-8 Agustus 2018, sebanyak 150 IKM yang berasal dari sektor logam, makanan, minuman, fashion dan craft, mengikuti workshop e-Smart IKM yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (Ditjen IKM) Kemenperin di Pajajaran Suite Resort & Convention Hotel, Bogor, Jawa Barat. Sejak diluncurkan pada 27 Januari 2017 yang lalu, workshop e-Smart IKM telah diikuti oleh 2900 peserta dan membukukan nilai transaksi online lebih dari Rp 600 juta. Pada tahun ini, ditargetkan akan bertambah 4.000 IKM di seluruh Indonesia yang bergabung dalam e-Smart IKM.

Baca juga :   Viu Pitching Forum, Mencari Orang Muda Berbakat di Perfilman

Gati mengatakan, IKM harus update dengan teknologi, sesuai dengan program prioritas Making Indonesia 4.0. “’Untuk itu Kementerian Perindustrian berupaya melakukan edukasi pentingnya teknologi digital, manajemen keuangan yang baik, serta produk yang memenuhi standard sebagai implementasi era industry 4.0,” jelasnya.

Program e-Smart IKM merupakan sistem basis data IKM nasional yang tersaji dalam bentuk profil industri, sentra, dan produk yang diintegrasikan dengan marketplace yang telah ada dengan tujuan untuk semakin meningkatkan akses pasar IKM melalui internet marketing.

Gati mengungkapkan bahwa pemerintah tidak tinggal diam melihat peluang besar dalam e-Commerce diambil alih oleh produk-produk dari luar negeri. Oleh karena itu, pihaknya merespon perkembangan e-commerce dengan pembinaan IKM melalui program e-Smart IKM. Melalui program ini, Kemenperin berupaya membekali IKM dengan kemampuan pemanfaatan teknologi digital, manajemen keuangan yang baik, serta produk yang memenuhi standar agar tidak tertinggal dari pesaing-pesaingnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Deloitte Access Economics, pemanfaatan teknologi digital seperti media sosial, internet broadband, dan e-Commerce membuka peluang bagi para pelaku IKM untuk berkembang. Pemanfaatan teknologi digital memberikan keuntungan terhadap kenaikan pendapatan hingga 80%.

Baca juga :   Kemenperin Jajaki Kerja Sama Dengan e-Commerce Internasional

“Hal ini merupakan dampak semakin luasnya akses pemasaran para pelaku IKM, yang menjangkau calon pembeli baru melalui dunia maya tidak hanya dalam lingkup lokal, regional, atau nasional saja, namun juga menjangkau calon pembeli dalam lingkup global,” ujar Gati.

Keuntungan lainnya adalah peluang pelaku IKM untuk membuka kesempatan kerja baru meningkat menjadi satu setengah kali dengan penggunaan teknologi digital ini. Keuntungan selanjutnya adalah probabilitas pelaku IKM untuk menjadi inovatif akan meningkat sebanyak 17 kali dengan pemanfaatan teknologi-teknologi digital tersebut.

“Kenaikan probabilitas IKM menjadi lebih inovatif ini disebabkan karena potensi kenaikan pendapatan, penambahan sumber daya, dan akses informasi yang nyaris tak terbatas akan membuka peluang bagi para pelaku IKM untuk mendapatkan ide-ide dan akses teknologi baru untuk mengembangkan usahanya. Hal ini tentunya akan membuka peluang bagi para pelaku IKM untuk menjadi inovatif dalam proses produksi maupun proses bisnisnya,” jelas Gati.

STEVY WIDIA