Elisa Suteja : Manfaatkan Teknologi Digital Untuk Bangun Bisnis Kedai Kopi

Elisa Suteja, Cofounder & Deputy CEO Fore Coffee (Foto: Stevy Widia/youngster.id)

youngster.id - Belakangan ini bisnis kedai kopi terus bertumbuh pesat. Efeknya, permintaan akan produk kopi dalam negeri pun terus bertambah. Menariknya, bisnis kopi ini tak lagi sekadar kedai fisik tetapi berkolaborasi dengan teknologi.

Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar nomor empat di dunia setelah Brasil, Vietnam dan Kolombia. Data Kementerian Perindustrian menyebut Indonesia mampu memproduksi sedikitnya 639 ribu ton atau 8% dari produksi kopi dunia.

Tak hanya dari produksi, konsumsi kopi dalam negeri juga mulai bertumbuh. Konsumsi kopi masyarakat Indonesia rata-rata masih sebesar 1,1 kg per kapita per tahun. Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) menyatakan, pertumbuhan konsumsi kopi dalam negeri sekitar 6% tahun ini. Prediksi ini mengacu pada sepanjang tahun lalu, dari produksi sebesar 600.000 ton, sebesar 360.000 ton diserap oleh pasar lokal. Dan untuk mengimbangi pertumbuhan konsumsi tersebut, produksi olahan kopi diperkirakan juga bakal tumbuh 6%- 8% pada 2019.

Hal ini didorong oleh pertumbuhan kelas menengah dan perubahan gaya hidup masyarakat Indoensia. Peluang ini ditangkap oleh Robin Boe, Jhoni Kusno, dan Elisa Suteja dengan mendirikan Fore Coffee. Berbeda dengan bisnis kedai kopi yang selama ini dikenal, Fore Coffee adalah startup on-demand speciality coffee. Artinya, kedai kopi ini memanfaatkan teknologi secara menyeluruh dalam operasionalnya.

“Industri coffee shop adalah industri brick and mortar, namun dengan pendekatan teknologi tentunya bisa memberikan layanan yang berbeda dan lebih baik lagi kepada pelanggan,” kata Elisa Suteja, Cofounder dan Deputi CEO Fore Coffee kepada youngster.id baru-baru ini di Jakarta.

Elisa menjelaskan, usaha kedai kopi ini menerapkan transformasi digital secara end-to-end, mulai dari dari pemrosesan pesanan, pengantaran, hingga pengalaman pelanggan. Menurut Elisa, langkah ini seiring dengan perubahan konsumsi masyarakat yang sudah mulai terbiasa dengan aplikasi on-demand. Dan Fore Coffee merupakan persilangan hipotesis antara industri kopi dan ekonomi digital di Indonesia.

“Teknologi menjadi kunci utama dalam menjalankan bisnis saat ini. Tidak hanya untuk delivery, kami memanfaatkan aplikasi yang ada. Tapi mulai dari pemesanan di tempat untuk memudahkan pegawai, sampai dengan urusan administrasi dan kegiatan operasional seperti stok barang dan laporan penjualan,” ungkap perempuan asal Solo ini.

Baca juga :   GO-JEK Gelar 5K Fun Run & Food Festival

Dengan konsep itu, Fore Coffee pun  mendapat pendanaan dari East Ventures dengan nilai putaran sebesar US$ 8,5 juta atau sekitar Rp 120 miliar.

“Jika tidak didukung dengan pendanaan tentunya akan sulit untuk industri kopi bisa tumbuh dengan cepat. Karena alasan itulah mengapa East Ventures tertarik untuk berinvestasi di Fore Coffee,” kata Elisa.

Saat kedai pertama Fore Coffee dibangun pada Agustus 2018, kini kedai Fore Coffee berjumlah 28 kedai yang tersebar di Jakarta dan Tangerang (Foto: Stevy Widia/youngster.id)

Waktu Yang Tepat

Menurut Elisa ini merupakan bisnis pertama yang dikelolanya. Sebelumnya dia sempat bekerja di Tokopedia dan menjadi senior analyst di East Venture. Ketika venture capital tempat dia bekerja menginkubasi Fore Coffee dengan pendanaan awal, Elisa pun memutuskan untuk terlibat.

Alumni Prasetiya Mulya Business School ini mengaku mendapat tantangan baru dalam membangun Fore Coffee. “Kalau dulu saya melihat dari sisi investasi, sekarang yang dibangun berbeda, yakni produk,” ujarnya sambil tertawa.

Elisa pun terlibat sejak gerai pertama Fore Cofee dibuka di Jl Senopati No 77, Jakarta Selatan. Elisa tak hanya sekadar mengelola bisnis, tetapi juga tentang mesin kopi, biji kopi hingga bersentuhan dengan para petani yang menjadi pemasok biji kopi. “Saya belajar sambil jalan. Saya jadi semakin tahu apa yang ada di balik industri kopi. Dengan demikian kami dapat memberi benefit bagi semua stakeholder, mulai dari petani hingga ke konsumen,” kata Elisa.

Gerai pertama Fore Coffee sudah mulai beroperasi sejak Agustus 2018. Dengan mengedepankan toko retail yang unik, Fore Coffee ingin menyasar target pasar yang relevan, yaitu pecinta kopi.

“Pada dasarnya bisnis kopi masih punya peluang besar, apakah itu menjual kopi dengan memanfaatkan teknologi atau secara konvensional. Untuk itu saya melihat pie-nya masih sangat besar untuk kemudian dibagi-bagi dengan coffee shop lainnya. Tinggal eksekusi dan menyasar target pasar yang tepat yang kemudian menjadi penting,” kata Elisa.

Baca juga :   Acer Switf 5 Bagi Mereka Yang Memiliki Mobilitas Tinggi

Sebagai salah satu coffee chain yang menawarkan aplikasi untuk pemesanan kopi, Fore Coffee menyadari benar fungsi dan manfaat data pelanggan yang dikumpulkan. Tidak hanya untuk memberikan layanan yang lebih baik bagi pelanggan, dengan data yang terkumpul, Fore Coffee bisa mengetahui lokasi yang strategis dan siapa saja pelanggannya.

“Awalnya kami fokus hadir di area perkantoran saja. Namun dengan mempelajari data yang ada, ternyata di kawasan perumahan juga menginginkan adanya coffee shop. Karena alasan itulah Fore Coffee kemudian merambah ke pemukiman warga,” kata Elisa.

Dan, itu membuat pertumbuhan gerai pun menjadi sangat pesat. Saat ini sudah ada 27 gerai Fore Coffee yang tersebar di sejumlah wilayah di Jakarta, dan Tangerang.

Untuk menciptakan hype, Fore Coffee juga memanfaatkan influencer di media sosial yang dinilai relevan untuk memperkenalkan Fore Coffee. Misalnya ke kalangan perempuan yang ternyata merupakan demografi pelanggan terbesarnya.

Dengan jumlah cabang Fore Coffee yang cukup banyak, Elisa mengaku harus melakukan pengecekan secara berkala untuk setiap tokonya. Selain menggunakan aplikasi yang dikembangkan sendiri, Elisa mengaku bahwa untuk urusan operasional, ia mempercayakan bisnisnya pada penyedia jasa sistem kasir digital Moka, yang juga startup portofolio East Ventures.

Ia memanfaatkan fitur laporan penjualan ​real-time​ untuk memantau pendapatan penjualan secara lebih akurat dalam kurun waktu tertentu. Selain fitur laporan, Elisa juga memanfaatkan fitur ​ingredient inventory yang sangat membantu dari segi pergudangan. Di fitur​ inventory management, ia bisa menghitung harga dasar setiap produk dengan lebih komprehensif sehingga dapat menentukan harga jual. Data yang dimiliki kemudian juga dimanfaatkan Fore Coffee untuk scale up. Meskipun masih belum bisa memprediksi seperti apa target dan rencana dalam waktu lima tahun ke depan, paling tidak manajemen bisa mengetahui secara detail demografi dari pelanggan.

Baca juga :   Rio Dewanto : Ingin Menyebarluaskan Informasi Seputar Kopi

Elisa Suteja dan kawan-kawan memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan bisnis kopinya. Mereka pun memosisikan startupnya sebagai on-demand speciality coffee (Foto: Stevy Widia/youngster.id)

Fokus Arabica

Pertumbuahan gerai Fore Coffe terbilang pesat. Tak hanya dalam jumlah gerai, juga user aktif di aplikasi. “Di awal kami meluncurkan aplikasi baru sekitar 300 users, tetapi kini Fore Coffee telah memiliki sekitar 300 ribu users aktif dan terus bertambah,” klaim Elisa dengan nada bangga.

Kini, rata-rata mereka melayani pemesanan sekitar 1.000 cup kopi per minggu. Melihat pertumbuah itu maka Fore Coffee pun terus menambah gerai. “Kami buka terus outlet supaya bisa support permintaan pasar. Apalagi kami kan specialty coffee yang ketika ada order baru disiapkan,” katanya.

Tak sekadar mengandalkan aplikasi, gerai kopi ini juga mengedepankan produk dengan biji kopi Arabica untuk specialty coffee. Alasannya, selain kualitas kopi jauh lebih baik, sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan para petani lokal.

“Kami memutuskan hanya menggunakan 100% biji kopi Arabica preium. Pilihan itu karena dapat memberikan impact langsung ke petani, termasuk meningkatkan pendapatan petani lokal yang mempunyai sertifikat perkebunan organik serta fair trade. Dengan demikian, kalau kami tumbuh maka keuntungan bagi para petani juga ikut besar,” kata Elisa menegaskan.

Perempuan yang gemar minum kopi ini juga mengungkapkan, pemrosesan kopi juga dilakuan dengan standar kualitas yang terbaik. “Biji kopi tersebut kami roast sendiri untuk menjaga kesegarannya, diolah secara profesional oleh para barista terlatih, dan mengantarkannya sesuai dengan pesanan konsumen. Sehingga kualitas produk kopinya terjaga, dan bagi konsumen juga mendapat produk yang lebih sehat,” katanya.

Menurut Elisa, dengan perkembagnan ini Fore Coffee akan terus berinvestasi pada mesin teknologi tinggi untuk mendapatkan kopi dengan kualitas terbaik dan meluncurkan produk-produk baru.

“Kami memimpikan suatu hari di mana setiap orang memiliki akses ke kopi spesial yang terjangkau dekat dengan mereka setiap hari. Karena itu penambahan gerai juga kami lakukan agar dapat memenuhi permintaan pasar yang terus bertambah,” kata Elisa lagi.

===============================================

Elisa Suteja

  • Tempat Tanggal Lahir             : Solo, 24 Maret 1992
  • Pendidikan                              : Prasetiya Mulya Business School
  • Pekerjaan                                 : Cofounder & Deputy CEO Fore Coffee
  • Mulai Usaha                         : September 2018
  • Pendanaan Awal                 : US$ 8,5 juta
  • Jumlah Gerai                        : 28 gerai
  • Jumlah User                          : sekitar 300 ribu

Prestasi :

  • Finalis P&G ASEAN Business Challenge (2014)
  • Runner Up General Electric Case Study Challenge (2013)
  • Best Performance AIESEC Prasetiya Mulya Business School (2013)

=================================================

STEVY WIDIA