Elvera Makki : Citi Indonesia Dukung Lahirnya Sociopreneur Di Kalangan Anak Muda

Elvera N. Makki, Director, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

youngster.id - Wirausaha sosial atau sociopreneur mulai menjadi pilihan generasi muda dalam mengembangkan bisnis. Dengan ini mereka membangun bisnis yang dapat merangkul masyarakat sekitar, yang pada gilirannya mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal ini juga yang dilihat oleh Citi Indonesia (Citibank) melalui payung seluruh kegiatan CSR-nya, Citi Peka (Peduli dan Berkarya). Bersama dengan Prestasi Junior Indonesia (PJI) bank ini berkomitmen dalam mendukung generasi muda untuk menjadi pebisnis cakap yang juga berjiwa sosial.

Oleh karena itu Citibank menggelar program edukasi “Youth Sociopreneur Initiative”, yang telah memasuki tahun implementasi keempat. Sejak 2014, program yang didanai Citi Foundation ini telah berhasil memberikan dampak positif bagi 37.797 pelajar dari 112 SMA/K di 6 (enam) kota Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Denpasar dan Medan.

Elvera N. Makki, Director, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia menyampaikan perhatian besar yang diberikan Citibank terhadap kesempatan ekonomi yang lebih luas bagi generasi muda atau youth economic opportunities, bukan hanya bagi diri mereka sendiri, tapi juga masyarakat sekitar.

“Indikator kesuksesan sociopreneur bukan hanya diukur dari jumlah profit yang mampu dihasilkan. Tetapi lebih jauh, seberapa besar dampak sosial yang tercipta dari usaha yang dibangun. Melalui program kewirausahaan muda ini, kami berupaya membentuk wirausaha sosial muda dengan karakter pebisnis andal yang mahir dalam hal pengelolaan keuangan, serta memiliki orientasi dalam membantu penyelesaian masalah sosial yang tengah terjadi di lingkungan mereka,” katanya.

Seperti apa upaya Citibank dalam menggerakan semagat wirausaha sosial di kalangan anak-anak muda di Indonesia, berikut petikan wawancara Wartawan youngster.id Fahrul Anwar dengan perempuan yang akrab disapa Vera ini:

 

Bisa ceritakan bagaimana sejarah lahirnya program CSR dari CitiBank ini?

Sejak tahun 1968 melalui program CSR kami sudah melakukan progam tersebut tapi memang belum terpadu. Jadi baru benar-benar dilakukan secara komprehensif pada saat tejadi finansial krisis tahun 1998. Di tahun tersebut banyak perusahaan yang tutup dan banyak investor keluar dari Indonesia. Nah melihat hal itu, CitiBank Indonesia justru sebaliknya melihat momen itu untuk masuk membantu Indonesia sehingga terbentuklah Citi PEKA (Peduli dan Berkarya) sebagai payung kegiatan CSR CitiBank.

Sejalan dengan itu kami banyak bekerjasama dengan para NGO. Karena kami institusi finansial, jadi kami memilih basic-nya adalah edukasi dan literasi keuangan. Misalnya, edukasi dalam menabung untuk anak SD. Lalu kegiatan yang bersifat filantropi pada saat tsunami, termasuk membantu anak jalanan. Totalnya kami sudah bekerjasama dengan 38 NGO, ada yang masih terus dan ada yang tidak untuk menjalankan program.

Baca juga :   Tingkatkan Sistem Pembayaran Domestik, BCA Luncurkan Kartu Paspor BCA GPN

Kemudian kami belajar bahwa program-program yang kami lakukan harus berkesinambungan, sustainable makanya kami membuat program yang mengarah ke menengah hingga yang berjangka panjang.

 

Bagaimana kemudian CitiBank melahirkan program kewirausahaan sosial bagi anak muda terutama di sekolah-sekolah?

Youth Entrepreneur Initiative itu kami buat dan lakukan bersama PJI (Prestasi Junior Indonesia) sekitar 4 tahun lalu. Pada saat itu, kami ingin generasi muda belajar tentang kewirausahaan, termasuk dalam membentuk sebuah perusahaan seperti layaknya perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia atau di luar negeri. Jadi dalam kegiatan mereka ada President Director-nya, ada Vice President-nya dan membuat produk yang bisa dijual, bahkan mereka bisa likuidasi perusahaan.

Karena ini jangka pendek, yang penting bagaimana mereka bisa belajar dan bisa kembali ke sekolah.

Sejak tahun 2015 bergabung dengan CitiBank Indonesia saya sudah melihat para siswa SMA ini belajar mengikuti program ini, di sini saya melihat langsung bagaimana mereka membuat produk hingga memiliki misi sosial yang nantinya bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Hingga ditahun kedua penyelenggaran program ini mereka bukan sebagai Youth Entrepreneur Initiative tetapi more than entrepreneurship, sociopreneurship itu awal dan pertamanya. Lalu setelah bekerjasama dengan PJI, ada dua hal yang kami ubah. Pertama lebih fokus ke socialpreneur dan kedua lebih banyak pesertanya dari SMK, Vocation National School dibanding anak-anak SMU.  Dalam 2 hal ini yang membuat kami akhirnya fokus pada Sociopreneur. Bagaimana mereka membuat suatu usaha tetapi juga bisa membantu menyelesaikan persoalan sosial yang ada di sekitar lingkungan mereka.

 

Apa alasan CitiBank Indonesia lebih memilih bidang sociopreneur dibanding technopreneur maupun creativepreneur?

Sebenarnya, dalam sociopreneur itu akan ada technopreneur dan creativepreneur, karena banyak permasalahan sosial yang nantinya dapat dibantu dengan teknologi. Apalagi CitiBank fokusnya pada digital session atau digitalisasi perbankan. Hal ini juga bisa jadi satu. Tapi sebenarnya, sociopreneur itu adalah untuk sosial. Bagi kami jangkuan sociopreneur itu bisa lebih luas dibanding technopreneur dan creativepreneur. Technopreneur ini akan terlihat lebih keren ketika dimasukkan elemen-elemen sosial di dalamnya.

 

Melalui program CSR Citi Peka, Citi Indonesia bekerjasama dengan Prestasi Junior Indonesia (PJI) mendukung generasi muda untuk menjadi pebisnis cakap yang juga berjiwa sosial (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Apa saja yang ditawarkan Citibank dalam program kegiatan kewirausaahaan ini?

Di sini yang kami lakukan adalah more than philanthropy. Artinya, di sini kami tidak memberikan dana untuk melaksanakan program ini tetapi kami terjun langsung memonitor. Terpenting bagi anak-anak ini adalah terus diberikan pembinaan dan mentoring karena mereka ini perlu memdapatkan pembinaan.

Baca juga :   Anak Muda Indonesia Raih Juara II Pada Asia Pacific Company of the Year Award 2017 Competition

Melalui “Youth Sociopreneur Initiative” para siswa dibina untuk mendirikan dan mengoperasikan sebuah perusahaan (Student Company) di sekolah. Hal ini termasuk menciptakan ide produk, merencanakan strategi bisnis, melakukan penjualan produk, hingga likuidasi perusahaan.

Selain itu, program ini juga mendorong para siswa untuk menciptakan usaha yang bukan hanya memenuhi kebutuhan, tapi juga mampu membantu menyelesaikan permasalahan yang terjadi di masyarakat saat ini.

 

Bagaimana proses seleksi untuk para siswa dapat mengikuti program ini?

Di program ini kami ada proses seleksi. Untuk tahun ini yang kami pilih jumlahnya ada 34 sekolah. Dalam proses seleksi kami juga bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Di sini kami telah memilih kota-kota dimana CitiBank telah beroperasi di 6 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar dan Denpasar.

Dari sana kami mendapat rujukan data mana saja sekolah yang memiliki minat tinggi untuk mengikuti program entrepreneur karena kami ingin benar-benar memberikan kepada mereka nilai tambah untuk belajar baik dari sekolah maupun muridnya. Karena impact-nya akan jauh lebih besar apabila mereka sudah memiliki minat dalam kegiatan tersebut.

Kemudian kami lakukan wawancara pada murid-murid. Dan, kami lihat juga kreatifitasnya, passion mereka proaktif, drive-nya dan plus minusnya hingga kami lihat produknya. Dari situ kemudian mereka kami seleksi. Jadi dari jumlah sebelum terseleksi 34 sekolah ini, jumlah pendaftar ada ratusan sekolah.

 

Hal apa saja, nantinya bisa didapat dari pemenang program ini?

Pemenang 1 sekolah SMA Negeri 3 Semerang bisa berangkat ke kompetisi internasional dengan dibiayai oleh CitiBank. Bahkan dari mereka terpilih dari proses seleksi sampai program pendampingan dan sebagainya, founded by Citi Foundation, dan ini tambahan bekal juga ketika melakukan kompetisi di sana karena kami ingin lihat mereka berangkat untuk menang.

Tetapi sejatinya, menang atau kalah adalah proses untuk mereka belajar. Mereka dapat melihat SMU dari negara lain membuat inovasi dan produknya, presentasinya seperti apa karena pas pada saat penjurian semua dilakukan di ruang terbuka dan bagaimana mereka mempertahankan produk. Semua itu akan menjadi pengalaman yang luar biasa bagi pemenang di program ini.

 

Sejauh ini bagaimana evaluasi Anda dari program ini?

Baca juga :   Citi Indonesia Dukung Program “Youth Entrepreneur Initiative”

Memasuki tahun keempat ini perkembangannya sangat luar biasa, terlebih karena para siswa menjalankan kegiatan ini kurang lebih 6 bulan sampai 1 tahun.  Dalam waktu singkat ada banyak sekali permintaan produk mereka, that real good order. Karena ketika mereka menjalani ini semua kami juga melihat penjualan mereka, kami lihat profitnya. Kami juga lihat dalam menyusun laporan keuangannya, berapa profit dan berapa net income. Seperti itu. Dan, ternyata mereka bisa mengelolanya dengan pendampaingan yang sangat intensif dari kami.

 

Apakah pemenang yang terpilih di tahun 2018 ini sudah sesuai harapan?

Saya rasa sudah, karena kan kalau tidak mereka tidak akan diberangkatkan ke sana. Karena setiap investasi yang kami lakukan semua benar-benar sepadan buat kami maupun bagi anak-anak seusia mereka.

 

Menurut Elvera Makki, tujuan akhir dari program ini adalah bagaimana CitiBank Indonesia bisa memberikan impact yang besar bagi anak-anak muda (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Lalu kendala apa saja yang ditemui selama program ini berlangsung?

Tentu ada kendala, nggak mungkin nggak ada kendala. Kendala pertama mendorong mereka dalam menghasilkan produk yang benar-benar inovatif dan benar-benar menyelesaikan permasalahan sosial yang ada. Secara komprehensif mereka banyak yang belum tahu permasalahan sosial yang ada. Misalnya, mereka bikin produk bantal, tetapi jadi malah bukan sociopreneur. Setelah itu mereka pergi donasi. Yang jelas kalau sosiopreneur itu harus masuk dalam chance of business, dan kami harus memberikan pemahaman ini kepada mereka.

Kendala kedua, tantangan untuk siswa dimana mereka dalam membuat produk harus dapat berinteraksi dengan banyak pihak. Misal mereka ingin mengajak ibu-ibu menjahit sepatunya, maka mereka harus deal harga sepatu itu berapa. Jadi tantangannya justru datang dari anak-anak itu agar sesuai dengan ekspektasi dari kami.

Yang tak kalah penting, apa yang kami lakukan ini seperti yang disampaikan Presiden RI, Joko Widodo, supaya para siswa ini siap bekerja dan siap melakukan usaha. Karena dengan demikian roda perekonomian Indonesia bisa berjalan dengan baik.

 

Apa target yang ingin dicapai oleh Citibank melalui program ini?

Tujuan akhir dari program ini adalah bagaimana CitiBank Indonesia bisa memberikan impact yang besar bagi anak-anak muda. Dan, bagaimana pengalaman yang mereka dapatkan menjadi life changing experience for them. Artinya bagaimana mereka bisa mewujudkan mimpi serta merancang mimpi tersebut untuk mencapai apa yang mereka inginkan dalam menggapai sukses. (SW)