Fintech di Indonesia Butuh Ekosistem yang Komprehensif

Layanan Financial Technology . (Foto: Ilustrasi/youngsters.id)

youngster.id - Berdasarkan statistik Bank Indonesia (BI), volume transaksi melalui teknologi financial (fintech) terus mengalami peningkatan. Tahun 2017, nilai transaksi fintech telah mencapai US$18,65 miliar (Rp251,78 triliun) naik 24,17% dari tahun 2016 sebesar US$15,02 miliar (Rp202,77 triliun).

Menurut data Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) per Desember 2017, dari 235 perusahaan fintech aktif, 39%-nya bergerak di subsektor sistem pembayaran (payment). Institusi perbankan adalah institusi paling aktif dalam melakukan kolaborasi dengan fintech. Menurut Aftech, 63,90% pelaku fintech telah terkoneksi ke sistem perbankan. Sebanyak 77% di antaranya melakukan kolaborasi langsung dengan perbankan.

Meski demikian ekosistem fintech di Indonesia dinilai belum terbentuk secara komprehensif. CEO DAM Corp, Fanny Verona, menuturkan, padahal ekosistem akan menjadi faktor penentu tumbuh-kembangnya fintech. Di Amerika Serikat dan China, misalnya, cashless society sudah terbentuk karena ekosistem fintech sudah sangat siap. Salah satu tantangan terberat dalam membentuk ekosistem fintech adalah kebiasaan penggunaan uang cash. Selain karena sudah menjadi habit masyarakat selama ini, belum lengkapnya infrastruktur pendukung juga turut mempengaruhi.

Baca juga :   Astragraphia Ajak Pelaku Usaha Bertransformasi Digital

“Ini bukan hanya menjadi tanggung jawab industri perbankan sebagai pelaku utama dalam transaksi keuangan. Seluruh stakeholder, baik pemerintah, regulator, institusi swasta, maupun masyarakat diharapkan memiliki interest yang sama,” tutur Fanny dalam keterangan Kamis (17/5/2018) di Jakarta.

Fanny mengungkapkan, ekosistem yang integral dan kolaborasi nyata mendorong pengaplikasian fintech di tanah air. Untuk mengintegrasikan teknologi baru dalam masyarakat, memang perlu dimulai dari membentuk ekosistem yang menyeluruh. Ketika ekosistemnya telah siap, para pemain fintech pun memiliki ruang yang lebih bebas untuk bergerak.

“Untuk itu, kami di DAM sebagai perusahaan fintech-enabler ingin membangun dan mematangkan ekosistemnya terlebih dahulu. Untuk mewujudkannya, kolaborasi dengan seluruh stakeholders menjadi elemen kunci,” tutur Fanny.