Halodoc Siap Jaga Kerahasiaan Pasien Kesehatan Mental

(ki-ka) Dr Eva Suryani, Kepala Divisi Edukasi dan Training Asosiasi Psikiatri Indonesia, Wilayah DKI Jakarta dan Felicia Kawilarang VP Marketing Halodoc. (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

youngster.id - Kesehatan mental masuk dan menjadi salah satu permasalahan kesehatan di Indonesia. Namun jumlah tenaga dan fasilitas kesehatan mental profesional di Indonesia masih tergolong minim.

Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2016 data WHO menunjukkan bahwa terdapat sekitar 35 juta orang di dunia terkena depresi dan diprediksikan pada tahun 2020 mendatang, depresi akan menjadi beban kesehatan nomor dua setelah kardiovaskular.

Di Indonesia sendiri angka penderita stres dan depresi menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Berlatar belakang dari hal tersebut, Halodoc yang merupakan aplikasi kesehatan terpadu berbasis online melalui salah satu fiturnya, yakni Kontak Dokter mencoba untuk membantu dengan menghadirkan dokter spesialis mental yang dapat dihubungi setiap saat oleh pengguna untuk berkonsultasi seputar permasalahan yang dihadapinya.

“Kami menyadari salah satu tantangan terbesar dalam mengatasi permasalahan kesehatan mental di Indonesia adalah stigma negatif yang melekat di benak masyarakat dalam memandang permasalahan ini sebagai sesuatu yang memalukan sehingga membuat penderita enggan dan malu untuk berkonsultasi kepada psikolog maupun psikiater,” ungkap Felicia Kawilarang, VP Marketing Halodoc, pada Rabu (29/7/2018) di Jakarta.

Baca juga :   Halodoc Sedia Layanan Pengambilan Obat di Rumah Sakit

Menurut Felicia, pihaknya berharap melalui kehadiran psikiater dan psikolog di fitur Kontak Dokter, pengguna tidak perlu sungkan ataupun malu karena percakapan terjadi antara dokter dan pengguna dalam aplikasi ini terjamin kerahasiannya dan tidak akan disebarluaskan.

“Saat ini jumlah dokter ahli mental atau psikiater dan psikolog yang tergabung dalam fitur Kontak Dokter di Halodoc berjumlah 10 orang dan masih akan terus bertambah seiring dengan kebutuhan pengguna nantinya,” klaim Felicia.

Sementara itu, menurut Dr. Eva Suryani, Sp, KJ, Kepala Divisi Edukasi dan Training Asosiasi Psikiatri Indonesia, Wilayah DKI Jakarta, hasil riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes tahun 2013 pun menunjukan prevalensi gangguan mental emosional biasanya terjadi dengan gejala-gejala depresi serta kecemasan untuk usia 15 tahun keatas dan ada sekitar 6% dari jumlah penduduk Indonesia.

“Di lain sisi banyak penderita yang tidak menyadari akan gejala awal stres yang mereka alami dapat berpotensi memicu depresi yang berkelanjutan,” ungkap Eva.

Lebih lanjut, Eva Suryani menambahkan jumlah tenaga dan fasilitas kesehatan mental profesional di Indonesia masih tergolong minim. Berdasarkan standar yang ditetapkan oleh WHO idealnya perbandingan antara tenaga kesehatan dan pasien yakni 1:30 ribu orang atau sekitar 0,03 per 100.000 penduduk.

Baca juga :   Mandiri Targetkan Pengguna e-Cash Transportasi Online

 

FAHRUL ANWAR