Indri Mahadiraka Rumamby : Bangun Platform “Curhat” Bagi Kesehatan Mental Orang Indonesia

Indri Mahadiraka Rumamby, Cofounder & CEO Save Yourselves (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

youngster.id - Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Belakangan ini upaya preventif dan promotif terkait kesehatan mental tidak hanya dilakukan para praktisi kesehatan, tetapi seluruh lapisan masyarakat. Termasuk juga anak muda pendiri startup teknologi. Antara lain, dengan hadirnya aplikasi layanan konsultasi kesehatan mental.

Menurut WHO, kesehatan mental tidak hanya tentang ketiadaan penyakit, tetapi juga kemampuan dalam mengendalikan tekanan dalam hidup, dapat bekerja secara produktif, serta mampu berkontribusi di masyarakat. Oleh karena itu, badan kesehatan dunia menetapkan bahwa proporsi gangguan mental dalam suatu populasi maksimal mencapai 10%.

Hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2013 yang lalu menunjukkan bahwa angka prevelensi gangguan mental emosional di Indonesia mencapai 6%. Angka ini sudah menunjukkan penurunan dari data survei sebelumnya pada tahun 2007 yaitu sebesar 11%. Meski demikian bukan berarti gangguan kesehatan mental dapat diabaikan.

Disahkannya UU terkait kesehatan jiwa pada tahun 2014 lalu membuat banyak pihak mulai peduli pada isu kesehatan mental. Salah satunya adalah Indri Mahadiraka Rumamby, dengan menghadirkan platform Save Yourselves. Layanan startup ini fokus ke layanan sosial dan kesehatan, yang memiliki tujuan untuk membawa perubahan dan impact untuk kesehatan mental di Indonesia.

“Tujuan startup ini didirikan karena melihat tingkat bunuh diri di Indonesia yang terus meningkat, dengan mayoritas demografi anak muda. Kondisi inilah yang mendorong saya membuat sebuah platform online yang accessible, educational dan juga low-cost. Kami memulai dengan membuat akun Line untuk support chat bagi pengguna yang ingin bercerita dan membutuhkan dukungan,” jelas Indri, Co-founder dan CEO Save Yourselves saat ditemui youngster.id di Gedung Block 71 kawasan Rasuna Said Kuningan Jakarta belum lama ini.

Pada dasarnya, gangguan mental adalah masalah setiap orang. Setiap ia berinteraksi dengan lingkungan, dan selama terlibat dalam kemajuan zaman, terdapat kemungkinan untuk mengalami gangguan mental tersebut. Selama ini, startup yang terjun ke layanan sosial belum menyentuh layanan ini. Padahal gangguan mental biasanya mulai ditemukan pada remaja yaitu di usia 15-24 tahun.

“Platform ini hadir sebagai pintu pertama bagi seseorang yang ingin curhat tanpa diketahui oleh siapapun,” ujar Indri.

Dia menjelaskan, selain curhat ketika seseorang butuh bantuan lebih jauh maka pihaknya dapat merekomendasikan mereka ke psikolog yang ada di areanya. “Kami jug amemberikan edukasi kepada masyarakat untuk menghadapi stigma mengenai kesehatan mental. Misalkan bukan mereka tetapi adiknya yang kena mental ill sickness atau pacarnya. Jadi kami hadir memberikan edukasi,” katanya lagi.

Menurut Indri, Platform ini juga memiliki survive hotline 24 jam di beberapa area Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Bila ada darurat bunuh diri di area tersebut, maka bisa langsung telepon. “Ini konsultasi kesehatan sosial, dan karena di Indonesia memang belum ada,” tandas Indri.

Baca juga :   EV Growth, Kolaborasi Tiga Modal Ventura Untuk Pendanaan Startup di Indonesia

 

Curhat Masalah

Ide untuk menghadirkan platform layanan kesehatan mental ini awalnya berangkat dari masalah yang mereka lihat di sekitar. Kepedulian akan hal ini terbangun dari pengalaman dan hasil diskusi Indri dan adiknya Rifa Rumamby yang memang tertarik dengan ilmu psikologi.

“Saya dan adik pernah mengalami masalah semasa remaja. Memang bukan mental ill yang sickness atau terbilang sakit tapi kami pernah merasa sangat down. Saat itu saya merasakan mau minta bantuan tapi nggak tahu kemana. Dan ketika kami merasakan beban itu, nggak bisa cerita ke orang lain karena takut di-judge,” kisah Indri.

Setelah melalui itu, mereka menyadari ada banyak orang, terutama remaja mengalami masalah kejiwaan. Namun, karena tidak menemukan jalan keluar dan merasa tidak mampu menanggung beban, mereka memutuskan untuk bunuh diri. “Yang menariknya itu, tingkat korban bunuh diri itu terjadi di kalangan anak muda. Dari sinilah kami pikir bagaimana bisa bantu orang-orang ini tanpa membuat mereka merasa di-judge. Terbesit ide dengan menggunakan teknologi dan kami langsung gerak dan mendirikan platform ini,” cerita Indri.

Platform ini resmi diluncurkan pada tahun 2016. Lulusan Bachelor of Engineering Teknik Sipil UI ini menegaskan, platform yang dia dirikan tidaklah menyediakan diagnosa segala masalah. Mereka juga tidak memberikan obat kepada para pengguna tanpa izin resmi dari psikolog.

“Jadi para klien yang tergabung di platform Save Yourselves ini ada yang melakukannya dengan cara menelpon dan chat. Yang jelas, yang bisa kami lakukan adalah memberi support supaya mereka tidak sendiri. Kami dengarkan, masalahnya seperti apa lalu kami kasih masukan. Tetapi mereka harus tetap ke psikolog jika memang harus dibutuhkan. Tapi kalau yang telpon itu sifatnya emergency, yang sudah mau bunuh diri, maka perlu pendekatan secara serius,” jelas Indri.

Menurut Indri, Save Yourself ini menerima curhat dalam bentuk menelepon atau chat terkait berbagai persoalan mulai dari masalah keluarga, asmara hingga karier. Selain itu, kasus sosial di masyarakat juga menjadi kasus yang paling sering pihaknya tangani.

“Di antaranya tidak bisa membayar utang, diputusin oleh pacar, dipukuli oleh kedua orang tuanya hingga aborsi,” ujar Indri lagi.

Rupanya, kehadiran Save Yourself segera mendapat sambutan hangat masyarakat. Diklaim Indri, saat mereka baru mempublikasikan keberadaannya di masyarakat, pihaknya langsung menerima sekitar 290 orang yang menghubungi dan berkonsultasi. Bahkan, angka ini meningkat dua kali lipat di bulan berikutnya.

Tak hanya itu, platform ini langsung terpilih sebagai pemenang dari Startup Weekend Jakarta. Tak cukup sampai di situ, platform ini lolos seleksi top 100 Startups Echelon Asia Summit, dan terpilih sebagai startup terbaik dari kategori Health and Lifestyle Vertical dan merupakan top 6 dari Asia.

Baca juga :   Literasi Kaum Disabilitas Bertambah Berkat Buku Audio

“Dengan prestasi yang kami dapat ini, kami pun semakin terpacu untuk melanjutkan perjuangan dalam isu mental health. Pada Februari 2017 kami diundang untuk mengikuti akselerator bisnis yang berfokus dalam social enterprise yaitu SIAP (Social Innovation Acceleration Programme),” papar Indri bangga.

 

Melalui aplikasi Save Yourselves yang dikembangkan bersama adiknya, Indri Mahadiraka Rumamby berharap bisa mengurangi dan mengatasi masalah gangguan mental di kalangan anak muda (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Perluas Jangkauan

Indri mengungkapkan, pada kuartal tahun 2017 jumlah orang yang menghubungi lembaga ini sudah mencapai 786 orang. Angka ini terus naik hingga lebih dari 100% mencapai 1.949 orang. Angka ini terus melesat hingga berada di titik 2.815 orang di bulan Juni. Bahkan, di bulan ini, pihaknya memperkirakan, masyarakat yang mengakses lembaga ini sudah mencapai lebih dari 7.000 orang mendekati angka 8.000 orang.

“Ini mengindikasikan bahwa masyarakat kita membutuhkan tempat untuk berkonsultasi secara kejiwaan,” kata Indri.

Fenomena tingginya permintaan warga yang menghubungi Save Yourselves, ia menyadari bahwa tingkat kebutuhan masyarakat terhadap kesehatan jiwa sangat tinggi. Bahkan, Indri menegaskan, menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO, depresi menjadi pemicu tertinggi pada kesehatan jiwa. Bahwa sekitar 300 juta orang di dunia saat ini hidup dalam depresi. Jumlah ini meningkat lebih dari 18% antara tahun 2005 hingga 2015.

Namun, di sisi lain, ia sangat menyayangkan, bahwa memilih untuk datang ke psikolog saat seseorang sedang mengalami persoalan hidup, belum menjadi budaya di Indonesia.

“Kalau di luar negeri, meski mereka enggak punya masalah, mereka akan datang ke psikolog. Misalnya saja ketika mereka capek bekerja dan mereka membutuhkan terapi, mereka akan datang berkonsultasi ke psikolog. Sebaliknya, di sini belum ada budaya itu,” ujarnya.

Kalau di sini, lanjut Indri, belum ada budaya yang seperti itu. Bahkan, biasanya ketika orang ingin datang ke psikolog ataupun ingin mengadukan permasalahan yang ia alami, oleh teman-teman sekitarnya atau orang terdekat, mereka akan dianggap lebay, dan ada juga yang meminta mereka untuk kembali ke agama.

Menurut Indri, dari sekian banyak orang yang menghubungi Save Yourselves, ia mendapati tindakan para korban depresi ini beragam. Misalnya, ada yang menyayat tangan, anoreksia, hingga minum pil dalam jumlah banyak secara sekaligus. “Sejauh ini, orang yang menghubungi kami tidak ada yang sampai bunuh diri. Saat mereka menghubungi, kami berusaha untuk membuat mereka tenang,” ucap Indri lagi.

Saat ini, Save Yourselves telah memiliki kontributor sebanyak 50 orang. Dengan total pengguna platform sebanyak lebih dari 6000 orang di seluruh platform, yang memanfaatkan fitur Chat Save Yourselves. Tak hanya itu, untuk memenuhi keinginan kliennya, saat ini Save Yourselves menyediakan sebayak 12 tenaga psikolog profesional.

Baca juga :   Bulalapak Gandeng DANA Hadirkan BukaDANA

“Pelan-pelan dengan sumber daya yang ada pada kami, sekarang kami terus belajar mengelola kekurangan selama ini. Jadi kami banyak belajar juga proses menejemen seperti apa dan seterusnya,” ucapnya.

Indri menyadari bahwa masalah kesehatan mental ini memang berbeda. Saat menghadapi aduan ini, misalnya percobaan untuk bunuh diri, pihanya tidak bisa bertindak terlalu jauh. Ia menyadari bahwa tidak semua orang yang menghubunginya akan memberikan alamat yang sebenarnya kepadanya.

“Sebenarnya kami agak sulit untuk bergerak, kalau kami mau mengirimkan polisi ke lokasi mereka. Terkadang mereka tidak mau memberitahu alamat mereka yang sebenarnya. Jadi, yang bisa kami lakukan adalah memaksimalkan apa yang kami bisa, yaitu berusaha menenangkan mereka dan menawarkan mereka agar menghubungi lembaga yang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan,” kata Indri menambahkan.

Pihaknya mencatat, di Indonesia kasus bunuh diri terjadi per 3,7 orang per 100.000 penduduk. Walaupun angka ini lebih rendah dibandingkan negara lain di ASEAN, kata Indri, namun dengan 258 juta penduduk Indonesia, artinya ada sekitar 10.000 orang bunuh diri tiap tahun, atau 1 orang bunuh diri setiap jam.

Melalui Save Yourselves ini, Indri berharap para remaja dan dewasa muda bisa bercerita tentang masalah yang mereka hadapi sehingga dapat mencegah mereka melangkah ke keputusan bunuh diri. Perempuan berdarah Manado dan Padang ini juga berharap bisa memberikan bantuan tercepat untuk pencegahan seseorang yang berniat bunuh diri. Serta pengguna juga dapat menceritakan keluh kesahnya yang tidak nyaman ke orang lain.

“Kami sadari dan perhatikan bahwa banyak dari pengguna memang membutuhkan bantuan, namun masih sulit untuk membuka diri dan bercerita ke orang-orang terdekat. Di luar itu, stigma mengenai kesehatan mental juga membuat pengguna ragu untuk mendapatkan bantuan kesehatan psikologis yang profesional. Oleh karena itu, kami berharap Save Yourself dapat turut membantu mengatasi masalah ini dan bermanfaat bagi banyak orang,” pungas Indri.

 

==================================

Indri Mahadiraka Rumamby

  • Tempat Tanggal Lahir : Jakarta 14 Agustus 1993
  • Pendidikan Terakhir    : Tehnik Sipil Universitas Indonesia
  • Mulai Usaha               : November 2016
  • Nama Usaha              : Save Yourselves
  • Jabatan                     : Co-founder & CEO
  • Jumlah tim                : 50 orang (termasuk voulenter)
  • Jumlah Pengguna      : sekitar 8.000 user

Prestasi:

  • Pemenang I Startup Weekend Jakarta 2016,
  • Startup Terbaik Echelon Asia Summit, kategori Health and Lifestyle Vertical
  • Top 6 Startup dari Asia 2017

=================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia