Industri Kreatif Diharapkan Beri Kontribusi Rp 1.000 Triliun ke PDB

Kepala Bekraf Triawan Munaf (tengah) bersama produsen kriya yang terpilih ikut New York Now 2018. (Foto: Stevy Widia/youngster.id)

youngster.id - Industri kreatif merupakan penyumbang produk domestic bruto (PDB) bagi Indonesia. Bahkan Badan Ekonomi Kreatif mengklaim sumbangan industri kreatif dapat menembus lebih dari Rp1.000 triliun pada akhir tahun 2018.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengungkapkan, sumbangan industri kreatif Indonesia terhadap PDB pada 2016 mencapai Rp922 triliun. Dengan rata-rata kenaikan per tahun mencapai Rp 70 triliun maka diperkirakan akhir tahun 2018 sudah melampaui Rp 1.000 triliun.

“Kami optimistis, kontribusi industri kreatif terhadap PDB pada akhir 2018 ini akan tembus lebih Rp1.000 triliun,” kata Triawan pada jumpa pers jelang keberangkatan kontingan Indonesia ke pameran New York Now 2018, Rabu (1/8/2018) di XXI Lounge Jakarta.

Dia memaparkan, sumbangan PDB dari industri kreatif didominasi oleh subsektor kuliner (Rp 382 triliun), fesyen (Rp 166 triliun), dan kriya (Rp 142 triliun). Dan rata-rata pertumbuhan ketiga subsektor tersebut mencapai lebih dari 9%, lebih tinggi dari pertumbuhan PDB nasional.

Karena itu Bekraf terus mendorong perkembangan ketiga subsector itu, termasuk kriya. Termasuk menfasilitasi keikutsertakan delapan merek produk Indonesia ke New York Now 2018. Triawan mengungkapkan, ekspor kriya telah memberi kontribusi hingga US$ 20 miliar. “Karena itu Presiden menekankan bahwa kehadiran produk Indonesia di luar negeri penting,” ujarnya.

Baca juga :   Industri Kreatif Bisa Sumbang Rp 1.000 Untuk PDB di 2018

Bekraf memboyong delapan merek yakni Sackai Bags, Kana Goods, Noesa, Kayou, Pala Nusantara, Jenggala dan Indo Risakti. Semuanya terpilih melalui kruasi produk kreatif yang digelar sejak Maret 2018.

New York Now 2018 adalah ajang pameran yang digelar Jacob Javits Center New York yang akan berlangsung pada 12-15 Agustus 2018. Ajang ini merupakan pameran perdagangan internasional yang mengkhususkan diri untuk menampilkan produk kriya.

Diana Nazir selaku Kurator seleksi dari peserta Indonesia mengatakan, untuk tampil maksimal maka produk yang dipilih adalah yang memiliki nilai lokal yang kuat, buatan tangan, bukan tiruan, dan merupakan produk yang ramah lingkungan.

“Ajang ini merupakan outlet yang tepat bagi pelaku subsektor kriya untuk memasarkan produk ke luar negeri, khususnya Amerika. Karena itu yang ditampilkan adalah yang terbaik,” ucap Diana.

 

STEVY WIDIA