Ini Prospek Investasi Startup Dari Semester I/2017

Gerakan Nasional 1000 Startup Digital salah satu langkah untuk mendorong ekosistem digital di Indonesia. (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - East Ventures mendokumentasikan penurunan jumlah startup baru di Indonesia sebesar 23%. Dari sisi vertikal, E-commerce dan Fintech masih merupakan industri yang paling diminati.

Venture Capital berbasis di Indonesia, yaitu East Ventures, bersama dengan empat saham modal ventura di Asia Tenggara memetakan pertumbuhan dan lanskap investasi untuk paruh pertama tahun 2017.

Terlibat di dalamnya para investor, Agung Bezharie dari East Ventures, Abraham Hidayat dari Skystar Capital, Raditya Pramana dari Venturra, Aldi Adrian Hartanto dari Mandiri Capital, Steven Vanada dari CyberAgent Ventures, dan Kevin Darmawan dari Coffee Ventures.

“Investor ingin melihat startups menciptakan bisnis dengan ekonomi unit yang tepat dan bukan hanya produk,” ujar Aldi dari Mandiri Capital, melalui siaran pers baru-baru ini.

Ia menguraikan bahwa startup menghadapi tantangan untuk menunjukkan unit ekonomi yang tepat bagi jalan menuju profitabilitas. Dengan lebih dari dua ribu startup berbasis Indonesia dan perluasan pasar dari para pemangku kepentingan regional, startup menghadapi tantangan besar untuk memberikan proposisi jual yang unik dalam lanskap yang sangat kompetitif.

Secara keseluruhan, jumlah kesepakatan investasi tahap awal telah mengalami penurunan pada semester I/2017. Tren ini diprediksi akan berlanjut karena jatuh tempo investor lebih berhati-hati dalam berinvestasi dan memberikan valuasi.

Adapun tren ini dikonfirmasi oleh investor tahap akhir seperti Raditya dari Venturra. “Beberapa perusahaan pemula akan melihat valuasi diskon karena mereka tidak dapat mengkomunikasikan jalan yang jelas menuju profitabilitas,” kata Aldi lagi.

Meski sentimen negatif, aktivitas investasi tetap hidup. Investasi tahap awal dominan dengan E-commerce (27%) dan Fintech (22%) memimpin kategori ini. Investasi benih (seed) berdiri di angka 38% dan bridge di angka 33%, ini pertanda lebih banyak perusahaan pemula yang matang dan mencari cara untuk mengakselerasi.

Healthtech dan agritech dinilai juga menarik, namun investor belum melihat adanya startup yang mendominasi atau menemukan jalan yang jelas menuju profitabilitas.

Kegiatan merger dan akuisisi (M&A) terbaru juga akan mendorong lebih banyak pemula muncul. Akuisisi Kudo oleh Grab, Groupon Indonesia oleh Fave Group, dan Tiket.com oleh Grup Djarum yang memiliki situs E-commerce, BliBli, diprediksi akan membangkitkan optimisme dan menciptakan gelombang baru wirausahawan.

Para investor mengatakan Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, telah mendapat perhatian besar untuk ekspansi perusahaan regional dan target investasi.

Meskipun didukung oleh investasi asing swasta, bank BUMN, Mandiri mulai mendukung perusahaan fintech lokal sejak awal tahun. Lebih banyak akses terhadap modal diprediksi akan mempercepat pertumbuhan perusahaan berkembang biak Indonesia. Selain itu, bank bereksperimen menggunakan ‘metode sandbox’ melalui kemitraan dengan perusahaan investasi yang diinvestasikan.

Secara keseluruhan, investor percaya bahwa ekosistem startup di Asia Tenggara semakin matang. Investor mengambil lebih banyak waktu untuk meninjau kembali kesepakatan investasi baru dan menegosiasikan valuasi yang lebih masuk akal.

Investor memperkirakan akan lebih banyak lagi startup bersinar di paruh kedua tahun 2017 karena sentimen positif yang tercipta dari pendanaan berita oleh perusahaan mapan seperti Go-Jek, Grab, Tokopedia, Traveloka.

STEVY WIDIA