Inovasi Tim Calypso Ubah Air Limbah Gedung Jadi Listrik dan Air Bersih

Aziza Nurut Firi dan Jessica, keduanya mahasiwa Teknik Kimia UI yang tergabung dalam tim Calypso. (Foto: Stevy Widia/youngster.id)

youngster.id - Krisis air bersih dan listrik tengah menjadi isu hangat belakangan ini. Musim kemarau yang panjang menjadi “kambing hitam” dari persoalan ini. Peduli akan hal itu, dua mahasiswi Universitas Indonesia (UI) melakukan riset dan mendapati bahwa air limbah dan air hujan dapat diubah menjadi air bersih sekaligus juga sebagai pengisi baterai untuk listrik.

Mereka adalah Aziza Nurut Firi dan Jessica, keduanya mahasiwa Teknik Kimia UI yang tergabung dalam tim Calypso. Konsep ini mereka tuangkan dalam proyek bertajuk Tall Building Generator Scheme: Nitinol Engine at Rooftop Coupled with Rainwater Pipe Turbine”. Melalui konsep ini, mereka dapat mengubah air hujan menjadi listrik dan air bersih.

“Kami melihat masalah air bersih dan listrik itu sebagai hal yang penting bagi masyarakat. Kami lalu melakukan riset solusi apa yang bisa dilakukan terutama melalui pengelolaan air limbah dan air hujan yang banyak ada di sekitar kita,” kata Aziza dan Jessica saat ditemui youngster.id, Kamis (8/8/2019) di Jakarta.

Mereka lalu mendapati air limbah buangan dan tampungan air hujan terutama di gedung-gedung tinggi di Jakarta, dapat dikelola lagi menjadi air bersih yang dapat digunakan lagi. Bahkan dengan penerapan penyimpanan yang tepat, air yang tertampung bahkan dapat menghasilkan listrik.

“Kami menerapkan integrasi penyimpanan air dan energi dengan prinsip micro pumped hydroelectric Discover Life is On Innovation At Every Level energy storage (micro-PHES), dimana air hujan dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik menggunakan generator hidroelektrik. Selain itu, air yang diperoleh dari hujan akan ditampung dalam sistem filtrasi untuk didaur ulang,” papar Jessica.

Menurut mereka jika konsep ini diterapkan pada gedung berlantai 20 dapat memperoleh 11.000 meterkubik air per hari. “Skema Calypso dapat meningkatkan efisiensi penggunaan dan penyediaan air serta menghasilkan energi listrik yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik di dalam Gedung,” ujar keduanya.

Konsep ini yang membawa kedunya menjadi Juara Nasional Go Green in the City (GGITC) 2019 yang diadakan Schneider Electric. Keduanya nantinya akan mewakili Indonesia bersaing di tingkat Asia Pasifik pada tanggal 22 Agustus 2019 mendatang untuk memperebutkan tiket menuju Grand Final yang akan diselenggarakan di Barcelona, Spanyol awal Oktober 2019.

Indah Prihardini, Human Resources Director Schneider Electric Indonesia mengatakan, konsep ide tim Calypso berhasil mengalahkan 225 tim mahasiwi dari 70 Universtitas Indonesia yang mendaftar.

“Kompetisi tahunan Go Green in The City yang diluncurkan sejak 2010 lalu merupakan kompetisi global yang diperuntukkan bagi mahasiswa/i untuk menumbuhkan minat dan memfasilitasi generasi muda dalam hal ini generasi milenial untuk ikut ambil bagian mencari solusi dalam pengelolaan energi yang efisien di kawasan perkotaan dan berdampak positif terhadap lingkungan,” ucapnya.

Dia menegaskan, melalui kompetisi Go Green in The City, Schneider Electric mencari ide-ide yang dapat membantu menyelesaikan dilema energi dengan model bisnis digital dan inovatif dan atau pendekatan sustainability yang memungkinkan akses energi yang lebih luas atau pengembangan yang berkelanjutan dengan pemanfaatan perkembangan teknologi IIoT, machine learning dan kecerdasan buatan.

“Ajang kompetisi seperti Go Green in The City merupakan sarana yang sangat baik untuk menumbuhkan minat dan kreativitas generasi muda untuk berinovasi dan mewujudkan idenya,” pungkasnya.

STEVY WIDIA