Jeff, Andien, Bams & Prianka : Bangun Startup Agar Orang Indonesia Semakin Bugar

Para founder The Fit Company: Bams, Jeff, Andien & Prianka (Foto: Stevy Widia/youngster.id)

youngster.id - Kesadaran masyarakat akan pentingnya investasi kesehatan mulai tumbuh, termasuk di Indonesia. Banyaknya populasi konsumen muda dengan pola pengeluaran mereka untuk kebutuhan sekunder terus meningkat menghadirkan peluang yang besar untuk membangun startup wellness.

Menurut CB Insights, wellness tech startup adalah perusahaan rintisan yang fokus pada gaya hidup sehat secara keseluruhan, yang berusaha memperbaiki kualitas hidup manusia baik dari sisi fisik, mental, sosial, maupun spiritual. Potensi pasar untuk Wellness Economy (yang mencakup healthtech, fit-tech, dan makanan sehat) mencapai US$ 4,2 triliun, atau sekitar Rp 59 kuadriliun pada tahun 2017. Angka tersebut diprediksi Global Wellness Institute dapat tumbuh sekitar 6,4% setiap tahun.

Sadar akan potensi dan pentingnya kehadiran ekosistem wellness technology yang menyeluruh di Indonesia, maka beberapa anak muda membangun startup yang fokus pada gaya hidup aktif dan sehat bernama The Fit Company. Mereka adalah Jeff Budiman, Bambang Reguna Bukit (Bams), Andini Aisyah Haryadi (Andien), dan Prianka Bukit.

“Kesadaran masyarakat akan pentingnya investasi kesehatan pun mulai tumbuh. Dan setelah sekian lama melakukan berbagai inovasi produk dan bisnis, kami sadar telah memiliki hampir seluruh aspek yang membentuk Wellness economy. Maka sudah sewajarnya kami menggabungkan semua bisnis tersebut menjadi satu ekosistem utuh,” ucap Jeff Budiman, Founder & CEO The Fit Company kepada youngster.id saat ditemui Menara BTPN kawasan Mega Kuningan baru-baru ini.

Bisnis wellness ini merupakan penyatuan dari lima lini usaha berbasis kebugaran dan kesehatan yaitu Kredoaum – perusahaan yang fokus sebagai distributor peralatan fitness (Fitness tech distributor). Lalu 20Fit (MicroGym), Fitstop (Gym), Fit Lo-Kal (makanan sehat), dan juga Fitmee – produsen mie instan sehat.

“Setelah sekian lama melakukan berbagai inovasi produk dan bisnis, kami sadar telah memiliki hampir seluruh aspek yang membentuk Wellness Economy. Maka sudah sewajarnya kami menggabungkan semua bisnis tersebut menjadi satu ekosistem utuh,” kata Jeff lagi.

“The Fit Company memanfaatkan teknologi sebagai enabler yang menghubungkan pengguna ke setiap elemen gaya hidup sehat, serta memberi panduan dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan gaya hidup sehat dan bugar,” paparnya.

Baca juga :   10 Cara Memanfaatkan Media Sosial untuk Bisnis

Menurut Jeff, kelima bisnis tersebut akan digabungkan menjadi ekosistem wellness technology. Sehingga tak lama lagi The Fit Company akan hadir dalam bentuk aplikasi dan website yang fokus pada gaya hidup masyarakat secara keseluruhan, baik dari fisik, mental, sosial maupun spiritual melalui teknologi. Jika rencana tersebut terealisasi, maka The Fit Company akan menjadi satu-satunya startup yang wellness technology pertama di Indonesia.

 

Bisnis Terpisah

Sebelumnya, 5 lini bisnis The Fit Company ini terpisah. Berawal dari dibangunnya Kredoaum dan 20 Fit pada 2014.

“Saat itu, mimpi kami adalah adalah untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang menginginkan latihan olahraga yang efisien dengan metode khusus bagi kaum urban,” ujar Jeff.

Saat itu kehadiran 20Fit dengan mesin Electra Muscle Stimulation (EMS) disambut positif oleh konsumen. Pasalnya dengan alat ini mampu memotong waktu olahraga menjadi hanya 20 menit saja,  dengan hasil seperti berolahraga dengan waktu 3 jam di gym konvensional.

Meski demikian, ditambahkan Bambang Reguna Bukit, ketika awal memulai bisnis ini mereka sempat mengalami berbagai tantangan. “Banyak sekali kisah unik ketika mendirikan The Fit Company ini, karena kami memulai semua ini dari nol. Pada waktu itu, modal kami pas-pasan jadi semua kami kerjakan sendiri mulai dari jadi sales hingga kasir,” ujar pria yang akrab disapa Bams.

Namun kecintaan pada dunia kebugaran membuat mantan vokalis grup band Samson ini tetap bekerja keras. “Kami terjun ke binis ini karena suka dengan olahraga. Namun karena belum menemukan tempat yang bisa mengakomodir apa yang kami mau, yaitu tetap dapat berolahraga disela aktivitas yang tinggi. Maka kami terjun ke bisnis ini,” ungkap Bams.

Senada dengan Bams, Andini Aisyah Haryadi, Cofounder The Fit Company, mengungkapkan ketertarikannya terjun ke dunia bisnis karena memiliki visi yang sama yang dengan rekannya di The Fit Company, yaitu mengajak masyarakat mendapatkan sehat dan fit saat melakukan aktifitasnya.

“Saat itu tahun 2014 saya lagi kencang-kencangnya olahraga. Saya juga lagi membangun awareness di masyarakat tentang pentingnya berolahraga dan kebiasaan makan yang sehat. Kemudian ketemu dengan Jeff, Prianka dan Bams dan tertarik dengan visi mereka untuk membuat seluruh Indonesia itu fit,” ungkap perempuan yang akrab disapa Andien.

Baca juga :   Generasi Muda Ubah Lanskap Kuliner Indonesia

Dari visi ini lahirlah Kredoaum dan 20 Fit. Usaha ini berkembang pesat. Dalam kurun waktu empat tahun, 20Fit telah memiliki 20 studio yang tersebar di berbagai area di Jabodetabek.

Lalu pada tahun 2017, para founder melihat adanya tantangan lebih besar dalam gaya hidup sehat, yakni pola makan. Dari situlah, ide mendirikan Fit Lokal sebagai restoran penyedia makanan sehat dan rendah kalori bagi masyarakat. Menariknya lagi, selain makanan utama, para founder juga melihat adanya potensi pasar yang besar dan menantang pada industri mie instan.

“Sebagai negara kedua terbesar penikmat mie instan menurut WINA, Indonesia masih minim akan pilihan mie instan yang sehat dan rendah kalori. Untuk itulah, The Fit Company menghadirkan Fitmee, mie rendah kalori yang terbuat dari konyaku jelly,” ucap Andien.

Saat ini Fit Lokal memiliki 3 cabang restoran dalam waktu satu tahun beroperasi. Sementara untuk Fitmee, pertumbuhan penjualan mereka per bulan, baik online maupun offline mencapai 20%.

 

Sadar akan potensi dan pentingnya kehadiran ekosistem wellness technology yang menyeluruh di Indonesia, keempat anak muda: Jeff, Bams, Andien dan Prianka sepakat mendirikan The Fit Company (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Model Bisnis

Menurut Andien, model bisnis dari The Fit Company berbeda dari perusahaan lain. “Pertama kami ini personalize, artinya orang yang datang ke kami akan kami layani secara personalize. Jadi akan diukur, kayak body fat-nya, terus air dan segala macam hingga mereka mendapatkan hasilnya. Jadi semua benar-benar  terukur apa yang mereka butuhkan. Kedua efisiensinya. Kami tahu di Jakarta ini orang meeting dari tempat satu ke yang lainnnya bisa makan waktu 2 jam. Jadi dalam 2 jam itu sebenarnya sudah banyak waktu yang terbuang,” ungkap penyanyi jazz ini.

Dengan konsep itu maka pada tahun 2018, The Fit Company mulai mengembangkan sayapnya ke gym konvensional dengan membuka Fitstop sebagai opsi bagi mereka yang menyukai gym konvensional

“Sekarang kami bersyukur bisnis jasa yang kami jalankan gym ini dari 1 cabang kini bisa ada 20 cabang tersebar di Jabodetabek dalam waktu singkat. Di sini kami jadi bisa belajar semuanya, termasuk mengembangkan bisnis. Jadi yang membuat kami bertahan di sini karena kami selalu percaya untuk membuat sesuatu yang baru, termasuk hal baru dan konsep yang baru,” cerita Andien penuh semangat.

Baca juga :   9 Desainer Muda Lasalle College Tampil Rancangan Unik di JFW 2018

Sayangnya saat disinggung berapa besar modal dan omset yang didapat The Fit Company selama ini mereka enggan membeberkannya.

“Jujur modalnya nggak besar, gede sih tapi kalau dibilang kecil juga nggak. Cuma saya nggak bisa ngomong, karena di sini kami sama founder yang lain punya komitmen kalau kami kurang suka kalau bicarakan number ke orang, karena nggak penting bagi kami, mending lihat perkembangannya saja,” kilah Bams.

Saat ini, total tim The Fit Company sudah berjumlah ratusan. Bahkan mereka baru saja mendapatkan pendanaan seed funding dari East Ventura. Namun lagi-lagi mereka tidak membuka berapa pendapatan yang telah dihasilkan selama ini.

“Soal revenue, apa yang kami dapat di sini beda-beda. Karena tiap grup punya revenue masing-masingkan. Nggak ditarik ke atas maksudnya, semua punya akunting dan sistem keuangan yang beda-beda sendiri,” kata Bams lagi.

Guna mengintegrasikan semua lini bisnisnya, The Fit Company memanfaatkan teknologi sebagai enabler yang menghubungkan pengguna ke setiap elemen gaya hidup sehat. Termasuk, memberi panduan dan memenuhi kebutuhan mereka akan gaya hidup sehat. “Kami akan merilis platform baru berupa aplikasi dan website untuk mengintegrasikan lima bisnis kami,” pungkas Jeff.

 

======================================

Jeff Budiman

  • Pekerjaan      : Founder & CEO The Fit Company
  • Pendidikan     : Bachelor of Business Accounting & Banking Finance, Monas University

Andini Aisyah Haryadi (Andien)

  • Tempat Tanggal Lahir : Jakarta 25 Agustus 1985
  • Pekerjaan                  : Musisi & Cofounder The Fit Company
  • Pendidikan                 : S1 Ekonomi Universitas Indonesia

Bambang Reguna Bukit (Bams)

  • Tempat Tanggal Lahir : Canada, Otawa 16 Juni 1983
  • Pendidikan                 : Sarjana Ekonomi, Binus Internasional Jakarta
  • Pekerjaan                 : Musisi & Cofounder The Fit Company

Prianka Bukit

  • Pendidikan :
  • Pekerjaan : Cofounder Fit Company

 

  • Nama Usaha      : The Fit Company
  • Mulai Usaha        : 2014
  • Jumlah Cabang   : sekitar 20 cabang

=======================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia