Kiky Nurizky : Berdayakan Masyarakat NTT Dengan Bisnis Daun Kelor

Kiky Nurizky Ekaputra Krisnadi, Founder & CEO Sekolah Timor Lapang Moringa Organik Indonesia (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

youngster.id - Tahukah Anda dengan daun kelor? Tanaman yang memiliki nama latin moringa oleifera ini sempat dikenal sebagai alat untuk melumpuhkan kesaktian. Kini tanaman ini diyakini dapat mengatasi berbagai masalah kesehatan. Bahkan, memiliki potensi bisnis yang menjanjikan.

Tumbuhan ini diduga asli dari kawasan bara Himalaya dan India kemudia menyebar hingga ke Benua Afrika dan Asia. Di Indonesia pohon kelor biasa tumbuh sampai pada ketinggian 300 meter diatas permukaan laut dan merupakan tanaman pionir untuk penghijauan atau pemulihan tanah gersang.

Belakangan daun kelor menjadi potensi bisni yang menarik. Pasalnya, di sejumlah negara tanaman ini disebut sebagai pohon ajaib, karena terbukti secara ilmiah merupakan sumber gizi berkhasiat obat yang kandungannya di luar kebiasaan kandungan tanaman pada umumnya.

Peluang ini yang ditangkap oleh Kiky Krisnadi, pendiri Sekolah Timor Lapang Moringa Organik Indonesia. Dia memberdayakan para petani, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk menambah penghasilan perekonomian mereka melalui tanaman kelor. Dan hasil produksi dari para petani ini kemudian dioleh oleh startup yang dibangun Kiky dengan nama Dapur Kelor Indonesia.

Kiky merupakan salah satu finalis dari program #BuatNyataTujuanmu, sebuah kompetisi sociopreneur yang digelar PT Santos Jaya Abadi (Kapal Api).

Menurut Kiky, awalnya dia dan rekannya Meydi Anastasia dan Oland mendirikan Sekolah Timur Lapangan Moringa Organik pada 2017. Ini adalah sekolah bagi masyarakat desa, khusus untuk pengolahan daun kelor.

Kiky berkisah awalnya dia mengenal tanaman Kelor dari Aceh. Kemudian dia mengikuti pelatihan mengenai budidaya dan pengembangan produk dari tanaman tersebut. Di sana dia bertemu dengan kedua rekannya Meydi dan Oland.

“Kami bertiga ini pernah belajar di Blora tentang pengolahan kelor dan sudah mendapat sertifikasi internasional. Kami ingin menyalurkan ilmu bagi masyarakat sekaligus untuk memberdayakan mereka dalam usaha produk kelor ini,” ucap Kiky kepada youngster.id saat ditemui di Jakarta baru-baru ini.

Awalnya, mereka menjadi pemasok produk berbahan dasar tanaman kelor, Moringa Olifera. Seiring berjalan waktu mereka mendapati bahwa permintaan akan produk ini ternyata sangat tinggi. Suplai terbesar dari Spanyol dan India. Kontribusi Indonesia masih sangat kecil.

“Kami melihat bila dikelola dengan baik dengan produksi yang berkualitas maka hasilnya juga akan sangat baik. Untuk itu kami memutuskan untuk memberdayakan masyarakat agar dapat membudidayakan dan memproduksi kelor ke dunia,” kata Kiky lagi.

 

Kiky Nurizky dengan produknya teh daun kelor (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Tanaman Endemik

Menurut Kiky, mereka memilih membuka sekolah di NTT. Seperti diketahui wilayah NTT memilki lahan budidaya kelor yang luas. Bahkan, kualitas kelor asal tempat ini sudah diakui oleh para pembeli asal Eropa, Australia, Arab Saudi, Korea Selatan dan Tiongkok. Bahkan, permintaan kelor basah dari luar negeri sangatlah tinggi.

Baca juga :   Aplikasi Ini Gelar Ajang Kompetisi Talent Kreatif

Kehadiran Kiky adalah ingin agar masyarakat tidak hanya menjadi petani tanaman kelor tetapi juga dapat mengolahnya dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, mereka mulai merintis sekolah ini sejak tahun 2017.

“NTT tidak seperti di kota-kota lainnya, desa di wilayah NTT hanya mengandalkan pertanian saja. Sayangnya, pemasaran dari hasil pertaniannya kurang luas dan tanamannya hanya itu-itu saja. Mereka tidak memperhitungkan endemik dari tanaman kelor yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Oleh karena itu, kami datang ke NTT untuk mengajarkan, mengolah, menanam kemudian memberdayakan masyarakat setempat melalui tanaman endemik mereka untuk dijadikan produk olahan sehingga bernilai jual tinggi dan diserahkan ke pembeli dari luar negeri,” papar Kiky.

Menurut Kiky, tanaman kelor tumbuh subur di sini. Bahkan dibandingkan dengan tempat lain pertumbuhan kelor lama, lebih dari satu tahun belum tumbuh bunga dan biji. Sementara di NTT, baru enam bulan sudah tumbuh biji, dan itupun dipangkas daunnya. Oleh karena itu, daerah ini memiliki potensi untuk membudayakan kelor dibandingkan di daerah lain.

 

Produk teh daun kelor, merek Dapur Kelor Indonesia (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Sekolah Timor Lapang Moringa Organik Indonesia mulai berdiri pada 2017. “Jujur modal awal kami hanya sebesar Rp 1 juta, Karena awalnya kami menjadi fasilitas praktek saja. Kemudian kami bekerjasama dengan badan-badan sosial seperti WVI dan Australian Aid. Seiring berjalan waktu modal kami bertambah sedikit-sedikit,” ungkap Kiky.

Menurut Kiky, tanaman kelor sudah dikenal masyarakat di NTT. Tetapi mereka belum tahu bagaimana membuatnya menjadi bernilai tinggi.

Menurut hasil penelitian, daun kelor mengandung vitamin A, C, B, kalsium, kalium, besi, dan protein dalam jumlah yang sangat tinggi yang mudah dicerna dan diasimilasi oleh tubuh manusia. Bahkan jumlahnya berlipat-lipat dari sumber makanan yang selama ini digunakan sebagai sumber nutrisi untuk perbaikan gizi di sejumlah negara.

Bahkan, kelor juga mengandung 40 antioksidan dan 90 jenis nutrisi berupa vitamin esensial, mineral, asam amino, anti penuaan, dan anti inflamasi. Kelor juga mengandung 539 senyawa yang dikenal dalam pengobatan tradisional di India dan Afrika serta telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mencegah lebih dari 300 penyakit. Termasuk untuk stimulan jantung, peredaran darah, antitumor, antipiretik, antiepilepsi, antiinflamasi, antiulcer, antipasmodic, diuretik, antihipertensi, menurunkan kolesterol, antioksidan, antidiabetik, kegiatan hepatoprotektifm antibakteri, dan antijamur

“Jadi kami itu menawarkan mereka bagaimana pembudidayaan kelor yang baik. Mereka tertarik dan kemudian mereka tanam, tapi harus ikut aturan kami yang sesuai dengan SOP Moringa dunia,” paparnya.

Baca juga :   BBM Perbarui Fitur Jadi Layanan Terintegrasi

Sekolah ini memiliki lima program yaitu Moringa Esfood, Moringa Esfit, Moringa EsVertilizer, Moringa Eskosmetik dan Moringa Farm. Program ini dilaksanakan di desa-desa terpencil di NTT. Melalui program ini masyarakat juga dapat mengolah tanah tidak produktif menjadi lahan dan tanaman kelor.

“Pesertanya terdiri dari para petani dan ibu-ibu rumah tangga yang ada di 4 desa. Anak-anak muda juga ada, tapi untuk mereka kami ajarkan lebih ke bisnis hilir seperti bisnis makanan dan lain-lain,” kata Kiky.

Sekarang mereka telah memiliki 120 peserta. Selain itu, lahan yang dikelola seluas 7 hektar terbagi atas empat kebun dan sudah siap panen pada Maret mendatang.

 

Kiky Nurizky Ekaputra Krisnadi dan kawannya ingin membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Nusa Tenggara Timur dengan mengembangkan bisnis daun kelor (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Kendala dan Fasilitas

Setahun berjalan, Sekolah Timor Lapang Moringa telah mengahsilkan produk teh kelor yang sudah disebarkan di berbagai wilayah NTT, Flores dan Timor Leste dengan merek Dapur Kelor Indonesia.

Meski usaha ini telah berjalan tentu Kiky masih menemui kendala. “Kami masih terkendala dalam hal fasilitas pembelajaran dan fasilitas produksi. Karena untuk menangani buyer dengan permintaan dalam jumlah yang besar kami belum memiliki alat produksi yang memadai,” ucap Kiky.

Dia menghitung dengan lahan seluas 4 hektar, masing-masih hektar butuh menghasilkan 100 kilo serbuk per bulan. Sementara kapasitas produksi belum cukup untuk mengolah itu. “Akhirnya kami menjual ke pembeli masih setengah-setengah. Apalagi mereka tidak mau menerima daun basah, minimal daun kering atau serbuk,” kisahnya.

Tantangan lain adalah persaingan. Namun Kiky menegaskan bahwa pihaknya sangat memperhatikan quality control.

“Persaingan pasti banyak yang kami temui, apalagi tanaman kelor ini sudah menjadi program utama Gubernur saat ini, yang memiliki program Revolusi Hijau NTT, itu provinsi kelor. Pasti ada saingan di sana-sini. Pastinya kami akan lebih meningkatkan quality control,” ucapnya.

Pihaknya juga menetapkan harga yang bersaing. “Untuk produk teh celup, kami membanderolnya seharga Rp 35 ribu per bungkusnya. Kalau yang teh serbuk atau daun itu kami jual seharga Rp 15 ribu. Selain itu, keuntungan buat petani, misalkan petani menanam di lahan seluas 1 hektar itu biasanya kami bagi sampai 20 blok lahan. Untuk 1 blok itu kami menghasilkan sampai 120 kilo pertiga hari. Jadi setiap 3 hari sekali kami bayar mereka sebesar Rp 5000 perkilo daun basah kepada petani kami, kemudian dikalikan 120 kilo kemudian jadi Rp 600 ribu. Jadi petani itu sudah menghasilkan Rp 600 ribu per tiga hari, dalam total 2 bulan petani itu bisa menghasilkan Rp 12 juta. Berarti per bulan itu mereka bisa dapat Rp 6 juta,” ungkapnya.

Baca juga :   Dhamar Perbangkara : Memanfaatkan Limbah Kayu Untuk Menghargai Alam

Kiky menegaskan, mereka juga transparan dengan pihak pembeli. Jadi pembeli dapat melihat kebun dan melihat produksi yang dilakukan oleh timnya. Termasuk mengapa tanaman mereka lebih cepat tumbuh, karena mereka mengunakan pupuk organik dari sampah tanaman itu sendiri.

“Batang-batang kelor yang fermentasi kami semprotkan untuk menjadi pupuk. Yang kami lakukan di sini tidak ada sama sekali proses kimia. Hasilnya pun kelor tumbuh lebih cepat dan hanya 6 bulan untuk bisa panen,” ungkapnya.

Kiky bersyukur kegiatan sosial yang dilakukan bersama kedua rekannya kini sudah mulai membuahkan hasil, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarkat setempat.

“Saat ini kami sudah ada produknya berupa Teh Kelor, dan produknya baru ada di Nusa Tenggara Timur, Timor Leste dan Flores. Tapi untuk serbuknya kami belum berani kirim ke luar negeri karena kami ingin kumpulkan benar-benar untuk di jual ke buyer nantinya. Saat ini dalam seminggu kami bisa menghasilkan 150 bungkus teh kelor. Sekarang itu, omset kami baru mencapai Rp 10 juta per bulan. Tapi kalau kami panen prediksinya bisa mencapai Rp 25 juta sebulan,” ungkapnya.

Kiky berharap, ke depan akan menggandeng dunia pariwisata di NTT untuk memperluas wilayah pemasarannya agar semakin luas.

“Kami ingin mengubah stigma tentang kelor itu bukanlah tanaman mistis. Tetapi di balik itu semua kelor itu memiliki khasiat karena memiliki nutrisi. Oleh karena itu, kami ingin produk ini tak hanya dikenal di Kupang tapi juga bisa ke daerah lain,” pungkasnya penuh harap.

 

=====================================

Kiky Nurizky Ekaputra Krisnadi

  • Tempat Tanggal Lahir : Bandung 27 Oktober 1994
  • Pendidikan                 : D3, Arsitektur Interior, Universitas Kristen Maranata Bandung
  • Pekerjaan                  : Founder & CEO Dapur Kelor Indonesia (Sekolah Timor Lapang Moringa Organik Indonesia)
  • Mulai Usaha               : 2017
  • Modal Awal                : sekitar Rp 1 juta
  • Produk                      : Teh daun kelor merek Dapur Kelor Indonesia
  • Jumlah Tim                : 9 Orang karyawan
  • Omset                       : Rp 10 juta per bulan

Prestasi            :

  • 10 Besar Ajang Wish Me Luck Diplomat Challenge 2018,
  • 10 Besar Petani Muda Kelor 2018
  • 20 Besar Program Secangkir Semangat #BuatNyataTujuanmu Kapal Api 2108

=========================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia