Komunitas Masyarakat Robotik Indonesia untuk Perkembangan Robotika

Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri menghadiri peresmian Masyarakat Robotik Indonesia di Bogor. (Foto: Kemenaker/youngster.id)

youngster.id - Perkembangan dunia teknologi robotika juga terjadi di Indonesia. Untuk mendukung itu, dibentuklah Komunitas masyarakat robotik pertama di Indonesia sebagai organisasi yang dapat menjadi standar perkembangan dunia teknologi robotika.

Pemrakarsa Pusat Robot Indonesia (PURI Robotics) Jully Tjindrawan menjelaskan bahwa Masyarakat Robotik Indonesia (MRI) dibentuk berdasarkan hasil kerja sama Robotic Explorer dengan BPPT.

“Dalam wadah organisasi ini nantinya menjadi ajang pertukaran ide dari berbagai komunitas, seperti komunitas pendidikan, komunitas bisnis dan industri, komunitas pemerintahan, dan komunitas kedokteran, maupun komunitas pengamat dan media masa,” kata Jully dalam keterangan pers dari Kementerian Ketenagakerjaan, Kamis (10/1/2019) di Jakarta.

Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri yang menghadiri peresmian tersebut, mengatakan pembangunan sumber daya manusia perlu diperkuat pada sisi karakternya agar kemampuannya melampaui robot.

“Anak-anak kita ini tidak dididik untuk bersaing dengan robot. Mereka justru harus melampaui robot dengan menonjolkan sisi kemanusiaannya,” katanya.

Menurut Hanif, ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh robot dan hanya bisa dilakukan oleh manusia. Untuk itu, kata dia, manusia harus terus memperkuat diri dengan keterampilannya.

Baca juga :   Tim Garam Farmasi BPPT Raih BJHTA 2016

“Ada 85 % kompetensi yang dibutuhkan pada masa mendatang depan adalah karakter. Selain karakter, hal yang membuat manusia unggul dari robot adalah responsif terhadap perubahan. Dengan kecepatan adaptasi, manusia akan eksis dan mengendalikan semua perubahan,” tuturnya.
Hanif membeberkan hasil survey ILO, di mana 58% jenis pekerjaan yang ada saat ini akan hilang pada masa mendatang, dan sebaliknya 65 % pekerjaan baru akan muncul pada masa mendatang yang belum dikenal saat ini.

Untuk itu, ia meminta perubahan yang terjadi akibat perkembangan teknologi dan informasi itu jangan dilihat sebagai tantangan semata, namun juga peluang bagi Indonesia. “Oleh karena itu, investasi SDM memegang peranan penting dalam menghadapi era digitalisasi ini,” tegas Hanif.

STEVY WIDIA