Kukuh Roxa : Bangun Bisnis Pertanian Yang Ramah Lingkungan

Kukuh Roxa Putra Hadriyono, Founder & CEO PT Pandawa Agri Indonesia (Foto: Dok. Pribadi/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - Banyak anak muda menilai pekerjaan di bidang pertanian bukan milik mereka. Tak heran jika banyak anak muda meninggalkan desa dan urbanisasi ke kota. Namun, belakangan ini usaha di bidang pertanian menjadi tren bisnis rintisan (starup).

Diramalkan tahun 2017 usaha di bidang agriculture akan booming. Minat para pemuda untuk mengelola bidang pertanian mulai bangkit lagi. Bahkan, beberapa dari mereka mampu membuat pertanian menjadi sektor yang menarik dan menjanjikan.

Sesungguhnya jauh sebelum itu, Kukuh Roxa Putra Hadriyono telah menekuni usaha di bidang pertanian. Sejak tahun 2008 telah merintis usaha yang bergerak di bidang pertanian dengan memproduksi pestisida. Khususnya herbisida atau zat untuk menekan atau memberantas tumbuhan pengganggu (gulma). Berkat ketekunannya itu, saat ini Kukuh dan rekannya berhasil meraup omzet ratusan juta rupiah per tahun.

“Bagi kami bisnis pertanian bukanlah tren tapi kebutuhan primer,” ungkap Kukuh yang menjabat sebagai CEO PT Pandawa Agri Indonesia kepada Youngsters.id.

Pendapat itu dia ungkapkan mengingat Indonesia adalah negara agraris. Pertanian di Indonesia menghasilkan berbagai tumbuhan komoditas pangan seperti padi, jagung, kedelai, sayur-sayuran, ubi, singkong. Selain itu, hasil perkebunannya juga beraneka macam, dari karet, kelapa sawit, tembakau, kopi, teh, tebu hingga kapas.

Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 mencatat 31,74% angkatan kerja di Indonesia atau 38,29 juta bekerja di sektor pertanian. Oleh karena itu, bagi Kukuh bisnis di bidang pertanian itu sangat menarik.

Berangkat dari itulah, pemuda kelahiran Banyuwangi itu merintis usaha di bidang pertanian sejak tahun 2008, di bawah bendera CV Pandawa Putra Indonesia. “Pertama memulai usaha Pandawa Putra Indonesia, karena kami melihat ada peluang usaha di bidang pertanian, dan belum ada orang yang serius membuat produk pertanian dan pembinaan untuk petaninya. Oleh karena itu, kami membuka usaha ini,” ungkap Kukuh.

Menurut Kukuh, potensi pertanian sangatlah menjanjikan. “Mindset masyarakat kita terhadap dunia pertanian masih rendah. Padahal, bisa dihitung pemain asing yang bermain di dunia pertanian Indonesia, itu membuktikan bahwa pihak asing sendiri melihat Indonesia sebagai pasar maupun sumber pertanian yang unggul,” paparnya.

Menariknya, usaha pertanian ini bergerak di produk sarana pertanian seperti pupuk organik, pupuk unsur mineral, bio agents dan adjuvant. Selain itu, mereka juga melakukan pendampingan budidaya padi dengan sistem ramah lingkungan (go organic) serta Konsultan Managemen Agribisnis.

“Pelaku bisnis di bidang pertanian maupun pemerintah sering abai dengan potensi sumber daya alam yang melimpah. Hal ini membuat kita malas untuk memperbaiki diri dengan teknologi maupun regulasi yang mendukung sektor ini. Sangat disayangkan mengingat prediksi World Bank, 20 tahun ke depan dua hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah masalah pangan dan air,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Pandwa Group semakin fokus pada produksi adjuvant, yaitu bahan yang digunakan sebagai solusi untuk mengurangi dosis dari herbisida dan insektisida yang digunakan dalam pertanian. Ada dua produk  utama yaitu Adjuvant Herbisida “Weed Solution” dan Adjuvant Insektisida “Pest Solution”.

“Dengan menggunakan produk kami pengurangan bahan sintetis berbahaya yang digunakan petani bisa berkurang hingga 50% dengan hasil pengendalian tetap sama 100%. Sehingga konsumen bisa menikmati hasil pertanian yang jauh lebih sehat dan petani juga tidak takut untuk gagal panen karena penurunan dosis pestisida yang digunakan,” jelasnya.

Menariknya, bukan saja mendapat profit yang besar. Bahkan, dalam produk bisnisnya itu, Kukuh menawarkan solusi untuk efisiensi biaya pengendalian gulma hingga 20% sehingga selain ramah lingkungan juga lebih menguntungkan konsumen. Kelebihan produknya yaitu bahan yang digunakan asli merupakan kekayaan dari sumber daya alam Indonesia sehingga tidak ada yang impor.

“Sekarang kami sedang mengembangkan jaringan distribusi baru di beberapa wilayah. Tahun ini target kami di Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Lampung, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung untuk bisa diselesaikan, sehingga petani bisa mendapatkan produk kami di toko-toko pertanian terdekat. Untuk ke depannya kami akan terus mengembangkan pasar. Salah satu wilayah yang kami sangat tertarik adalah Indonesia Timur, termasuk Sulawesi Selatan dan wilayah Papua,” tambah Kukuh.

 

Dimulai Dengan Utang

Alumnus Institut Pertanian Bogor ini tidak sendiri mengembangkan usaha pertanian itu. Kukuh berkolaborasi dengan dua rekannya, Sigit Pramono dan Wahyudi. Jatuh bangun dialami mereka sejak mendirikan Pandawa Putra Indonesia.

Menurut Kukuh, sejak awal mereka sudah tertarik dengan pengembangan agronomi pertanian, terutama herbisida, yang kemudian menjadi bisnis utama Pandawa Group. “Sedari awal kami memang menikmati berusaha dalam bidang yang sesuai dengan yang kami pelajari waktu kuliah,” ujar Kukuh.

Mereka bertiga memulai bekerja bersama setelah mereka sempat terbelit masalah usai membuat kegiatan Festival Pertanian. Kegiatan itu menyisakan utang hingga Rp 30 juta yang harus dibayar Kukuh dan kawan-kawan secepatnya. Dari putar otak untuk melunasi utang itu, lahir ide usaha pertanian.

“Kami bisa melihat peluang yang tidak bisa dibantah, bahwa dunia pertanian memang tidak ada habisnya selama manusia memang butuh makan,” ujarnya.

Awal usaha, ketiganya berpatungan untuk mengumpulkan modal usaha sebesar Rp 50 juta untuk menanam Nilam. Setiap hari, mereka turun ke lapangan menemui para petani dan meyakinkan mereka bahwa nilam bisa dikembangkan. Dan itu tidak mudah. “Modal utama kami adalah menemui petani dan bersosialisasi dengan mereka. Ini yang paling menantang adalah memasuki lingkungan petani yang sulit diajak berkomunikasi. Mereka biasanya meminta bukti terlebih dahulu jika produk kami telah berhasil,” ungkap Kukuh.

Keuletan mereka akhirnya berbuah kepercayaan dari para petani. Keberhasilan itu membuat mereka mengembangkan bisnisnya ke bisnis yang lebih luas lagi yakni usaha padi. Keuntungan besar terus didapat dari usaha tersebut, sehingga mereka akhirnya melakukan ekspansi usaha. Mereka menjual produk-produk sarana produksi pertanian seperti obat obatan dan tujuh macam benih padi yang diciptakan oleh mereka sendiri. Pada 2012, status perusahaannya diubah menjadi PT Pandawa Putra Indonesia.

Tak berhenti sampai di sana, Kukuh mengembangkan usaha ini secara terintegrasi dalam satu grup. Dan pada tahun 2014, mereka membentuk PT Pandawa Agri Indonesia sebagai wadah hukum Pandawa Group yang bergerak di sektor agribisnis dan green agrochemical production.  Selain itu, lahir “Padi Nusantara” yang merupakan hasil kolaborasi dengan PT Agridaya Indoraya yang menangani sektor bisnis benih sehat dan berkualitas.

Selain melakukan pendampingan terhadap petani di Banyuwangi, Kukuh juga menjual beras sehat organik ke masyarakat hingga memenangi IVAP (Impact Ventures Applica on Program) yang diadakan oleh LGT Ventures dan GEPI (Global Entrepreneurship Program of Indonesia).

Menurut Kukuh, perkembangan ini untuk mendukung perkembangan pasar. Ia menargetkan bisa meraup omzet ratusan juta rupiah per tahun dari bisnisnya ini. Harga jual rata-rata produknya Rp 35.000/liter. Jumlah petani yang menggunakan produknya sudah ratusan, baik itu di Jawa, Sumatera. Ia juga akan memperluas jangakauan produknya ke Sulawesi dan Kalimantan.

“Ya, total khusus untuk produk Weed Solution tahun berikutnya diharapkan dapat mencapai nilai sekitar Rp 700-800 juta. Belum jumlah yang banyak memang, namun proses dari pengenalan produk hingga beli memang diperlukan pengamatan, sosialisasi yang biasanya memakan waktu 4-6 bulan,” imbuhnya.

 

Kukuh Roxa dan kedua koleganya komitmen mengembangkan dunia pertanian yang ramah lingkungan (Foto: Dok. Pribadi/Youngsters.id)

 

Siap Hadapi Tantangan

Kukuh menyadari, persaingan di bisnis pertanian cukup ketat. Apalagi mengingat usahanya ini belum sebanding dengan perusahaan raksasa terdahulu.

“Tentunya setiap usaha ada hambatan dan masalah yang dihadapi, yang diperlukan adalah kesadaran untuk mempelajari masalah-masalah atau tantangan khas dalam bidang bisnis kita dan tantangan bisnis secara umum. Dengan begitu, kita bisa lebih siap dalam menghadapi apapun,” tegasnya.

Kukuh melihat selama ini produk herbisida 100% diimpor. Pemain herbisida rata-rata merupakan perusahaan multinasional. Oleh karena itu, ia yakin bisnisnya sangat prospektif ke depan. Di dunia pestisida, pasar paling besar memang ada di herbisida, meskipun juga memang yang paling kurang terkenal. Dan gulma sendiri bila dirata-rata dapat mengurangi hasil pertanian sebesar 30%.

“Kami perusahaan yang sangat kecil dibandingkan perusahaan agrochemical lain. Oleh karena itu, kami tidak fokus kepada perusahaan raksasa yang lain, kami fokus terhadap diri sendiri apa yang kami mampu lakukan lebih baik, lebih cepat dan lebih akurat setiap waktunya,” lanjutnya.

Menurut dia, bisnisnya tidak memproduksi herbisida, tetapi sebaliknya bisa mengurangi penggunaan herbisida. Mereka juga berkomitmen hanya menggunakan bahan lokal (Indonesia), non-racun.

Kukuh berharap bisnis ini akan bermuara pada kesejateran semua pihak, terutama para petani. “Bisnis pertanian ini sangat menarik. Sayangnya kesejahteraan yang didapat dalam sektor pertanian ini tidak terdistribusi secara baik. Petani sebagai aktor utama malah yang paling banyak dirugikan,” ungkapnya.

Menurut Kukuh, yang dapat memberikan solusi atas permasalahan di bidang pertanian itu adalah para generasi muda. Apalagi bisnis pertanian di Indonesia ini masih kurang dari segi inovasi. Oleh karena itu, ia berharap para generasi muda Indonesia, selain melek teknologi, juga bias berperan aktif dalam pengembangan dunia pertanian di dalam negeri.

“Anak muda harus mau turun ke dunia pertanian, karena banyak masalah di pertanian yang memerlukan ide-ide segar dari anak muda untuk diselesaikan,” tegas Kukuh.

Diakui Kukuh, bisnis yang dikembangkannya masih dari jauh dari sukses. Kendati begitu, bagi para anak muda yang ingin mengembangkan usaha, ia berpesan agar bisa menjaga kepercayaan yang diberikan, tidak malas belajar, dan selalu mencari jalan keluar untuk setiap masalah. “Jangan terburu-buru ingin cepat berhasil, karena tidak ada jalan pintas dalam berbisnis. Selain itu, jaga kepercayaan, karena itu yang paling utama. Juga, jangan sampai malas untuk terus belajar,” pungkasnya mengingatkan.

 

=======================================

Kukuh Roxa Putra Hadriyono

  • Tempat Tanggal Lahir             : Banyuwangi, 27 Mei 1987
  • Pendidikan Terakhir                : S1, Agronomi dan Hortikultura IPB
  • Usaha                                      : PT Pandawa Putra Indonesia/PT Pandawa Agri Indonesia
  • Jabatan                                    : Founder & CEO PT Pandawa Agri Indonesia
  • Karyawan                                : 17 orang
  • Mulai Usaha                            : 2008
  • Modal Awal                            :
  • Omzet                                     : Rp 600 juta per bulan

Prestasi                :

  • 1st Winner of Mandiri Young Technopreneur 2013 held by Bank Mandiri
  • 1st Winner of Wirausaha Muda Beprestasi 2013 Held by Kemenpora
  • 1st Winner of Impact Venture Application Program 2012 Held by GEPI
  • Youngchangemaker 2013 held by Ashoka Indonesia
  • 1st Winner of Wirausaha Inovatif Berwawasan Lingkungan held by INOTEK 2016
  • 9 Best Innovator Company in Palm Oil Sector 2016 by Sawit Challenge – USAID
  • 1st Winner of Village Capital Impact Accelerator by KOMPAK – AUSAID

========================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia