Layanan Music Streaming Penyelamat Industri Musik

Musik streaming telah menjadi bagian dari gaya hidup masa kini. (Foto: Ilustrasi/youngster.id)

youngster.id - Layanan music streaming telah menjadi penyelamat industri musik. Bahkan platform music streaming, menyumbang 43% dari total pendapatan industri musik secara keseluruhan, dengan total pendapatan pada tahun 2017 US$ 17, 4 miliar atau sekitar Rp 242 triliun.

Dari laporan firma riset MIDiA label-label Amerika Serikat (AS) mendominasi raihan keuntungan dari industri musik. Label rekaman ternama dunia, Universal Music, menjadi pemuncak posisi tahun 2017 dengan pendapatan US$5,1 miliar (sekitar Rp 72,1 trilun). Sony Music mengekor di urutan kedua dengan total pendapatan US$3,6 miliar (sekitar 50,7 triliun). Sementara Warner Music, bercokol di posisi ketiga dengan pangsa pasar tumbuh hingga US$3,1 miliar (sekitar Rp 43,6 trilun).

Platform musik online juga turut menggenjot pertumbuhan sektor independen, yang banyak diisi label dan musisi indie dengan menyumbang pendapatan US$4,79 miliar (sekitar Rp 67 triliun). Namun, sebagian keuntungan sektor independen, turut diserap label-label besar yang menaungi.

Musisi-musisi indie banyak memanfaatkan platform musik digital, seperti Soundcloud, Believe Digital’s Tunecore, CD Baby, dan Bandcamp. Semua perusahaan platform musik digital tersebut meraup pendapatan total US$472 juta (sekitar Rp 6,5 triliun) di tahun 2017, naik dari tahun sebelumnya yang mencapai US$371 juta (sekitar Rp 5,1 triliun).

Baca juga :   Bekraf Benahi Hak Cipta Industri Musik

Semakin tingginya akses music streaming dan platform musik digital, semakin membuat diversifikasi atau keberagaman selera musik, yang muncul di pasar. Walaupun industri musik terbantukan dengan music streaming, pendapatan yang diraih masih kurang dari setengah pendapatan yang diperoleh pada tahun 1999. Tahun tersebut dinobatkan sebagai persentase terbaik industri musik yang mencapai 15 miliar dollar AS pada masa itu.

Awal kemunculan platform music streaming, seperti iTunes milik Apple dan Spotify, disambut protes dari sebagian musisi dunia. Kala itu, mereka menganggap layanan music streaming merusak nilai seni sebuah karya musik dan menganggap keuntungan dari platform tersebut lebih kecil dibanding penjualan keping CD dan unduhan. Namun seiring berjalannya waktu, menurut laporan Recording Industry Association of America, tahun 2016 penjualan keping CD menurun secara global, dengan hanya terjual 99,4 juta keping.

STEVY WIDIA