Mahasiswa ITS Rancang Sistem Pendeteksi Kesuburan Tanah

Hipzul Achmad Jabbar mahasiswa Departemen Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh November (Foto: ITS)

youngster.id - Indonesia adalah negara agraris. Untuk itu pengolahan lahan pertanian menjadi penting. Melihat kondisi ini, Hipzul Achmad Jabbar, mahasiswa Departemen Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) merancang sebuah sistem pendeteksi kesuburan tanah.

Pemuda yang akrab disapa Ijul mengatakan, pada sistem pendeteksi kesuburan tanah ini terdapat empat sensor yaitu kelembaban, PH, Electrical Conductivity (EC), dan suhu. Karena keempat indikator tersebut saling berkaitan, misalnya PH dengan EC karena di PH tertentu itu saling berkaitan dengan ion tertentu pula.

“Sehingga bisa mengontrol tanah tersebut cocok untuk tanaman apa atau karena kekurangan ion kemungkinan perlu ditambahkan pupuk untuk bisa merubah variabel seperti EC,” ungkap Ijul yang dilansir laman ITS baru-baru ini.

Untuk cara kerjanya, yaitu keempat sensor tadi ditancapkan ke tanah terlebih dahulu. Lalu data yang didapatkan akan otomatis dikirim ke arduino. Arduino merupakan sebuah microcontroller yang bersifat open source atau sumber terbuka yang ditujukan untuk membuat prototype peralatan elektronik. Menurutnya, alasan untuk memilih arduino karena lebih mudah dipakai untuk prototyping karena simpel dan kodingannya lebih mudah.

Baca juga :   Teknologi AI Jadi Tren Terdepan Tahun 2017

Setelah itu, arduino akan mengirimkan data ke aplikasi yang telah ia buat. Data yang dikirim ke server aplikasi tersebut menggunakan wifi. Karena biar terlihat lebih bagus dan tidak terlalu banyak kabel biar lebih wireless. Kemudian data yang telah dibaca sensor akan ditampilin ke aplikasi.

Aplikasi ini berbasis web based, karena pertimbangan agar mudah diakses melalui mobile phone atau komputer biasa. Jadi ketika pengguna ingin mengetahui kondisi tanahnya, tinggal mengakses lewat websitenya saja, tanpa harus meng-install aplikasi terlebih dahulu.
“Karena di sini saya cuma developing dan prototyping jadi belum di-hosting ke cloud dan web, servernya masih di localhost,” terang Ijul.

Dibimbing oleh Dr Eng Febriliyan Samopa SKom MKom, Ijul mengungkapkan ide ini berasal dari keingintahuannya terhadap Indonesia yang merupakan negara agraris, apakah di era industri 4.0 ini pertainan itu mudah digabung dengan teknologi.

Ijul mengungkapkan, kesulitannya ketika mengerjakan TA-nya. Karena bukan berlatar belakang orang elektro atau pertanian, sehingga ia perlu belajar lebih dalam terlebih dahulu. Pada awalnya ia hanya tahu mengenai kodingnya dan jalan arsitekturnya. “Jadi cara ngerakit alatnya, menentukan variabel itu susah, sehingga harus banyak baca paper dari luar jurusan,” sambungnya.

Baca juga :   Fintech, Peluang Bagi Startup Lokal

Harapan Ijul, TA-nya ini dapat dikembangkan lebih lanjut. Karena memang tidak bisa jika dikembangkan sendirian oleh anak SI saja. Akan tetapi, harus juga bersama dengan anak elektro, biologi dan pertanian. Pemuda kelahiran 1997 ini juga berharap, nantinya aplikasi ini merupakan sebuah open source. Sehingga bisa dipakai dan dimanfaatkan secara gratis oleh banyak orang.

STEVY WIDIA