Muhammad Aripin : Perangi Kemiskinan Dengan Kreatifitas

Muhammad Aripin, Founder & CEO Yayasan Rumah Kreatif & Pintar (Foto: Dok. Pribadi/Youngster.id)

YOUNGSTER.id - Pola pikir masyarakat umumnya menganggap keterbatasan ekonomi adalah halangan untuk berwirausaha. Namun sejumlah orang telah membuktikan bahwa persepsi itu tidaklah sepenuhnya benar. Dengan bersenjata keterampilan dan kreativitas, kemiskinan dapat diperangi.

Keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk sukses. Hal itu sudah dibuktikan oleh Muhammad Aripin (29), pendiri Yayasan Rumah Pintar dan Kreatif di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ini bermula dari bisnis kerajinan dengan memanfaatkan sampah dan limbah kayu menjadi sebuah barang yang bernilai ekonomis.

Lewat bisnis ini, Arifin pun mengajak sejumlah pihak, mulai dari anak-anak jalanan, masyarakat sekitar hingga warga binaan Lapas Banjarmasin turut serta. Mereka tak hanya dijadikan tenaga kerja, tetapi juga dibina untuk dapat memiliki keterampilan dan kepintaran sehingga bisa mandiri dan berwirausaha sendiri.

“Sebenarnya Rumah Kreatif dan Pintar ini didirikan bukan untuk bisnis, melainkan sebagai wadah menggerakkan seluruh binaan dengan berbagai latar belakang masalah untuk bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” tutur Aripin kepada Youngster.id baru-baru ini di Jakarta.

Pemuda asal Banjarmasin ini menuturkan rumah kreatif yang didirikannya ini tak memiliki tujuan komersil. Pasalnya, apa yang ia lakukan ini bak menciptakan wadah, membentuknya serta menggerakkan seluruh binaan dengan berbagai latar belakang masalah untuk bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

“Melalui yayasan ini kami membina beberapa kalangan. Mereka di antaranya anak-anak yatim piatu, anak-anak terlantar dan putus sekolah, anak-anak dari keluarga tidak mampu, anak-anak korban broken home, anak-anak korban nafza, anak-anak jalanan, serta masyarakat umum dari 5 Kecamatan di Kota Banjarmasin dan beberapa Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan dan Tengah. Jadi seluruh binaan kami latih kemandirian, sehingga seluruh binaan kami mampu mempunyai unit usaha sesuai kapasitas dan kemampuan yang mereka miliki serta mampu melanjutkan pendidikan yang lebih baik,” ungkapnya.

Dirinya menyadari betul, dengan merangkul anak-anak putus sekolah dalam wirausahanya akan memberikan sebuah harapan besar bagi mereka untuk bisa melanjutkan pendidikannya. Begitu juga ketika melibatkan anak-anak jalanan akan memperkecil potensi mereka menjadi korban kekerasan dan juga korban penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif (napza).

Menurut Aripin, lingkungan yang kondusif dengan memberikan bekal pendidikan informal maupun formal akan mampu menghindarkan para anak jalanan dari korban kejahatan dan juga pelaku kejahatan.

 

Penolakan Lingkungan

Lahir dari keluarga yang tidak berada, dimana bapaknya seorang tukang becak dan pemulung sampah botol-botol plastik, memaksa Aripin untuk bisa mandiri menghidupkan dirinya sendiri tanpa harus membuat beban orangtuanya semakin berat. Anak bungsu dari lima bersaudara ini pun tekun membantu orang tua mengumpulkan sampah dan botol plastik yang kemudian dipilah, lalu dijual untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, dirinya berhasil menyelesaikan studi D3 Politeknik Banjarmasin dan S-1 Universitas Muhammadiyah Malang.

Sesungguhnya, Aripin sempat jadi pengajar teknik mesin. Namun atas dorongan ibunya, ia memutuskan pada November 2015 mulai mendirikan usaha sendiri dengan berdasar hukum Yayasan. Dengan modal Rp 28 juta dari tabungannya, ia bercita-cita dapat membuka lapangan pekerjaan dan menghidupi orang lain.

“Sejak itu, saya total bekerja di yayasan dan menjadi seorang social entrepreneur,” katanya menggambarkan dirinya dan usaha yang digelutinya.

Nama Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar yang didirikan bukan tanpa dasar. “Saya ingin anak-anak di yayasan ini memiliki kreativitas dan pintar, sehingga mereka mampu meraih masa depan yang lebih baik,” katanya.

Saat ini, total ada 85 anak-anak yang diberdayakan di Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar yang telah berbadan hukum sejak 2016. Aripin mengatakan uang untuk membayar notaris supaya yayasannya mendapatkan legalitas secara hukum dikumpulkan sedikit demi sedikit dari tabungannya. “Alhamdulillah, sejak awal Januari 2016, Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar sudah berbadan hukum,” katanya dengan penuh syukur.

Di awal mendirikan yayasan Rumah Kreatif & Pintar bukan perkara mudah, bagi Aripin. Penolkan dari lingkungan sekitar yang merasa tak menerima kehadiran usaha yang dibangunnya itu, karena dinilai dengan banyaknya murid yang belajar di yayasan tersebut hanya membuat kegaduhan bagi lingkungan sekitar. Namun anak kelima dari mendiang pasangan Yahman Suradi dan Toerah terus mewujudkan tekad dan impiannya agar usaha sosial yang dilakukannya tetap berjalan.

“Kesulitan terbesar ketika kami tidak diterima di masyarakat hingga kami diusir dari rumah saya sendiri karena dianggap membuat keributan dan bikin onar. Bersyukurnya, kami tetap ada dan terus melanjutkan niat baik yang ingin kami capai, yakni bisa menyejahterahkan masyarakat sekitar melalui kegiatan positif ini,” kisah Aripin.

Perlahan dia membuktikan bahwa apa yang dibangun ini tidak sia-sia. Dengan menggunakan bangunan Puskesmas, Aripin terus mengembangkan mulai dari teknik hingga kerajinan.

Yang unik, Aripin “menyulap” barang-barang bekas yang dikumpulkannya dari sejumlah tempat, seperti velg sepeda, drum dan ban mobil bekas menjadi sofa, lemari dan lain-lain. Sendok plastik pun dia jadikan lampu hias. Begitu pula kawat bekas, dia jadikan bunga bonsai. Hal yang sama dia lakukan pada koran bekas.

 

Melalui Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar, Muhammad Aripin ingin turut memberdayakan kreatitivitas generasi muda dan anak jalanan (Foto: Dok. Pribadi/Youngster.id)

 

Berlipat Ganda

Tiap bidang usaha tersebut, kata Aripin, memiliki unit produksi masing-masing. Tiga puluh persen keuntungan yang diperoleh digunakan untuk biaya pendidikan, sedangkan 70% digunakan untuk biaya operasional sehari-hari, termasuk makan.

“Modal saya Rp 28.000.000 membangun yayasan ini. Modal yang saya tanamkan itu sifatnya saya hibahkan, dan alhamdulillah kembali berkali lipat ganda karena sekarang saya sering diminta sebagai instruktur penggerak bisnis kepada masyarakat yang dipercaya oleh pemerintah kota Banjarmasin. Sedangkan, omset perbulan yang kami dapati itu relatif, rata-rata Rp 20.000.000 – Rp 40.000.000,” ungkapnya.

Total produk yang dihasilkan yayasan ini di antaranya, jasa pembuatan tralis, pagar, kanopi, tangga. Lalu ada bengkel sepeda motor (jasa service), pembuatan lemari dan rak gantung, dan dekorasi stand pameran. Selain itu, ada produk kerajinan daur ulang, dan handycraft.

Untuk memasarkan produk-produk kerajinan usaha, Aripin menuturkan, dia bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banjarmasin. Produk-produk kerajinan usaha juga dia pasarkan secara online. “Selain di Indonesia, produk-produk kerajinan usaha yang kami hasilkan, kami pasarkan ke Jepang, Korea, Nepal, Singapura, dan Malaysia,” katanya dengan nada bangga.

Namun yang paling membanggakan manfaat hadirnya Yayasan Kreatif dan Pinta ini adalah untuk memberikan wadah bagi pemuda dan anak-anak dalam berkreatifitas dan berkarya. Juga, memberikan motivasi kepada pemuda dan anak-anak dalam menggunakan dan memanfaatkan waktu agar tidak terbuang sia-sia.

“Lewat kegiatan ini kami dapat mengurangi aktifitas negatif yang kemungkinan terjadi dalam kesalahan pergaulan yang dilakukan pemuda dan anak-anak. Mendukung program pemerintah dalam mengurangi dan memerangi kemiskinan dengan menjadikan pemuda sebagai wirausahawan dengan mengandalkan kemampuan dan kreatifitas yang dibekali,” sambung dia.

Menariknya Aripin menggerakkan semua itu secara mandiri. Maklum, yayasan tidak punya donatur dan tidak menerima bantuan finansial dari pihak luar untuk mengelola seluruh binaan yayasan ini. Sekarang ada sebanyak 2300 orang yang terlibat di dalamnya, dan untuk perluasan usaha, sudah mempunyai sebanyak 14 titik unit usaha retail/outlet.

“Tujuan saya, seluruh binaan kami latih kemandirian, sehingga seluruh binaan kami mampu mempunyai unit usaha sesuai kapasitas dan kemampuan yang mereka miliki serta mampu melanjutkan pendidikan yang lebih baik serta kehadiran kami ini bisa merubah pola fikir masyarakat bahwa keterbatasan ekonomi bukan menjadi halangan dalam berkarya dan menjadi wirausaha. Sedangkan misinya yaitu untuk merangkul generasi muda agar bangkit dan berkarya bagi Indonesia. Juga, mendukung program pemerintah dalam memberdayakan swadaya generasi muda dalam berkreatifitas, dan mengangkat kualitas pemuda Kalimantan Selatan dan mampu berkreatifitas,” paparnya.

Aripin berencana mengembangkan usaha sosial yang didirikan ini bisa juga dinikmati masyarakat di seantero Nusantara. “Ingin berencana mengembangkan bisa dijangkau di seluruh daerah di Indonesia. Selanjutnya saya ingin sekali mewujudkan tempat secara mandiri dan permanen bukan dipinjamkan. Semoga kiranya ada yang tergerak hatinya membantu kami memfasilitasi tempat untuk binaan kami,” ujarnya berharap.

 

=====================================

Muhammad Aripin

  • Tempat Tanggal Lahir : Banjarmasin, 27 Pebruari 1988
  • Pendidikan Terakhir    :  Sarjana Teknik Universitas Muhammadiyah Malang
  • Nama Brand              : Rumah Kreatif Collection
  • Nama Perusahaan     : Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar Kota Banjarmasin
  • Mulai Berdiri              : November 2015
  • Modal Awal               : Rp. 28 juta
  • Omset per bulan       : Rp. 20 juta- Rp. 40 juta
  • Total Binaan             : 2300 orang

Prestasi yang pernah didapat :

  • Juara Karya Ilmiah Tingkat Instansi Politeknik Banjarmasin tahun 2008
  • Juara Karya Tulis Ilmiah Tingkat Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2010
  • Juara Pemuda Pelopor Nasional Tahun 2015
  • Juara Satu Indonesia Award (Astra ) Tahun 2016 Bidang Kewirausahaan
  • Juara Yayasan Berprestasi Nasional tahun 2017

===================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia