NextICorn 2019 Pertemukan 104 Startup dan 150 Investor

Nexticorn 2019 akan digelar pada 14-15 November di Jimbaran, Bali. (Foto: istimewa)

youngster.id - Yayasan NextICorn kembali menggelar program Next Indonesia Unicorn (NextICorn) summit. Acara yang akan digelar pada 14-15 November 2019 di Jimbaran, Bali akan menghadirkan 104 startup dan 150 investor global.

NextICorn sudah dua kali digelar, yakni pada Mei dan Oktober 2018. Perusahaan rintisan yang ikut terus meningkat, dari 65 menjadi 88, dan kini ditarget 132. Jumlah investor juga naik dari 89 menjadi 125, dan dibidik 150 pada tahun ini.

Ketua Umum Yayasan NextICorn Daniel Tumiwa mengatakan, ada 132 perusahaan rintisan yang ditarget turut serta dalam ajang itu. Namun, baru 104 di antaranya yang mendaftarkan diri.

Selain itu bakal ada 150 investor global yang diundang dalam acara ini. Beberapa di antaranya Sequoia, Vertex, Temasek, Alpha JWC Ventures, Warburg Pincus, EV Growth, dan lainnya.

Dia mengungkapkan, pada Mei 2018, ada 2020 permintaan pertemuan antara startup dengan investor. Namun yang terealisasi hanya 1.035 karena keterbatasan ruang dan waktu. Pada Oktober 2018, ada 801 pertemuan dari total 3.999 permintaan. Tahun ini, ada 4.800 permintaan pertemuan. Namun, Daniel memperkirakan hanya akan terealisasi 1.500.

Baca juga :   BEI Yogyakarta Siapkan UKM dan Startup Go Publik

“Kami fokus pada meetings. Sebab, peluang kesepakatan antara startup dan investor lebih terbuka lebar lewat pertemuan bilateral seperti ini,” ungkap Daniel.

Perusahaan rintisan yang bisa ikut NextICorn pun dikurasi. Salah satu syaratnya, berbentuk Perseroan Terbatas (PT) atau Penanaman Modal Asing (PMA) dengan kepemilikan modal lokal minimal 25%. Setidaknya sudah memeroleh investasi US$ 100 ribu dari investor eksternal. Bila masih bootstrap atau didanai oleh pendiri, startup media minimal punya lima juta pengguna aktif bulanan (Month Active User/MAU) untuk bisa ikut NextICorn.

Bagi startup e-commerce, minimal nilai transaksinya (Gross Merchandise Value/GMV) lebih dari US$ 1 juta atau aplikasinya diunduh satu juga kali. Sedangkan bagi perusahaan rintisan di bidang Software as a Service (SaaS), minimal Annual Recurring Revenue (ARR) sebesar US$ 500 ribu. (Baca: Ribuan Pertemuan Startup dan Investor Digelar di Ajang Nexitcorn) Dari sisi pendanaan, sekitar 20% perusahaan rintisan sudah mendapat pendanaan kurang dari US$ 1 juta.

Kemudian, 55% memperoleh pendanaan US$ 1 juta-US$ 5 juta, dan 25% di atas US$ 5 juta. Daniel mengatakan, berdasarkan informasi yang ia terima, startup di bidang agrikultura, pendidikan, dan kesehatan yang paling banyak dicari. Hanya saja, menurutnya perusahaan rintisan terkait agrikultura yang ikut NextICorn masih sedikit jika dibanding permintaan. Adapun Yayasan NextICorn dibentuk pada April lalu. Sejak saat itu, penyelenggaraan NextICorn dibiayai secara mandiri.

Baca juga :   Faris Sundara Putra : Bangun Jalan Tol Bagi Pelaku Startup

STEVY WIDIA