Oolean, Kolaborasi Telkom, Agate dan Melon Majukan Industri Game Indonesia

Ki-Ka: CEO Agate Arief Widhiyasa, EVP Media & Digital Business Telkom Joddy Hernady dan CEO Melon Dedi Suherman. (Foto: Stevy Widia/youngster.id)

youngster.id - Menurut laporan GMGC Sea Mobile Report 2017, terjadi kenaikan besaran pasar yang signifikan pada sektor game di Indonesia. Sayangnya, meski Indonesia tumbuh menjadi pasar yang besar, dari data Asosiasi Game Indonesia (AGI), hanya 8% pendapatan game yang beredar di Indonesia yang masuk ke perusahaan Indonesia.

Padahal menurut Newzoo, besarnya pasar Indonesia pada tahun 2017 sudah mencapai US$879.7 juta dan diprediksi akan mencapai US$1 miliar pada tahun 2019. Tetapi hanya sekitar 0.4% yang merupakan produk dalam negeri.

Berdasarkan data tersebut, Melon dan Agate melihat peluang untuk mengembangkan industri game di Indonesia melalui kerja sama strategis untuk melahirkan program Oolean.

“Kami dari Melon melihat fenomena kekalahan perusahaan lokal dalam persaingan pasar, sementara potensi pasarnya sangat tinggi. Didasari oleh hal tersebut, kami sebagai perusahaan yang bergerak di bidang hiburan digital merasa perlu untuk membantu agar perusahaan gim lokal dapat menjadi tuan rumah di negara sendiri dalam waktu 5 tahun ke depan, dibantu perusahaan game lokal seperti Agate,” ucap Dedi Suherman, President Director & CEO PT Melon Indonesia pada Rabu (10/7/2019) di Cohive 101 Jakarta.

Hal senada juga diungkapkan oleh Joddy Hernady (SVP Media & Digital Business and EGM Digital Business PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk). Menurut dia, Telkom yang telah bertransformasi menjadi perusahaan digital melihat potensi dari industri game.

“Telkom melihat potensi pasar dari industri game dan tidak ingin Indonesia hanya jadi pasar. Karena itu Telkom ingin berperan aktif terutama dalam memajukan industri kreatif. Setelah musik, film, video kini kami ingin berperan memajukan insutri game lewat Oolean,” ucap Joddy.

Sementara itu, Arief Widhiyasa, CEO Agat menjelaskan, potensi pendapatan game di Indonesia sangat besar. Tetapi hanya 8% yang masuk ke perusahaan Indonesia, yaitu 0.4% untuk gim karya developer Indonesia, sementara sisanya, 7.6%, ke publisher Indonesia yang mempublikasikan gim karya developer asing. Hal ini terkendala dari kurangnya investasi, perusahaan game dan talenta.

“Untuk itu, Oolean dibentuk dengan tujuan membangun ekosistem gim yang memadai di Indonesia, antara lain mengembangkan market share dan pertumbuhan developer game lokal Indonesia,” kata Arief.

Menurut dia, kontribusi Agate dalam kerja sama strategis ini adalah mengembangkan game, publishing gim, pengembangan teknologi, serta membantu pembentukan dan berjalannya inkubator yang dibutuhkan untuk mengembangkan market share perusahaan game lokal.

“Hingga saat ini, kami telah meluncurkan tiga gim casual yaitu Onet Asli, Botol Ngegas, dan Teka Teki Santai,” ujar Arief di kesempatan yang sama.

Melalui Oolean, kerja sama antara Melon dan Agate akan melingkupi pengembangan platform gim untuk user, pembuatan properti intelektual orisinil yang fokus memproduksi game Iokal, bekerja sama dengan pengembang lokal lainnya untuk membuat gim yang bisa mendunia, serta mengembangkan platform untuk mendistribusikan game dari perusahaan lokal maupun linternasional yang dirancang dan dibangun oleh Melon.

Tidak berhenti sampai disini, kerjasama antara Melon dan Agate juga akan mengembangkan ekosistem pengembangan game lokal Iewat inkubator, institusi pendidikan dan komunitas pengembangan game game.

“Kami berharap melalui kerjasama Oolean ini maka industri game tanah air akan dapat berkembang pesat dan bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Arief penuh harap.

STEVY WIDIA