Rendy Aditya Wachid : Ingin Jadikan Indonesia Bebas Sampah

Rendy Aditya Wachid, Founder & CEO Parongpong Recycle and Waste Management (Foto: Dok. Pribadi/youngster.id)

youngster.id - Pemandangan tak sedap terlihat di sepanjang jalur mudik Pantura. Pasalnya para pemudik menyisakan jejak sampah, terutama sampah plastik yang berserakan di mana-mana. Mereka tak sadar bahwa sampah itu dapat memenuhi bumi hingga berabad-abad tanpa terurai.

Kondisi ini tak jauh dari data bahwa Indonesia disebut sebagai penghasil sampah plastik terbesar di dunia. Berdasarkan data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahunnya. Dari jumlah itu, sebanyak 3,2 juta ton yang dibuang ke laut.

Peduli akan hal itu, mulai banyak orang, organisasi dan perusahaan yang mencegah agar sampah plastsik tidak berakhir dan menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA). Salah satunya adalah Parongpong Recycle and Waste Management.

“Sebagai pengusaha saya sadar banyak hal yang kami pinjam dari generasi yang akan datang, dan banyak hal yang harus kami pertanggungjawabkan, bahkan kembalikan ke mereka. Air, udara, tanah harus kami perbaiki kualitasnya, dan sesedikit mungkin menghasilkan sampah. Kami tidak ingin meninggalkan warisan predikat pembuang sampah plastik,” cerita Randy Aditya Wachid, founder dan CEO Parongpong RWM kepada youngster.id belum lama ini di Jakarta.

Parongpong RWM adalah perusahaan pengelolaan atau pengolahan sampah yang memberikan pelatihan untuk memisahkan sampah, melakukan daur ulang, dan mencegah sampah residu (sampah non daur ulang, non ekonomis) untuk tidak mencapai TPS/TPA dengan dikelola secara mandiri oleh penghasil sampah. Jadi spesialisasi Parongpong adalah mengolah sampah residual yang masih bisa digunakan atau diolah kembali.

“Karena kami melihat selama ini sampah-sampah yang dibuang ke TPA bukanlah sampah terpilah. Padahal dari sekian banyak sampah tersebut ada yang bisa digunakan atau diolah. Selain itu, jika sampah-sampah bisa dipilah, itu bisa menekan volume sampah di TPA,” kata Rendy lagi.

Baca juga :   IKEA Kembali Gelar Pameran UKM Kerajinan Indonesia ke-4

Menariknya, Parongpong mengubah sampah-sampah itu sedemikian rupa sehingga bisa dipakai lagi, dan bernilai ekonomis. Beberapa jenis barang hasil olahan sampah telah diproduksi Parongpong seperti sedotan stainless, sikat pembersih, sendok, garpu dan sedotan bambu, stainless razor, all in one cleaner, pensil, wooden chopstick, hingga trash bag.

“Saya ingin dalam jangka pendek membuat Parongpong zero waste high performance habitat di 2022. Sedangkan untuk jangka panjangnya adalah mencapai Indonesia Bebas Sampah,” tegas Rendy.

Bahkan, Parongpong menginisiasi gerakan “The Trash Bag Project”. Gerakan ini merupakan sebuah proyek daur ulang spanduk bekas kampanye untuk diolah menjadi trash bag pada Happiness Festival ID yang digelar 27-28 April 2019 lalu di Lapangan Banteng, Jakarta.

Menurut Rendy, sebaik-baiknya pengolahan sampah adalah tidak menghasilkan sampah sama sekali.

“Kesulitannya adalah pola pikir masyarakat, swasta, dan pemerintah dan cara pandang terhadap sampah. Sebaik-baiknya pengolahan sampah adalah tidak menghasilkan sampah sama sekali. Tapi di sekitar kita, masih banyak yang bahkan buang sampah pada tempatnya saja belum bisa, atau belum mau. Padahal itu saja tidak cukup, harus dipilah, pilah saja tidak cukup, harus diolah, olah saja tidak cukup, harus dipertimbangkan metode dan fasilitasnya yang paling pas untuk Indonesia,” tegas Rendy.

Masa Depan Anak

Rendy mendirikan usaha ini bersama sang istri pada 26 Desember 2017 di Desa Parongpong, Bandung Barat. Sebelumnya dengan latar belakang arsitektur dan MBA, Rendy telah menjalankan sejumlah bisnis, mulai dari desain, perdagangan, rancang bangun, makanan, penginapan, galeri seni, fesyen, arsitektur, perkebunan, hingga keuangan. 

 “Saya mendirikan startup ini terinspirasi dari keguguran anak pertama kami. Di luar kesedihan itu, saya jadi memikirkan masa depan anak-anak nanti. Saya sadar bahwa selama ini bisnis saya menghasilkan sampah dan nanti anak saya bisa jadi generasi yang terdampak. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan masa depan anak saya adalah membangun usaha pengurangan sampah. Saya sepakat dengan istri kalau kita nggak bisa menemukan tempat yang baik di Indonesia buat anak kami, ya kami harus bikin sendiri tempat itu. Karena kami tidak ingin anak kami mengulang tragedi bencana sampah di Filipina,” kisahnya.

Baca juga :   Warung Chain Juara Pertama Google Play Indonesia Game Contest 2017

Rendy menegaskan, Parongpong didirikan dengan tujuan menciptakan Zero Waste Performance Habitat di 2022. Untuk membuktikan keseriusan ini, Rendy berangkat ke Kamikatsu Jepang dan belajar ilmu pengolahan sampah di sana. Dia juga ikut dalam kegiatan Boyan Stat dan The Ocean Cleanup. Sekembali dari sana dia memantapkan diri untuk fokus pada sampah plastik.

“Sebenarnya saya selalu percaya waste is a very complex problem, there’s no easy solution. Jadi memang ketika kita mau melakukan ini, betul-betul harus lihat dari berbagai sisi. Tidak ada solusi yang mudah,” ujarnya.

Menurut Rendy, contoh yang paling mudah adalah kalau semua orang bisa memilah sampah. Tapi, di sisi lain, kalau orang sudah memilah sampah siapa yang mau mengolahnya, karena kalau tidak diolah dicampur lagi.

“Kami hadir sekaligus menempatkan diri sebagai pionir dalam banyak bidang pengolahan sampah,” klaim Rendy.

Diklaim Rendy, Parongpong merupakan perusahaan pertama yang membuat sistem sirkular pengolahan sampah plastik dengan menukar sayur dengan sampah botol plastik. Juga merupakan perusahaan pertama yang bisa mengolah sampah hingga 0 kg ke TPA.

“Kami adalah perusahaan pertama yang membuat prototype rumah mikro 9 m2 yang mampu mengolah sampah, memfilter air, dan menghasilkan energinya sendiri,” klaim Rendy bangga.

Rendy berharap, apa yang dilakukannya melalui Parongpong akan menjadi langkah awal bagi Indonesia bisa terbebas dari sampah (Foto: Dok. Pribadi/youngster.id)

Kolaborasi

Menurut Rendy, persoalan sampah sangatlah kompeleks yang tidak dapat dipecahkan sendirian, melainkan harus berkolaborasi.

“Sekali lagi, masalah sekompleks ini tidak bisa diselesaikan sendiri, collaboration is the key. Untuk pengolah sampah residu berbasis hydrothermal, kami tidak ada kompetitor, yang menjadi tantangan utama adalah market education,” papar lelaki kelahiran Bandung, 26 Desember 1985.

Baca juga :   Kini Hadir Informasi Mudik dalam Format Digital

Menurut dia, untuk itu Parongpong bekerjasama dengan perusahan dengan lima model strategi. “Kami memiliki 5M : man, money, machine, method, material kami sendiri. Kami berbasis logika dan riset, kami benar-benar berniat menyelesaikan masalah sampah. I start a company because I need it to solve a problem. I’m not looking for problem (or even worse creating ones) because I want to start a company,” imbuhnya.

Dengan kerjasama, Parongpong bisa melakukan gerakan viral pengolahan sampah Alat Peraga Kampanye menjadi kantong sampah. Mereka juga menjadi perusahaan pertama yang berkerja sama dengan produsen untuk mengolah sampah popok dan pembalut.

“Di Parongpong kami bermitra dengan banyak sekali rekanan, hampir setiap lini sampah kami berkerjasama dengan ahlinya. Kami punya rekanan ahli pengolahan sampah makanan, sampah fashion, sampah bangunan,” ungkap anak kedua dari 3 bersaudara.

Layaknya bisnis, Rendy pun mengeluarkan modal cukup besar untuk Parongpong. “Bersyukurnya lagi, membicarakan modal ketika mendirikan usaha ini, sekarang modal saya sudah kembali. Karena selama ini investasi dibebankan ke biaya proyek. Ada yang tidak kalah penting dari semua itu, jadi apa yang sedang saat ini saya lakukan karena saya ingin masa depan yang lebih baik untuk anak-anak saya,” ucapnya bersemangat. 

Saat ini Parongpong yang telah memiliki sebanyak 8 orang karyawan (manajemen), 5-8 internal, dan 30 karyawan outsource cukup banyak memimiki rekan kerja yang memang ahli dibidangnya untuk menunjang kelangsungan bisnis agar bisa terus berkelanjutan.

Rendy berharap, apa yang dia lakukan akan menjadi langkah awal bagi Indonesia bisa terbebas dari sampah. “Saya berharap, zero waste movement menjadi the new normal. Saya ingin membawa tumbler, belanja dengan kantong belanja sendiri, tidak menggunakan sedotan plastik, memilah sampah dan mengolahnya jadi sesuatu yang normal dilakukan sejak kecil dan menjadi kebiasaan ketika dewasa. Sehingga Indonesia terbebas dari sampah bisa terwujud,” pungkasnya.

==================================================

Rendy Aditya Wachid

  • Tempat Tanggal Lahir        : Bandung, 26 Desember 1985
  • Pendidikan Terakhir          : S2 MBA ITB
  • Nama Perusahaan         :Parongpong Recycle and Waste Management
  • Mulai Usaha                     : 26 Desember 2017

Prestasi    :

  • Satu Indonesia Awards 2018 tingkat Jawa Barat,
  • Sout East Asia Leadership Academy awards 2019,
  • Panelist Australia Awards Tackling Marine Pollution through Recycling,
  • International Conference Islamic Architectural Heritage 2019,
  • Jakarta Architecture Trianale 2018.

===================================================

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia