Ria Sarwono & Carline Darjanto : Dua Sahabat yang Sukses di Bisnis Fesyen

Ria Sarwono, Cofounder & Marketing Director Cotton Ink, dan Carline Darjanto, Cofounder & Creative Director Cotton Ink (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

youngster.id - Fashion Indonesia telah mengalami perkembangan yang pesat. Sejumlah brand lokal bahkan telah membuktikan diri mampu bersanding dengan brand internasional. Para pendirinya adalah anak-anak muda yang punya mimpi dan kreativitas yang tinggi.

Salah satu brand lokal fashion line yang tengah naik daun adalah Cotton Ink. Kesuksesan itu salah satunya terbukti lewat dibukanya butik kedua mereka di sebuah mal di Jakarta yang didominasi oleh butik-butik brand internasional.

Kesuksesan tersebut tentu tidak lepas dari peran kedua pendirinya, Ria Sarwono dan Carline Darjanto. Semuanya bermula dari mimpi keduanya untuk menciptakan sebuah brand ready to wear lokal yang terdepan, tidak hanya di negeri sendiri, tapi juga di kancah internasional.

Dalam waktu 10 tahun keduanya mampu mengembangkan Cotton Ink sebagai merek fesyen yang patut disegani di Tanah Air. Itu terbukti dari berbagai penghargaan yang mereka sabet, di antaranya Most Favorite Brand di Brightspot Market, Most Innovative Brand di Cleo Fashion Awards 2010 serta Best Local Brand 2010 dan 2012 oleh Free Magazine.

“Selama 10 tahun Cotton Ink berdiri kami selalu stay our identity. Ya, karena kami tidak pernah berusaha untuk menjadi brand lain, nggak pernah kagetan untuk ikut tren dan langsung berubah haluan. Selama 10 tahun ini kami selalu tampil dengan ciri khas sendiri dan kami benar-benar celebrating Indonesian women’s,” ungkap Ria saat ditemui youngster.id pada acara PremiumFirst Standar Charter Bank Indonesia di Jakarta.

Sedari awal, Cotton Ink membawa konsep casual with a twist, yaitu baju siap pakai sehari-hari, dengan desain yang simple. Hal itu dipertegas dengan pemilihan nama Cotton Ink yang mudah diingat.

“Dari awal kami mendesain baju-baju yang bisa dipakai untuk sehari-hari. Baju yang tidak terlalu banyak detail yang penuh akan tetapi baju dengan desain yang simple sehingga orang yang mengenakannya tidak akan terlihat berlebihan. Makanya kami pilih nama Cotton Ink sebagai nama brand fashion line, yang artinya memang sangat simple dan juga mudah diingat,” imbuh Carline.

Meski demikian, bukan berarti produk mereka pasaran. Bahkan, mereka melakukan inovasi dengan membuat variasi 4 kali lebih banyak dari produk yang bisa diberikan kompetitor. Alhasil dalam perjalanannya, Cotton Ink menjadi sebuah merek lokal yang pantas mendapat tempat di hati para pecinta fesyen.

“Yang membedakan Cotton Ink dengan produk lain adalah karena kami sangat mengerti wanita Indonesia. Kami ingin wanita Indonesia gaya, tapi tidak trying to American woman atau Europe woman tapi stay to our self. Jadi kami ingin membuat para wanita di Indonesia lebih enjoy menjadi dirinya sendiri ketika menggunakan produk kami. Tapi juga tetap terlihat gaya dan bukan sesuatu yang harus ditutup-tutupi semua,” kata Ria dengan penuh semangat.

Baca juga :   Bukalapak Ajak “Buka yang Baik” Selama Ramadan

 

Sahabat dan Bisnis

Saat ini Cotton Ink sudah memiliki 3 outlet di tiga pusat perbelanjaan ternama, yaitu Pondok Indah, Plaza Senayan dan Kota Kasablanka dan mewadahi 125 orang karyawan. Selain memiliki tiga outlet sendiri, produk Cotton Ink juga dipasarkan di empat outlet The Goods Dept. di Jakarta, Mosquerade di Medan, dan On Market Go+ di Surabaya.

Namun sebelum bisnisnya bisa sebesar itu, kedua perempuan yang bersahabat sejak duduk bersama di bangku SMP ini mulai dengan bermimpi.

Lulusan desain komunikasi itu mengungkapkan, ide awal menciptakan sebuah merek fesyen lokal bermula dari mimpi keduanya untuk menciptakan sebuah merek ready to wear lokal yang terdepan, tidak hanya di negeri sendiri, tapi juga kancah internasional.

“Jadi Cotton Ink ini kami dirikan sejak tahun 2008, dengan awal operasinya dilakukan secara online,” ujar Ria.

Gadis berkacamata ini bercerita ketika itu Carline yang memiliki latar belakang pendidikan desain fashion memutuskan untuk berbisnis dan mengajak dirinya. Ketika itu mereka baru berusia 21 tahun dan tidak memiliki pengalaman mengenai dunia bisnis. Tetapi semangat mereka untuk bisa meraih mimpi tak terbendung. Mereka ingin menjadikan Cotton Ink sebagai merek lokal dari Jakarta.

“Kalau dulu ada distro dari Bandung, kami ingin Cotton Ink jadi fashon brand yang Jakarta banget. Seperti kalau Spain punya Zara, Jepang punya Uniqlo dan Indonesia punya Cottonk Ink,” kata Ria sambil tersenyum.

Keduanya berbagi tugas. Ria mengatur strategi pemasaran sebagai brand & marketing director. Sementara urusan desain mendesain berada di tangan Carline sebagai Creative Director.

Pada saat itu dengan modal yang sangat minim hanya Rp 1 juta, maka bisnis secara online di pilih oleh keduanya. Baju yang pertama kali diproduksi oleh Cotton Ink adalah Obama Printed t-Shirt. Penjualannya saat itu melalui Facebook dan juga melalii blog, dimana dari kedua media tersebut benar-benar dimanfaatkan dengan baik untuk bisa mendapatkan konsumen. Pada saat itu yang menggunakan penjualan secara online masih sedikit dan media berpromosi pun masih sedikit, berbeda dengan keadaan sekarang ini.

Baca juga :   Kompetisi Startup Sepanjang 2016

“Baru di tahun 2010 kami ada official website, dan tahun 2015 itu baru mulai kami memiliki toko pertama. Jadi dari modal Rp 1 juta keuntungan sedikit demi sedikit kami putarkan terus,” ungkap Ria.

Dalam perjalanannya, kedua sahabat ini saling memotivasi. Bahkan di mata Ria, Carline adalah sosok yang sangat menginspirasinya. Apalagi nama Carline masuk daftar 30 tokoh muda di bawah 30 tahun versi Forbes Asia dalam kategori Retail & e-Commerce.

“Kalau ditanya siapa yang orang paling menginspirasiku, ya salah satunya Carline. Aku happy banget dia masuk daftar Forbes itu. Carline memang pantas mendapatkannya,” ungkap Ria bangga. Ia menyebut sang sahabat sebagai wanita yang visioner karena di saat bisnis berbasis online shop belum begitu marak, ia sudah menjamahnya. “Delapan tahun lalu untuk seumuran kita menurut saya belum banyak yang terpikirkan untuk bisnis online, tapi Carline sudah,” ungkap wanita kelahiran 1987 itu.

Meski bersahabat, Ria tidak memungkiri pernah bersilang pendapat dengan Carline dalam hal bisnis. “Perdebatan pasti ada apalagi di awal-awal Cotton Ink. Tapi seiring bertambahya usia, kami semakin dewasa dan mengesampingkan ego dan emosi. Semuanya toh demi kebaikan Cotton Ink,” kata Ria.

 

Ria Sarwono dan Carline Darjanto merupakan dua sahabat sejak di bangku SMP yang sukses mengembangkan bisnis produk fesyen (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Tumbuh Organik

Ria mengaku kesuksesan Cotton Ink ini karena strategi dan model bisnis mereka. “Kami bisa bilang bahwa bisnis kami ini tumbuh organik. Kami tidak pernah melakukan perang iklan atau istilahnya bakar duit. Kami membangun kepercayaan pelanggan sehingga mereka menjadi loyal cutomer secara terus menerus. Bahkan kini komunitas Cotton Ink sudah mencapai 50 ribu anggota,” katanya.

Secara keseluruhan bagi perempuan yang gemar traveling itu, prestasi Cotton Ink yang paling membanggakannya adalah membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. “Dari berdua, sampai akhirnya bisa 125 karyawan. Dulu kerja dari tempat tidur, sekarang sudah punya tiga kantor dan butik. Itu yang paling membanggakan,” tutur Ria.

Namun saat disinggung, berapa besar omset perbulan yang kini diperoleh, Ria enggan membeberkannya. “Kalau omset sudah lumayan banget tapi di sini saya nggak bisa menyebutkan angka pastinya. Sedikitnya, dalam sebulan kami dapat milyaran rupiah,” ucap Ria sambil tertawa.

Kini merek fesyen Cotton Ink mulai melebarkan sayap dengan masuk ke pasar Asia Tenggara. “Sudah menjadi rencana 5 tahun ke depan South East Asia dulu. Tapi itu sudah kami rencanakan dulu. Negaranya Malaysia, Singapura, Thailand,” ungkapnya.

Meski demikian, dia menegaskan bahwa fokus utama mereka tetap pasar dalam negeri. “Kami ingin ekspan di luar Jakarta, seperti ke Bandung, Surabaya dan Medan. Bahkan sekarang kami sudah punya toko offline di Medan,” papar Ria.

Baca juga :   Muhammad Nanda Putra : Memilih Mengembangkan Usaha yang Bisa Bantu Petani Jadi Sejahtera

Menurut Ria, meski toko online telah memperluas jangkauan pasar, namun sebagai merek fesyen mereka tetap mengedepankan toko offline. “Meski belanja online itu menyenangkan, tetapi perempuan tetap suka belanja baju dengan cara langsung. Mereka senang bisa melihat, memegang dan mencoba baju di toko. Malah kalau beli langsung yang tadinya datang rencana cuma mau beli dua akhirnya jadi empat,” kata Ria lagi.

Sebagai womanpreneur Ria mendorong semakin banyak orang untuk jadi wirausahawan. Ria mengakui bahwa membangun bisnis memang tidak mudah. Tetapi jika itu memang passion, maka jangan ragu untuk mulai berusaha.

“Yang penting mulai saja dulu. Memang tidak mudah, tetapi berdasarkan pengalaman dengan kerja keras maka pasti bisa jalan. Jika bisnis dimulai dari hal yang disukai maka tidak akan pernah merasa lelah,” pungkas Ria.

 

==================================

Ria Sarwono

  • Tempat Tanggal Lahir : Jakarta 4 Juni 1987
  • Pendidikan                 : S1 Design Communication Visual Universitas Paramadina
  • Jabatan                     : Co-founder & Brand Marketing Director Cotton Ink

Carline Darjanto

  • Tempat Tanggal Lahir : Jakarta 25 Mei 1987
  • Pendidikan                : London College of Fashion
  • Jabatan                     : Co-founder & Creative Director Cotton Ink
  • Nama Usaha        : Cotton Ink, yang bergerak di bisnis produk fesyen
  • Mulai Usaha         : 2008
  • Modal Awal          : Rp 1 juta
  • Jumlah Karyawan : 125 orang
  • Omset                 : milyaran Rupiah per bulan

Prestasi           :

  • Most Favorite Brand di Brightspot Market, 2010
  • The Most Innovative Brand dalam Cleo Fashion Award (Jakarta Fashion Week), 2010
  • Best Local Brand dari Free Magazine, 2010.
  • Dua tahun berikutnya yaitu pada tahun 2012, Cotton Ink kembali mendapatkan penghargaan sebagai m
  • Merek Lokal Favorit In Style Magazine, 2012.
  • Carline masuk daftar 30 tokoh muda di bawah 30 tahun versi Majalah Forbes Asia dalam kategori Retail & e-Commerce, 2016

==================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia