Rolly Edward Triatama : Ingin Mempermudah Gamer dan Merangkul Pengembang Game Lokal

Rolly Edward Triatama, Founder & CEO Skyegrid (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

youngster.id - Potensi industri game di Tanah Air sangatlah besar. Namun peluang ini masih dikuasai oleh para pemain asing. Belakangan ini bermunculan para pengembang game lokal. Mereka tidak saja membuat game menarik, tetapi juga mencari pemecah masalah terhadap keterbatasan dari para pemain game di Indonesia.

Perlu diketuahui, pada 2017 lalu, industri game Indonesia berada pada posisi ke-16 dalam daftar pasar game terbesar di dunia (versi Newzoo), dengan jumlah pemain mencapai 43,7 juta dan potensi penghasilan mencapai Rp 11,9 triliun.

Tak hanya itu, mulai bermunculan para pemain game profesional yang mengikuti sejumlah kompetisi e-sport tingkat internasional. Hal ini tentu harus didukung oleh lingkungan ekosistem yang mumpuni. Di tahun 2000-an, sejumlah visioner membayangkan bahwa di masa depan nanti, aktivitas gaming tak lagi membutuhkan hardware khusus seperti console dan PC. Untuk membuktikan maksudnya, beberapa pionir mencetus konsep game streaming berbasis cloud atau cloud gaming.

Namun meski 18 tahun telah berlalu, layanan gaming on demand masih belum tersedia secara merata. Berangkat dari itulah, kini hadir Skyegrid, platform game streaming pertama di Indonesia, yang dikembangkan Rolly Edward Triatama dan kawan-kawan pada tahun 2017. Kehadiran platform ini menjadi solusi bagi banyak pengguna atau pemain game di Indonesia yang memiliki keterbatasan pada perangkat.

“Selama ini, untuk memainkan game triple A, kita membutuhkan konsol game, misalnya PlayStation, Xbox, atau PC berspesifikasi tinggi. Tapi, nggak semua orang mampu membelinya. Inilah alasan saya dan teman-teman tergerak untuk menciptakan solusi bernama Skyegrid,” ucap Rolly Edward, CEO Skyegrid kepada youngster.id.

Pasalnya platform ini memungkinkan siapa saja untuk bermain game triple A  (“AAA”) dari apapun perangkat yang dimilikinya, termasuk laptop kerja biasa berbasis Windows, Macbook dan iMac, bahkan ponsel Android.

“Dengan Skyegrid, siapa pun bisa menjadi gamer AAA, tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Bermain dari mana saja, kapan saja, tanpa memusingkan perangkat yang harganya mahal, juga system requirement game yang tinggi. Ya, paling tidak punya ponsel Android, itu sudah cukup,” katanya lagi.

Bayangkan, kata Rolly, untuk memainkan sebuah game tanpa Skyegrid, seseorang harus membeli sebuah konsol game, misalnya Sony PlayStation 4 (500 GB) seharga Rp 3,5 juta, lalu perlu satu unit TV yang harga rata-ratanya Rp 2,5 juta untuk ukuran 32 inci, belum lagi game-nya yang rata-rata seharga Rp 300 ribu. Jika ditotal, seseorang tersebut harus merogoh kocek Rp 6,3 juta, hanya untuk memainkan satu game. Ia perlu menambah Rp 300-500 ribu lagi setiap kali ingin bermain game baru.

Baca juga :   Upaya UGM Lahirkan Sociopreneur

Fakta lain, Rolly memaparkan, ia dan timnya juga kerap mendapati orang-orang yang terpaksa berhenti bermain game semata-mata karena tidak sanggup lagi “mengejar” spesifikasi minimal (atau system requirement) yang dibutuhkan untuk bermain game-game AAA di PC. Pasalnya, untuk melakukan upgrade VGA, memori maupun prosesor pada desktop PC dan laptop, budget-nya tidaklah murah.

“Sehingga, investasi untuk bermain game terasa sangat mahal bagi sebagian orang. Sebab itu, kami akan mengubah cara pandang orang tentang bermain game dengan Skyegrid,” ujar Rolly.

 

Sidang Skripsi

Ternyata platform ini lahir dari hasil riset Rolly untuk bahan skripsi. Alumni Teknologi Informasi, STTI NIIT I-Tech ini rupanya melihat keterbatasan para pemain game di Indonesia, terutama saat bermain.

“Inspirasi membangun Skyegrid ini, muncul ketika saya punya Xbox dan teman punya Playstation pengin main bareng tapi nggak bisa ketemu karena beda konsol. Saya kesal dari situ, udah gitu ada yang kasih solusi dan saya nggak harus beli dan gampangnya beli aja semua konsol. Tapi gimana cara menyatukannya ini. Nah, melalui Skyegrid semua orang bisa bisa main bareng tanpa harga mahal dan langsung,” kisah Rolly.

Ide itu kemudian dia kembangkan bersama teman-temannya pada tahun 2016 dengan XenomX. Namun ide itu tidak terwujud. Baru di tahun 2017, Rolly berhasil mendapatkan tim yang solid dan melahirkan Skyegrid.

Rolly menjelaskan, dengan platform cloud gaming ini siapapun bebas memilih untuk bermain di platform yang mereka mau, selama itu OS Android (ponsel pintar, tablet), Windows (laptop, desktop PC), Mac OSX (Macbook, iMac, Mac Mini), sampai Xbox One.

“Bagi pengguna perangkat Android atau Android TV, bagi penikmat gamer bisa mengunduh Skyegrid di Play Store. Begitu pun pengguna laptop atau PC Windows 10, unduh Skyegrid di Microsoft Store, termasuk pengguna Xbox One. Sedangkan pengguna Macbook dan iMac berbasis Mac OSX, silakan unduh Skyegrid langsung dari App Store. Sementara, pengguna Windows 7 ke bawah, Linux, dan Macbook jadul, Anda bisa memainkan game-game di Skyegrid langsung dari browser Google Chrome, cukup buka www.skyegrid.id,” jelas Rolly.

Baca juga :   Gamer Jadi Target Utama Bisnis Perangkat Jaringan

Dia tidak berjalan sendiri, tetapi juga menggandeng pengembang game lokal. “Dari awal, mimpi saya agar Skyegrid bisa menjadi publisher game lokal. Saya ingin merangkul developer game lokal sebanyak-banyaknya untuk menaruh gamenya di Skyegrid, supaya bisa dimainkan gamer-gamer dari luar Indonesia. Inilah waktunya kita buktikan pada orang-orang di luar sana, bahwa Indonesia pun punya game-game yang canggih dan nggak kalah keren,” tutur Rolly.

Menurut Rolly, pada tahap awal pihaknya menyediakan lebih dari 50 judul game AAA terpopuler di Indonesia, dari sekitar 25 publisher game ternama dunia, seperti Ubisoft, CD Projekt, Epic Games, 2K, dan masih banyak lagi. “Jumlahnya akan terus kami tambah sampai 120 judul game favorit di Indonesia, pada akhir tahun ini,” ujarnya.

Keinginan Rolly menjadikan Skyegrid sebagai publisher game yang bisa merangkul para pengembang game lokal diwujudkan, salah satunya adalah dengan menggandeng Digital Happiness. Ini merupakan studio game ternama dari Bandung yang mengembangkan game horor, salah satunya yang sempat viral di medio 2014 berjudul DreadOut. “Justru itu, hadirnya Skyegrid tak hanya melihat dari segi persaingan bisnis saja jika ada platform lain yang sama dengan kami. Tetapi tujuan hadirnya kami di sini, khususnya dengan para pengembang lokal yang sama, lebih tepatnya ingin berkolaborasi untuk memajukkan industri game di Tanah Air,“ kata Rolly menegaskan.

 

Melalui Skyegrid, Rolly Edward ingin memberikan kemudahan bermain game kepada para gamer, sekaligus ingin merangkul para pengembang game lokal (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Banyak “PR”

Untuk mewujudkan mimpinya itu, pemuda kelahiran Jakarta 1 Agustus 1984 ini mengklaim, bahwa saat ini selain bisa dimainkan oleh gamer-gamer dari Sabang sampai Merauke, tetapi Skyegrid juga sudah bisa dimainkan di sejumlah negara tetangga. Termasuk di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

“Di sinilah, para pengembang game lokal bisa unjuk gigi. Kami akan membantu mereka semaksimal mungkin dalam memasarkan karya atau game-game mereka ke luar Indonesia agar karyanya lebih dikenal gamer-gamer internasional dan laris terjual,” kata Rolly.

Dengan begitu, Rolly kembali menegaskan, Skyegrid siap mendukung ekosistem game lokal sepenunya dengan membuka ruang seluas-luasnya pada para pengembang game lokal yang ingin memasarkan karyanya melalui Skyegrid.

Kehadiran Skyegrid mendapat dukungan dari Pemerintah, terutama dari Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Badan Ekonomi Kreatif. Hal itu membuat Rolly semakin percaya diri. Namun dia mengakui bahwa masih banyak “pekerjaan rumah” (PR) yang harus dituntaskan dalam waktu dekat. Salah satunya implementasi IGRS (Internet Game Rating Indonesia).

Baca juga :   Ingin Merasakan Sensasi Jadi Pengusaha Hebat? Coba Game “Juragan Hotel”

“Kami nggak boleh senang dulu, meski Skyegrid sudah diluncurkan. Tapi secara bertahap, Skyegrid akan mengimplementasikan sistem rating game berdasarkan usia dan kontennya sesuai anjuran Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia nomor 11 Tahun 2016, tentang Klasifikasi Permainan Interaktif Elektronik,” ucapnya.

“Kami pun menaruh perhatian pada dampak video game, terutama pada anak-anak. Untuk itu, kami harus segera melakukan klasifikasi game-game di dalam Skyegrid sesuai anjuran Menkominfo, yakni berdasarkan konten. Misalnya kekerasan, porno, dan narkotika. Termasuk berdasarkan usia mulai dari semua umur, kelompok usia 3 tahun ke atas, hingga kelompok usia 18 tahun ke Atas. Jadi masih banyak juga PR yang sedang kami kerjakan,” ungkap Rolly.

Rolly juga memastikan seluruh game yang ada di platform ini telah lulus uji sistem rating global, yakni Entertainment Software Rating Board (ESRB). Seperti diketahui, ESRB merupakan badan swakelola asal Amerika Serikat yang membuat penilaian (rating) video game berdasarkan usia dan konten secara rutin.

“Jadi selain IGRS, kami juga akan melakukan roadshow ke studio-studio pengembang game lokal di Indonesia. Selain itu, rencana pengembangan lain banyak banget dan kami masih menunggu jaringan koneksi lebih jauh lagi dan harus siap-siap,” katanya.

Pemuda yang murah senyum ini yakin bahwa usaha ini akan berkembang pesat. Rolly menetapkan di akhir tahun 2018 akan dapat merebut hati 20% pemain game. “Targetnya nggak muluk-muluk karena Skyegrid ini baru kami luncurkan. Sampai akhir tahun 2018 nanti ada 20 ribu penikmat game bisa bergabung melalui platform ini atau sebesar 20% pertumbuhannya hingga akhir tahun nanti,” ucap Rolly optimis.

 

==================================

Rolly Edward Triatama

  • Tempat Tanggal Lahir : Jakarta 1 Agustus 1984
  • Pendidikan  Terakhir   : S1 Teknologi Informasi, STTI NIIT I-Tech
  • Nama Usaha              : Skyegrid
  • Jabatan                     : Founder & CEO
  • Jumlah Karyawan       : 10 orang

====================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia