Saatnya Perempuan Menjadi Pencipta Teknologi

(Kiri-Kanan) Lucia Budidharma, Retail Planning Senior Manager PT Johnson & Johnson Indonesia; Novi Tandjung, Business Development Director di Spots ID; Riris Paula Pardosi, Hospital and Vision Care DC Operations Manager, PT Johnson & Johnson Indonesia; dan Pravina Halim, Senior Marketing Communications Manager Microsoft Indonesia. (Foto: Istimewa/youngster.id)

youngster.id - Saat masyarakat Indonesia bergerak lebih jauh dalam Revolusi Industri Keempat, menjadi penting bagi generasi muda untuk bertransisi dari sekedar pengguna teknologi, menjadi pencipta teknologi.

Itulah poin utama yang mengemuka dari gelaran workshop DigiGirlz bertajuk “Towards Indonesia 4.0: Be the Creators of Technology”. Workshop itu digelar oleh Microsoft Indonesia bersama dengan Johnson & Johnson Indonesia, PT Astra International Tbk, Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim (YPA-MDR), dan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) hari ini mengadakan workshop

Rangkaian acara ini menghadirkan pemimpin-pemimpin wanita di industri STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematic) untuk mendiskusikan berbagai topik menarik di hadapan para peserta.

“Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu dari 10 prioritas nasional yang sejalan dengan roadmap Making Indonesia 4.0 yang diluncurkan Kementerian Perindustrian April lalu. Kami berharap program DigiGirlz dapat menjadi salah satu pendorong dalam rencana nasional ini, dengan memberikan kesempatan langsung bagi para siswi di Jakarta dan sekitarnya untuk mendalami lanskap digital di Indonesia dan meningkatkan ketertarikan mereka untuk menekuni karir di industri STEM,” ujar Linda Dwiyanti, Chief of Marketing and Operations Microsoft Indonesia, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (15/8/2018).

Baca juga :   Peroleh Pendanaan, Startup Ini Perluas Jangkauan dan Layanan

Menurut Linda, saat ini jumlah perempuan yang mengambil pendidikan dan pekerjaan dalam bidang STEM masih terbilang rendah, meskipun teknologi telah berkembang pesat selama beberapa dekade terakhir. Institute for Statistics (UIS) UNESCO memperkirakan bahwa hanya terdapat 23% peneliti wanita di Asia Timur dan Asia Pasifik dan hanya 35% siswi perempuan yang memilih pendidikan di bidang STEM.

“Salah satu alasan ketidakseimbangan ini adalah karena kurangnya tokoh panutan perempuan yang dapat menginspirasi dan memengaruhi kepercayaan diri perempuan muda untuk terjun ke dunia STEM,” ucapnya.

Studi Microsoft dan IDC terbaru yang berjudul “Unlocking the Economic Impact of Digital Transformation in Asia Pacific” juga menunjukkan bahwa 85% pekerjaan di Asia Pasifik akan mengalami transformasi dalam tiga tahun ke depan. Para responden dalam studi mengatakan bahwa lebih dari 50% pekerjaan akan dipindahtugaskan ke posisi baru dan/atau dilatih ulang dan ditingkatkan keterampilannya untuk transformasi digital. Yang menarik adalah bahwa studi ini menunjukkan bahwa 26% pekerjaan merupakan jenis pekerjaan baru yang diciptakan dari transformasi digital, yang akan mengimbangi 27% pekerjaan yang akan dialihdayakan atau dikerjakan secara otomatis.

Baca juga :   Teknologi Komputasi Awan Diprediksi Jadi Tren Mesin Printer

“Setiap orang harus mulai mengubah pola pikir mereka untuk mengembangkan keterampilan digital di era Revolusi Industri Keempat ini. Tidak ada waktu yang lebih baik selain pada momen kemerdekaan Indonesia untuk merayakan keragaman dan potensi luar biasa para perempuan muda dengan memberikan dukungan bagi mereka untuk menekuni pendidikan dan karir di STEM. Ini waktunya bagi perempuan untuk menjadi pencipta teknologi,” tutup Linda.

 

HENII T. SOELAEMAN