Startup Bisnis Primadona Anak Muda di Indonesia

(ki-ka) Octa Ramayana Head of Research, Digitaraya, Agus Sari CEO, Landscape Solar, Nicole Yap VP Strategy, Digitaraya, Stanley Ng Program Manager, Nexus SEA, dan Paul Butarbutar Director Green Finance Asia, South Pole Group. (Foto: Kibar/youngster.id)

youngster.id - Usaha rintisan alias startup tengah menjadi primadona di kalangan anak muda. Percepatan bisnis mereka bahkan sudah dilirik investor, hal ini terbukti dengan besarnya pendanaan yang dikucurkan pada tahun 2018 untuk bisnis ini.

Vice President Strategy Digitaraya Nicole Yap mengungkapkan, tahun 2018 merupakan periode penting bagi perkembangan industri usaha rintisan (startup) di dalam negeri. Riset yang dilakukan oleh platform media e27 menunjukkan ada sekitar 840 startup baruyang dibentuk oleh anak bangsa pada 2018.

“Tahun kemarin menjadi tahun besar bagi startup Indonesia. Dunia startup di Indonesia terus berkembang pesat. Sekarang ini hampir 70% milenial di Indonesia berkeinginan menjadi seorang entrepreneur,” kata Nicole dalam keterangannya, Rabu (30/1/2019) di Jakarta.

Dalam diskusi bertajuk 2019 Industry Insights: Exploring the Landscape of Indonesia’s Digital Startup Economy Nicole juga menyampaikan beberapa peluang di industri startup Tanah Air pada tahun ini.

Pertama, Indonesia dan negara lainnya di Asia Tenggara memiliki peran penting dalam rantai pasok global, misalnya makanan, layanan kesehatan, dan manufaktur. Hal ini sejalan dengan investasi yang masuk ke startup di bidang tersebut.

Baca juga :   Gojek Dorong Kesejahteraan Mitra Berkelanjutan

Kedua, berdasarkan perhitungan pertumbuhan investasi dari tahun sebelumnya, pada tahun ini diharapkan pendanaan yang masuk ke pelaku usaha rintisan di Indonesia mencapai US$9 miliar—US$10 miliar atau sekitar Rp126 triliun—Rp140 triliun.

Ketiga, Jakarta menjadi ibukota startup di Asia Tenggara menggantikan Singapura. Hal ini terlihat dari jumlah transaksi dan investasi yang terjadi.

Sementara itu, berdasarkan perspektif ekosistem, faktor yang mendorong proyeksi industri startup di dalam negeri pada tahun ini, yaitu ekonomi digital Indonesia yang mengalami pertumbuhan tercepat dan terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Sementara itu Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf menyampaikan berdasarkan riset yang dilakukan Goole dan Temasuk berjudul e-Conomy SEA 2018, nilai pasar ekonomi digital Indonesia pada tahun 2018 mencapai US$27 miliar.

Jumlah tersebut jauh berada di atas negara-negara lain di kawasan regional. Pada tahun yang sama, nilai pasar ekonomi digital Malaysia sebesar US$8 miliar, Filipina US$5 miliar, Singapura US$10 miliar, Thailand US$12 miliar, dan Vietnam sebesar US9 miliar.

“Dengan jumlah seperti itu, Indonesia menjadi negara yang hot bagi para investor di bidang digital. Oleh sebab itu prediksinya pada tahun mendatang Indonesia akan terus melesat jauh dari negara lainnya [di Asia Tenggara,” katanya.

Baca juga :   Pasar Tanah Abang Masuk Marketplace

Menurut Nicole, dari jumlah tersebut terdapat 46 startup yang telah meraih pendanaan lebih dari US$4 miliar atau sekitar Rp56 triliun.
Dia melanjutkan bahwa hal tersebut didorong oleh tren anak muda dalam negeri yang tertarik menjadi pengusaha dan terlibat dalam industri startup. Menurutnya, hampir 70 generasi milenial di Indonesia memiliki minat tehadap industri ini.

Usaha rintisan yang paling banyak menerima guyuran investasi berasal dari kategori e-commerce, fintech, solusi bisnis, pendidikan, dan teknologi kesehatan.

Dalam kesempatan ini, Nicole juga mengumumkan format baru untuk program akselerator mereka di tahun 2019. Format baru ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak startup.

“Dengan senang hati kami memperkenalkan format baru dari program akselerator Digitaraya batch ke-2. Harapannya dapat menjangkau lebih banyak startup yang memiliki potensi tinggi serta dapat membuka koneksi mereka dengan para investor dan partner yang tepat. Sehingga dapat meningkatkan dampak yang lebih baik bagi Indonesia,” pungkas Nicole.

STEVY WIDIA