Strategi Tokopedia Untuk Bertahan Bukan Diskon

William Tanuwijaya Co-Founder dan CEO Tokopedia. (Foto: Stevy Widia/youngster.id)

youngster.id - Pertumbuhkan bisnis e-commerce di Indonesia semakin pesat dengan persaingan yang semakin ketat. Tokopedia yang telah berusia satu decade ingin perusahaannya tumbuh berkelanjutan (sustainable). Untuk itu, unicorn Tanah Air ini pun tak hanya mengandalkan promosi seperti diskon.

CEO Tokopedia William Tanuwijaya mengatakan, pihaknya akan fokus memperluas pasar bagi mitra penjual termasuk ekspor. Untuk bisa mencapai target itu, Tokopedia tidak mengandalkan promosi seperti Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) dalam meningkatkan transaksi. Perusahaannya justru mendorong pengguna untuk terbiasa berbelanja online melalui kampanye seperti ‘Ciptakan Peluang’, ‘Sudah Cek Tokopedia Belum’, dan ‘Mulai Aja Dulu’. Tahun depan,

“Kami selalu percaya e-commerce itu seharusnya suistainable karena kami membantu bisnis untuk bertumbuh,” kata William dalam acara Super Ecosystem Tokopedia belum lama ini di Djakarta Theater, Jakarta.

Tokopedia memperkirakan nilai transaksi di platform-nya (gross merchandise value/GMV) tembus Rp 222 triliun pada tahun ini. Nilai itu setara 1,5% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Terhitung sejak Mei lalu, GMV di Tokopedia mencapai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,1 triliun per bulan.

Baca juga :   Pameran Inovasi Produk Pangan Mahasiswa FTP Unej

“Jadi (strategi bisnis kami) semuanya adalah tentang kebiasaan, bukan tentang diskon. Ketika perusahaan kami harus membuat kampanye yang sifatnya promosi sekalipun, kami mengambil budaya masyarakat Indonesia sendiri, yang memang lebih bermakna bagi mereka,” William.

Untuk bisa mengubah kebiasaan masyarakat dari belanja offline ke online, Tokopedia mempelajari budayanya. Contohnya, perusahaan e-commerce ini bakal memaksimalkan transaksi selama Ramadan karena konsumen di Indonesia banyak berbelanja pada periode ini.

Dengan strategi ini, ia berharap laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (earnings before interest, taxes, depreciation and amortization/EBITDA) bisa positif tahun depan. Selain itu, Tokopedia bakal berfokus menyasar pasar Indonesia. Apalagi, pengguna aktif telah mencapai 90 juta per akhir tahun lalu.

“Kami melihat potensi (bisnis perusahaan) yang terbesar itu ada di masyarakat perdesaan. Jadi dengan strategi berikutnya, kami akan ‘Go Local’ bukan ‘Go Global’. Kami merasa bahwa Boyolali lebih penting dan berpotensi daripada Bangkok, misalnya. Surakarta lebih penting dan berpotensi daripada Singapura,” katanya.

Menurut William, ada sekitar 100 juta masyarakat di Indonesia yang tinggal di perdesaan. Melihat potensi itu, menurutnya, perusahaan bisa membantu para pengusaha desa dan nasional untuk memperluas pasar. Dengan begitu, Tokopedia bisa berkontribusi maksimal terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Tanah Air. “Kami menargetkan hingga 10 tahun ke depan, Tokopedia bisa berkontribusi hingga 5% terhadap perekonomian di Indonesia,” kata dia.

Baca juga :   IRX Ajang Multikanal Bagi Peritel dan e-Commerce

STEVY WIDIA