Venturra Capital Investasi di Startup Untuk Tiga Bisnis

Managing Partner Venturra Capital yakni John Riady, Rudy Ramawi dan Stefan Jung. (Foto: istimewa/youngster.id)

youngster.id - Perusahaan modal ventura yang bernaung di bawah Lippo Group, Venturra Capital akan fokus berinvestasi pada tiga vertikal bisnis rintisan yaitu e-commerce, fintech, dan edtech.

Managing Partner Venturra Capital Rudy Ramawy mengatakan, penyertaan modal pada perusahaan rintisan teknologi memiliki pola yang berbeda dengan investasi pada umumnya.

“Berinvestasi pada startup, bukan semata melihat model bisnis yang dijalankan, melainkan turut mempertimbangkan gagasan yang diajukan pendirinya. Kalau menemukan founder dengan gagasan yang cocok kami selalu coba berinvestasi,” ungkap Rudy pada gelaran Indonesia Summit 2018 di Jakarta belum lama ini.

Menurutnya, penyertaan modal pada perusahaan rintisan teknologi memiliki pola yang berbeda dengan investasi pada umumnya. Berinvestasi pada startup, ujarnya, bukan semata melihat model bisnis yang dijalankan, melainkan turut mempertimbangkan gagasan yang diajukan pendirinya.

“Kuncinya bukan, berarti mengincar e-commerce, fintech, edutech atau apa, bukan begitu. Intinya di mana ada perubahan pola konsumen, model bisnis tentu perlu menyesuaikan, penyesuaian itu bisa dilakukan dengan berinvestasi pada startup,” ujarnya.

Baca juga :   JobSmart Hadirkan Aplikasi Mobile

Venturra Capital seperti diketahui merupakan modal ventura yang turut berinvestasi pada beberapa perusahaan rintisan teknologi yang berkedudukan di Indonesia, Singapura, Vietnam, dan Thailand. Beberapa di antaranya seperti Luno, Ruangguru, dan MatahariMall.

Rudy juga menyatakan perusahaannya berinvestasi pada perusahaan rintisan yang turut dapat membantu pengembangan inovasi pada bisnis inti Lippo Group.

“Saya rasa itu bukan hanya dilakukan Lippo Group, banyak grup besar lain yang berinvestasi pada startup agar membantu bisnis utamanya agar cepat menyesuaikan pola perubahan perilaku konsumen,” ujarnya.

Rudy juga menyatakan perusahaannya berencana kembali berinvestasi pada beberapa perusahaan. Hanya saja beberapa perusahaan itu tidak hanya beroperasi di Indonesia, melainkan pada sejumlah negara lain di Asia Tenggara.

“Ada beberapa yang menarik, tapi kami tidak ingin membatasi investasi hanya pada ekosistem digital Indonesia. Bisnis teknologi itu borderless, di mana ada ide bagus kita mesti cepat belajar untuk adopsi dan terus kembangkan lagi,” ujarnya.

 

STEVY WIDIA